Dua Puluh Lima Tahun “Pertransiit Benefaciendo”

279
Mgr. Petrus Turang (jubah tengah) menutup PESPARANI Tingkat Provinsi NTT tahun 2018
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – “Pertransiit Benefaciedo” yang berarti “Dia berjalan sambil berbuat baik” adalah moto tahbisan Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang.

MOTO ini dipilih ketika tahun 1997, ia menerima rahmat tahbisan episkopal sebagai Uskup Coajutor Keuskupan Agung Kupang (KAK).  Moto yang diambil dari teks Kisah Para Rasul 10:38 ini, menjadi dasar dan spirit yang menuntun dan menyemangati Mgr. Turang, yang waktu itu merupakan pribadi yang asing bagi sebagian besar umat di KAK.

Meski demikian, bagi Mgr. Turang, wilayah KAK bukanlah daerah baru. Sebab sejak menjabat sebagai Sekretaris Komisi Pengembangan Sosial Ekonomi (Komisi PSE) dan Direktur Nasional Karya Kepausan Indonesia (KKI) Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI), ia telah berualng kali mengunjungi beberapa paroki yang berada di wilayah KAK.

Mgr. Petrus Turang (tengah) meninjau lahan Keuskupan Agung Kupang.

Dengan wilayah pelayanan yang luas, keberagaman kondisi dan situasi sosial budaya umat, tentu menjadi persoalan dan tantangan sendiri. Pendekatan kontekstual yang menitikberatkan pada kebutuhan riil umat menjadi kekhasan Uskup.

Sejak awal masa penggembalaannya, Mgr. Turang senantiasa mengajak KAK untuk membangun diri atas dasar iman kepada Kristus, yang diterima melalui rahmat Baptisan. Karena melalui Baptisan, semua mendapat tugas dan misi yang sama dari Kristus yakni diutus untuk mewartakan Injil. Iman akan Kristus perlu dinyatakan dalam persekutuan hidup Kristiani.

Kristalisasi dan Refleksi

Pertransit Benefaciendo merupakan kristalisasi dari refleksi mendalam Mgr. Turang, yang menyata dalam setiap karya pelayanan. Dengan berjalan tentu akan dipertemukan dengan hal-hal yang baru dan orang-orang yang baru.

Dalam kunjungan terdapat perjumpaan. Perjumpaan antara uskup dan umatnya, antara gembala dan domba-dombanya yang mampu memberikan insight bagi keduanya. Dari perjumpaan tersebut, lahirlah dialog yang mengantar pada pengenalan, keakraban dan kedekatan, serta kemampuan untuk memahami tiap persoalan yang dihadapi umat di wilayah ini.

Sebagai pribadi yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Sekretaris PSE dan Ketua KKI KWI, Mgr. Turang tentu memiliki pendekatan tersendiri dalam melihat keterbatasan dan persoalan umatnya. Dengan latar belakang tersebut, Mgr. Turang lalu mengajak umatnya untuk memelihara, merawat dan mengelola hasil alamnya secara bijak. Alam, lingkungan dan manusia hendaknya hidup selaras agar keduanya mampu saling mengisi tanpa merugikan satu sama lain.

Semangat Persekutuan

Sejak ditahbiskan menjadi Uskup, salah satu fokus pastoralnya adalah Persekutuan Hidup Kristiani yang Mandiri dan Setiakawan dalam Semangat Perutusan yang saling Melayani.

Semangat persekutuan pertama-tama hadir dalam keluarga yang mana menjadi tempat tumbuhnya saksi-saksi iman. Semangat persekutuan ini lalu menyebar dalam persekutuan Kelompok Umat Basis (KUB) yang berjalan bersama menghayati akan pentingnya kesetiakawanan dalam hidup Gereja dan masyarakat.

Cita-citanya, dengan memperdayakan kelompok Basis, agar semakin mandiri, bersahabat secara tulus dan berpihak kepada orang kecil, lemah, miskin dan tersingkir serta terus bekerja sama demi tercapainya kesejahteraan bersama sebagai umat merupakan sebuah pemaknaan atas perutusan dalam semangat saling melayani dan memberi.

Selain itu, keluarga, KUB dan paroki yang menjadi tempat awal terjadinya pendidikan dan pembinaan iman yang kelak menghadirkan para calon imam, para calon gembala yang akan berkarya di KAK. Hal ini ditandai dengan semakin suburnya benih-benih panggilan untuk hidup sebagai seorang imam diosesan. Terbukti sejak tahun 1997 yang imam diosesan berjumlah 38 orang, kini telah bertambah 100 orang dengan jumlah keselurahn 138 imam diosesan dan 16 diakon yang tersebar di 38 gereja paroki dan 7 kuasi paroki yang ada di wilayah KAK.

Mgr. Petrus Turang sedang menanam pohon. (Foto: KAK)

Pendidikan dan pembinaan iman dalam keluarga, KUB dan paroki bukan saja menghasilkan para calon imam tetapi juga melahirkan para calon pemimpin yang kelak terlibat secara aktif dalam seluruh gerak pastoral di KAK dan berkarya bukan saja bagi Gereja tetapi bagi bangsa dan negara.

Pembinaan iman bagi kelompok-kelompok kategorial di dalam Gereja seperti Serikat Anak Misioner (SEKAMI), Orang Muda Katolik (OMK) dan lain sebagainya mendapat perhatian khusus dari Uskup. Salah satu contohnya ialah pembangunan Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo. Tujuan didirikannya Taman Ziarah ini ialah agar semakin berkembangnya pembinaan iman bagi umat di wilayah KAK.

Hal ini terungkap ketika Mgr. Turang memberkati Taman Ziarah ini. “Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo bukan saja tempat berdoa dan berziarah tetapi juga menjadi tempat pengembangan iman umat khususnya bagi para kaum muda”.

Orang Muda

Lebih jauh, kecintaan dan dukungan Mgr. Turang dalam pembinaan iman umat khususnya orang muda ditandai dengan diadakannya Temu Orang Muda setiap tiga tahun sekali. Temu OMK yang pertama dilaksanakan di Kota Kupang tahun 2005 yang bertepatan dengan Tahun Liturgi “Misa, Misi dan Orang Muda”,  Kab. Alor Tahun 2009, Kab. Timor Tengah Selatan; Soe tahun 2012 dan Oinlasi tahun 2015 dan kembali dilaksanakan di Kota Kupang tahun 2018 yang disatukan dengan Kegiatan Tamu Orang Muda Katolik tingkat Regio Nusra yang dihadiri oleh OMK dari seluruh kesukupan yang ada di Regio Nusra.

Di sisi lain, Gereja yang hidup di dunia, berziarah bersama umat dihadapkan dengan kenyataan kemajemukan dan keberagaman. Dalam konteks KAK yang memiliki umat yang berdomisili di Kota Kupang, Kab. Kupang, Kab. Timor Tengah Selatan, Kab. Rote Ndao, Kab. Sabu Rai Jua dan Kab. Alor dengan luas wilayah penggembalaan 12.130,15 km tentu memiliki kehasan dan tantangannya masing-masing. Kekhasan baik dari segi seni, budaya dan kearifan lokal menjadi unsur perekat duniawi di kalangan umat.

Namun, terdapat juga tantangan-tantangan yang dihadapi selain persoalan sosial ekonomi ialah kenyataan kemajemukan umat. Umat yang hidup bersama dengan sesama yang lain yang berbeda-beda rentan terjadinya pepecahan atas dasar perbedaan suku, ras, agama dan budaya karena hal-hal ini merupakan bagian dari identitas manusia.

Kerentanan ini hanya bisa direkatkan dengan sikap toleransi, pengakuan akan kehadiran yang berbeda dan mengedepankan sikap persatuan serta persaudaraan sebagai sesama manusia. Kebersamaan dalam dunia sebagai saudara bukan saja terbatas pada persaudaraan iman tetapi persaudaraan sebagai sesama manusia. Dengan demikian, segala hal yang mendatangkan perpecahan dapat dihindari, diminimalisir dan bahkan dihilangkan dalam relasi sosial antara sesama umat beragama dan umat beragama lain.

Dengan pada fakta refleksi akan kenyataan dan kebutuhan umat yang diperoleh Uskup ketika berkunjung ke seluruh rumah ibadah yang ada di wilayah pastoralnya dari gereja kapela, gereja stasi, gereja kuasi paroki dan gereja paroki merupakan tanda nyata bahwa ia sungguh menghidupi moto tahbisan episkopalnya. “Dia berjalan sambil berbuat baik”.

Konteks Partoral

Berdasarkan kunjungan dan perjumpaannya dengan umat inilah yang memampukan Mgr. Turang mengambil arah pastoralnya yang bersifat dinamis dan responsif, melihat konteks perkembangan yang terjadi di masyarakat dan umat KaK.

Arah dasar pastoral ini mengacu pada cita-cita Gereja sebagai persekutuan (communio). Terhitung selama 25 tahun tahbisan, Mgr. Turang, telah melaksanakan empat kali Musyawarah Pastoral (MUSPAS).

Pertama, “Persekutuan hidup Kristiani yang mandiri dan setiakawan dalam semangat perutusan yang saling melayani” tahun 2002-2007.

Kedua, “Kepelayanan sosial prinsip tanggung jawab dan tantangan keterlibatan sosial Gereja” tahun 2018-2012.

Tampak Mgr. Petrus Turang (jubah putih) menemani seorang tamu istimewa.

Ketiga, “Tumbuhnya keluarga Kristiani yang memiliki kesadaran bersama dalam perjalanan hidup sebagai satu persekutuan gerejawi KAK guna menanggapi tantangan kehidupan iman dan kehidupan sosial ekonomi di tengah umat manusia dan alam semesta” tahun 2016-2019.

Keempat, “Gereja Katolik Keuskupan Agung Kupang Berjalan bersama dengan semangat Injil menuju Kerajaan Allah dalam bingkai pergumulan kerajaan kemanusiaan”.

“Dia berjalan sambil berbuat baik” sebuah refleksi yang mendalam yang memberikan spirit untuknya pada setiap karya pelayaan Mgr. Turang. Semangat yang mengikat dan mengeratkan seluruh umat untuk berjalan bersama-sama dan berbuat baik bersama-sama yang mana bersumber pada Injil agar kerajaan Allah dapat dirasakan kini dan disini, di dunia ini.

Spirit dari moto ini tidak berhenti pada semangat Uskup semata tetapi dimaknai dan dihidupi dalam kehidupan sehari-hari umat dan “menjalar” sampai pada setiap orang yang mengenal Mgr. Turang.

Hal inilah yang membuat Mgr. Turang menjadi bapa rohani bagi semua umat beragama dan juga pemerintah.

Valentinus Dile Keyn (Kupang)

HIDUP, Edisi No. 31, Tahun ke-76, Minggu, 31/7/2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here