Sepuluh Tahun Episkopal Mgr. Pius Riana Prapdi: Berjalan Bersama Umat di Bumi Kayong

82
Mgr. Pius Riana Prapdi
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – MELAYANI umat di Keuskupan Ketapang tidak mudah. Wilayah pastoralnya luas, meliputi dua kabupaten: Ketapang dan Kayong Utara. Dulu, sebelum terbentuknya Kabupaten Kayong Utara, wilayah Kabupaten Ketapang sangat luas dengan medan pastoral melewati darat, sungai, dan jalan kaki.

Belum lagi dihitung, wilayah pastoral Keuskupan Ketapang jauh lebih luas dari wilayah pastoral keuskupan se-Provinsi Kalimantan Barat (Kalbar). Luas wilayah jauh melebihi luas wilayah Keuskupan Sanggau, Sintang, bahkan Keuskupan Agung Pontianak.

Dengan membawahi dua kabupaten, dan menjadi keuskupan terluas di Kalimantan Barat yaitu 35.809 kilometer, maka bisa dipahami kalau tanggung jawab pastoral begitu besar. Tanggung jawab ini tidak saja soal administrasi, finansial, tetapi juga bagaimana kehadiran tenaga pastoral di tengah umat beriman.

Semangat Para Rasul

Di tengah dinamika keuskupan yang demikian, Paus Benedictus XVI menunjuk Vikaris Jenderal Keuskupan Agung Semarang, Pastor Pius Riana Prapdi sebagai Uskup Ketapang. Pada 9 September 2012, ia ditahbiskan sebagai uskup dengan penahbis utama sang pendahulu, Mgr. Blasius Pujaraharja dan ko-konsekrator Uskup Agung Pontianak, Mgr. Hyeronimus Bumbun, OFM Cap, serta Uskup Agung Semarang (KAS) saat itu, Mgr. Johannes Pujasumarta.

Hadir dalam acara ini, Nunsio Apostolik Mgr. Antonio Guido Filipazzi. Dalam pesannya, sebagaimana dimuat dalam HIDUP edisi 35, tahun 2012, Mgr. Filipazzi mengatakan, Prapdi diangkat sebagai Uskup Ketapang oleh Paus Benediktus lewat bBulla tertanggal 25 Juni 2012.

“Gereja Katolik terlihat sebagai keluarga besar. Saya berharap Uskup Ketapang terpilih, Mgr. Prapdi dapat menggembalakan umatnya dengan semangat rasuli,” ujar Mgr. Filipazzi dengan tetap berharap uskup baru tetap tekun menjalani pastoral kehadiran bagi umat kecil dan sederhana, khususnya mereka yang lemah dan kurang diperhatikan.

Mgr. Filipazzi juga mengucapkan terima kasih kepada Mgr. Blasius yang sudah 33 tahun di Ketapang. Uskup Blasius selama ini melayani umat dengan sangat menggembirakan. Dia diterima dan hadir dalam seluruh kehidupan masyarakat khususnya masyarakat Dayak.

Kehadiran Uskup Prapdi memberi kegembiraan bagi umat Katolik di Bumi Kayong (sebutan untuk wilayah Ketapang dan Kayong Utara). Kehadirannya di tempat perutusan disambut antusias dengan upacara adat oleh ratusan umat di Paroki Katedral St. Gemma Galgani Ketapang, Selasa, 29/8/2012.

Presiden Jokowi berbincang dengan Uskup Ketapang Mgr Pius Riana Prapdi. [HIDUP/Yusti H.Wuarmanuk]
           Waktu itu, Mgr. Prapadi berusia 45 tahun dengan memiliki sejumlah pengalaman pastoral dengan medan yang berbeda-beda. Ia lahir di Paniai, Papua lalu menjadi imam Diosesan KAS, selanjutnya menjadi uskup di Kalimantan Barat. Pengalaman ini juga dilengkapi dengan pengetahuan studi pastoralnya di Roma.

Mgr. Prapdi mengatakan dirinya mengalami sukacita karena banyak belajar dari kesederhanaan umat Ketapang. Sebelum jadi uskup, ia sempat mengunjungi beberapa paroki tua di Ketapang seperti Paroki Balai Berkuak, Tumbang Titi, dan Serengkah. “Dalam setiap kunjungan, saya menyaksikan bagaimana kesederhanaan umat dan kehadiran Gereja untuk terlibat bersama umat,” ujar Mgr. Prapdi.

Rumor Kuat

Beberapa bulan sebelum dipanggil Nunsio ke Jakarta untuk mendengarkan Bulla Paus, Mgr. Prapdi baru saja melakukan perjalanan pastoral ke Ketapang. Rumor kencang yang sempat beredar bahwa kehadiran Romo Vikaris Jenderal KAS ini untuk “nengok-nengok” dan mulai belajar tentang medan pastoral barunya.

Menanggapi rumor ini, Mgr. Prapdi membantah dengan serius. Ia mengatakan dirinya tidak pernah terpikirkan menjadi uskup di Ketapang. Tidak juga punya ambisi karena sudah pasti yang berambisi biasanya tidak terpilih. Betul bahwa ia pergi ke Ketapang karena diminta Uskup Agung Semarang, Mgr. Pujasumarta untuk melakukan fungsi monitoring dan evaluasi para imam praja KAS sebagai misionaris domestik di Ketapang.

“Misi domestik itu bukan saja di Ketapang tetapi juga di beberapa keuskupan seperti Keuskupan Manokwari-Sorong, Keuskupan Agung Medan, dan Keuskupan Tanjung Selor,” ujarnya sambil menambahkan, “Kebetulan saja waktu saya di Ketapang sebagai kunjungan terakhir dari misi domestik KAS, tiba-tiba ada pesan yang isinya untuk secepatnya kembali ke Jakarta untuk sowan ke Nuncio.”

Ceritanya, Mgr. Prapdi di Ketapang tanggal 19-25 Mei 2012. Dalam perjalanan mengunjungi Romo Alexander Joko Purwanto di Paroki Nanga Tayap, sebuah pesan datang kepadanya dan diminta memungkinkan waktu segera ke Jakarta untuk sowan kepada Mgr. Filipazzi. Waktu itu tidak dijelaskan agenda pertemuannya, tetapi isi agenda itu penting.

Karena mendadak harus sowan sehingga Mgr. Prapdi mengambil rute Ketapang ke Jakarta. Tiket yang sudah terlanjur dipesan Ketapang-Yogyakarta dibatalkan. Dalam benaknya soal undangan resmi KAS kepada Nunsio untuk hadir di acara Kongres Ekaristi. Memang Nunsio sudah bersedia, tetapi hal-hal teknis belum dijabarkan.

Momen penting itu datang juga. Ia bertemu Nunsio pada 25 Mei 2012 Pkl. 21.00 WIB, sejam setelah mendarat ke Jakarta. Ternyata bukan perkara undangan itu yang dibahas. Dengan jelas Mgr. Filipazzi mengatakan, Paus Benedictus XVI memilihnya menjadi Uskup Ketapang. “Seperti disambar petir di siang bolong. Saya tidak percaya tetapi Nunsio meyakinkan bahwa pernyataannya itu benar sambil menunjukkan bukti penunjukkannya,” cerita Mgr. Prapdi.

Seperti biasa, Mgr. Prapdi menyatakan ketidaksiapannya dengan macam-macam alasan yang pada intinya kalau bisa orang lain saja. Ada beberapa pernyataan yang disampaikannya. Misal, mengapa Paus memilihnya sementara dirinya tidak kenal medan Ketapang? Mengapa tidak memilih putra daerah? Umurnya masih muda dan ada banyak senior yang lebih matang. Tetapi semua pernyataan ini dibantahkan oleh Nunsio sehingga tidak ada alasan untuk menolak.

Dengan keyakinan mendalam, Mgr. Prapdi menerima tugas itu dengan satu pesan Nunsio agar dilarang membuka rahasia soal dirinya dipilih uskup hingga pada waktunya baru bisa menyampaikannya.

Ditegur Sang Bunda

Karena larangan buka rahasia, membuat satu bulan penuh Mgr. Prapdi hidup dengan perasaan tidak tenang. Seakan susah “bergerak”dan “bernafas”. Ia takut banyak terlibat di tengah umat atau banyak berbicara sehingga keceplosan. Selama itu dirinya mengikuti aturan dengan pikiran yang terbebani.

Suatu ketika dirinya berkunjung ke rumah sang ibu di Kawasan Nandan, Yogyakarta. Melihat anaknya yang makin kurus, sang ibu menegurnya, “Nak, kenapa badanmu sekarang lebih kurus?” Dengan sedikit berbohong dirinya mengatakan, “Ada banyak pekerjaan di KAS sehingga kurang waktu istirahat.” Sang ibu hanya menasihatinya agar tetap menjaga kesehatannya.

Tanggal 24 Juni 2012, Mgr. Filipazzi menghadiri undangan KAS yaitu Kongres Ekaristi di Paroki Ganjuran. Sehari sebelum pengumuman resmi, Nunsio memberikan amplop berkode confidential kepada Mgr. Pujasumarta dan kepada Mgr. Prapdi. Saat Mgr. Puja membuka isi amplop itu dan dirinya terkejut ketika membaca Bulla penunjukkan itu. Mgr. Puja terbelalak membaca isi surat itu. “Beberapa menit kemudia ia tertawa kegirangan. Dengan raut sukacita ia mengatakan saya setuju dan itu bagus,” kisah Mgr. Prapdi.

Sejak penunjukkan itu, Mgr. Prapdi menjadi uskup Ketapang dan ragam karya telah lahir dari kesederhanaan dan kesediaannya untuk hadir di tengah umat. Ia menjadi uskup yang tidak pilih kasih, setia berjalan bersama umat. Kini sudah satu dasawarsa, Mgr. Prapdi berjalan bersama umat Ketapang.

Yustinus Hendro Wuarmanuk

HIDUP, Edisi No. 37, Tahun ke-76, Minggu, 11 September 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here