Iklim Apresiatif demi Usaha yang Maksimal

122
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COMSeringkali ketika mengikuti rapat pertanggungjawaban acara tertentu, saya mendengar ungkapan seperti ini, “Mohon maaf kalau kinerja saya belum bisa maksimal. Saya tidak bisa memuaskan semua orang.” Biasanya ungkapan itu dilontarkan pada saat penghujung rapat tiba.

Di satu sisi, saya melihat bahwa ungkapan seperti itu menunjukkan kerendahan hati dari orang yang mengucapkan itu. Ia menyadari kalau usahanya sebagai manusia tidak luput dari kesalahan. Mungkin ada pihak-pihak tertentu yang kurang suka dengan kebijakan yang ia buat. It’s okay, lumrah, setiap kepala memiliki “isi’ yang beranekaragam. Hal yang penting adalah perasaan ‘suka-tidak suka’ itu tidak menghambat kelancaran jalannya sistem dalam organisasi/kepanitiaan tersebut.

Di sisi lain ada kalanya saya juga kurang sreg ketika seseorang mengucapkan seperti itu. Bukan berarti karena saya tidak senang dengan kebijakan orang tersebut sehingga saya kurang sreg. Namun, terkadang orang yang melontarkan ungkapan seperti itu justru sebenarnya belum melakukan usaha yang maksimal.  Seakan ungkapan itu menjadi dalih supaya rekan-rekan kerjanya mau memakluminya. Entah apakah karena merasa berat menjalankan tugas yang dipercayakan ataupun didera konflik dari rekan se-tim, yang jelas berusaha secara maksimal adalah kewajiban. Soal hasil itu belakangan, yang penting berusaha secara maksimal terlebih dahulu.

Situasi di atas mirip dengan perikop “perumpamaan tentang talenta” (Bdk. Mat 25:14-30). Kita berfokus pada hamba yang diberi satu talenta oleh tuannya. Kalau kita merenungkan lebih dalam, sebenarnya tuan tersebut tidak memberi patokan “berapa” keuntungan yang dihasilkan. Sedikit atau banyak, itu bukan masalahnya. Hal yang penting adalah bagaimana hamba tersebut mengusahakan talenta yang diberikan semaksimal mungkin sehingga “berbuah”. Bisa jadi hamba tersebut merasa minder sehingga mengurungkan niatnya untuk mengolah talenta yang ia miliki. Namun, sekali lagi, bukan hasil yang menjadi patokan, melainkan usaha yang maksimal tersebut.

Memang, seringkali dalam situasi dunia yang modern ini, usaha manusia dinilai berdasarkan hasil pencapaian yang didapatkannya. Produktivitas seakan menjadi kunci untuk menentukan seseorang layak dihargai atau tidak. Ironisnya, banyak orang yang pada akhirnya menghalalkan segala cara untuk memeroleh hasil yang melimpah. Integritas menjadi nomor sekian karena yang penting adalah menghasilkan cuan. Barangkali hal tersebut yang sedikit banyak membuat teman-teman kita enggan berusaha keras karena takut mengalami kegagalan. Lantas, hal apa yang bisa kita perbuat untuk mengikis dampak fenomena semacam itu?

Dalam permenungan saya, kita bisa menciptakan iklim apresiatif. Saya membayangkan betapa indahnya bahwa dalam suatu kepanitiaan (tim), masing-masing anggota saling memberikan dukungan satu sama lain. Misalnya dengan sapaan yang menguatkan, atau juga dengan teguran yang mendewasakan. Tujuannya agar pekerjaan (job-description) yang sudah ditentukan dapat dikerjakan dengan baik dengan meminimalisir terjadinya kesalahan. Tentu, tetap saja dibutuhkan suatu “supervisi” agar tiap anggota mengupayakan “talenta” (baca: potensi diri) yang ada semakin berkembang. Dengan demikian, tiap anggota terpacu untuk mengupayakan tenaga, waktu dan pikirannya secara maksimal tanpa khawatir akan peluang kegagalan. Toh pada akhirnya kita menyerahkan segala usaha kepada Tuhan.

Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana. (Ams 19:21)

Fr. Gabriel Mario L, OSC, sedang menjalani Masa TOP di Paroki Karawaci, Tangerang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here