Ketua Lembaga Biblika Indonesia, Romo Albertus Purnomo, OFM: Mamon untuk Kerajaan Allah

191
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Minggu, 18 September 2022 Minggu Biasa XXV Am.8:4-7; Mzm.113:1-2, 4-6, 7-8; 1Tim.2:1-8; Luk.16:1-13 (panjang) atau Luk.16:10-13 (singkat).  

 “MONEY is a terrible master but an excellent servant” (Uang adalah tuan yang mengerikan tetapi pelayan yang sangat baik). Kutipan ini terpampang dengan jelas dalam latar video musik Lisa dari group K-Pop Blakcpink yang berjudul “Money” (2021). Terkesan sederhana, tetapi bermakna mendalam.

Uang telah menjadi bagian esensial orang modern. Semua membutuhkan uang, termasuk gereja. Sebab, uang membuat segala aktivitas, dari perekonomian sampai keagamaan, dapat berjalan dengan baik. Uang itu netral, sekaligus berbahaya. Namun, bahaya atau tidaknya uang, tergantung dari persepsi dan sikap orang yang menggunakannya. Jika orang tidak dapat mengontrol uang, maka uang menjadi tuan yang mengerikan. Sebaliknya, jika orang dapat mengendalikan uang, maka uang akan menjadi pelayan yang baik.

Dalam Alkitab, uang, atau lebih tepatnya, harta milik termasuk topik yang sering dinilai oleh para nabi. Nabi Amos adalah salah satunya. Berkarya di Kerajaan Israel, nabi ini mengkritik raja Yerobeam II dan para bangsawan, kaum elite, yang menindas dan merampas orang miskin demi menimbun harta. Meski mereka adalah penyembah TUHAN, tetapi tingkah lakunya seperti orang yang tidak mengenal TUHAN. Mereka sebenarnya pengabdi harta. Sebab, mereka melakukan penipuan dalam berdagang demi menambah harta mereka: “Kita akan memperkecil takaran, menaikkan harga, dan menipu dengan neraca palsu” (Am. 8:5). Bahkan, orang miskin pun yang tidak bisa membayar hutang, dibeli dengan harga sepasang kasut (Am.8:6). Sungguh menyedihkan sekaligus memalukan.

Menurut nabi Amos, TUHAN tidak dapat menerima penindasan dan ketidakadilan yang merajalela di Kerajaan Israel. “Aku tidak akan melupakan untuk seterusnya segala perbuatan mereka” (Am. 8:7). Ada saatnya TUHAN menghukum perbuatan jahat mereka. Dan benar terjadi. Kerajaan Israel (Utara) akhirnya dihancurkan oleh kerajaan Asyur (722 SM).

Sama halnya dengan nabi Amos, Yesus juga mengkritik mentalitas para pengabdi dua tuan: Allah dan Mamon. Setelah mengajar pentingnya untuk bersikap cerdik, bijak, dan solutif ketika menghadapi masa-masa krisis dan sulit dalam perumpamaan tentang bendahara yang tidak jujur, Yesus berbicara tentang bahaya Mamon. Mamon adalah kata dalam bahasa Aram yang menunjuk pada harta milik atau uang.

“Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon” (Luk. 16:13). Perkataan Yesus ini, kiranya bermaksud demikian. Kita dapat memilih: mengabdi Allah atau mengabdi uang/harta, tetapi tidak dapat mengabdi dua-duanya sekaligus. Totalitas pengabdian akan terbelah. Kita bebas memilih siapa tuan yang kita abdi. Dan tentunya, setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Ada yang memilih hidup demi mengejar uang. Jika sampai uang menjadi tuannya, maka orang itu bisa saja menipu, memanipulasi, dan menjatuhkan rekan kerja, sahabatnya, atau bahkan orang tuanya sendiri, sekali lagi, demi uang.

Tetapi, para murid Yesus, termasuk kita sekarang ini, seharusnya memilih Allah sebagai tuan. Hanya dengan demikian, maka Mamon (uang) akan menjadi pelayan terbaik kita. Meski uang perlu kita cari untuk mendukung kehidupan kita, tetapi jangan sampai terobsesi secara berlebihan sampai-sampai melupakan Allah, keluarga, dan sahabat.

Yesus tidak pernah menolak uang. Buktinya, dalam kelompok kedua belas rasul, Yudas Iskariot adalah bendahara kas bersama mereka. Yang ditolak Yesus sebenarnya adalah kelekatan ekstrim yang akhirnya melahirkan pemujaan berlebihan terhadap uang dan harta. Sementara itu, yang ditekankan Yesus adalah bagaimana menggunakan Mamon tersebut untuk melayani orang lain. Ingat, uang dan harta sejatinya berasal dari dan milik Allah. Dia bisa mengambil kapan saja, jika Dia menghendaki. Dan kita sejatinya hanyalah pengelolanya untuk kebaikan diri kita dan mereka di sekitar kita. Karena Mamon itu berasal dari Allah, maka kita perlu menjadikannya sebagai pelayan kita, bukan tuan kita, dan memanfaatkan Mamon untuk Kerajaan Allah.

 “Uang itu netral, sekaligus berbahaya. Namun, bahaya atau tidaknya uang, tergantung dari persepsi dan sikap orang yang menggunakannya.”

HIDUP, Edisi No. 38, Tahun ke-76, Minggu, 18 September 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here