“Panggilan Ini Adalah Pilihan Kami Sendiri. Namun Nampaknya Ada Kesalahan

571
Para diakon berfoto bersama Uskup, para pastor dan keluarga (Foto: Maria Sylvista/ Komisi KOMSOS) KAPal
5/5 - (5 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – Kompleks Seminari Menengah St. Paulus, Palembang paada Rabu, (25/1/2023) sore, tampak ramai. Lebih dari 300-an orang hadir mengikuti Perayaan Ekaristi bagi 6 orang calon imam yang akan ditahbisan menjadi diakon.

Mereka yang ditahbiskan adalah Fr. Basilius Benedictus Suban Meo Klobor, Fr. Bernadus Bayu Susanto, dan Fr. Chanel Doroteus Odjan Soge merupakan frater calon imam diosesan Keuskupan Agung Palembang, serta Fr. Christian Hoper S. Pakpahan SCJ, Fr. Stephanus Lisdiyanto SCJ, dan Fr. Yohanes Dwi Feri Antoro SCJ merupakan frater calon imam Kongregasi Imam-imam Hati Kudus Yesus (SCJ) Provinsi Indonesia.

Perayaan yang dipimpin Uskup Agung Palembang, Mgr. Yohanes Harun Yuwono. Hadir juga Uskup Agung Emeritus Mgr. Aloysius Sudarso SCJ, Uskup Terpilih Keuskupan Tanjung Karang Mgr. Vincentius Setiawan Triatmojo, Romo Andreas Suparman SCJ (Superior Provinsial Kongregasi SCJ Indonesia), Romo Dominggus Koro (Ketua Unio Imam Diosesan Keuskupan Agung Palembang), Romo Titus Waris Widodo SCJ (Rektor Seminari Menengah St. Paulus Palembang) dan puluhan imam konselebran lainnya.

Para penari dari Ikatan Keluarga Flores Palembang (IKFP) yang tampil dengan busana daerah menampilkan Tari Ja’i, yaitu tarian tradisional asal Bajawa, Flores, Nusa Tenggara Timur, untuk mengiringi perarakan menuju Kapel Seminari Menengah St. Paulus Palembang.

Tari Ja’i mengiringi arakan Tahbisan Diakon Rabu, 25 Januari 2023 di Seminari Menengah St. Paulus Palembang (Foto: Maria Sylvista/ Komisi KOMSOS KAPal)

Tahbisan Diakon merupakan sebuah peristiwa dan tahapan penting bagi seorang calon imam. Tahbisan ini adalah jenjang imamat pertama sebelum seorang ditahbiskan menjadi imam.

Dalam homilinya pada perayaan yang bertepatan dengan Pesta Pertobatan Santo Paulus ini Mgr. Yohanes menyampaikan pendalaman tentang peristiwa dan pengalaman pertobatan yang dialami oleh Santo Paulus.

“Setelah mengenal Yesus, dia berani menyebut dirinya pengajar guru dalam iman dan kebenaran kepada orang yang bukan Yahudi, dan yang telah bekerja lebih keras dari semua rasul lain. Dia meninggal sebagai martir di Roma dengan dipenggal kepalanya. Seturut tradisi, kepalanya melanting tiga kali dan di tempat melantingnya kepalanya muncul mata air yang masih ada hingga sekarang,” tutur Mgr. Yohanes.

Lebih lanjut Uskup menegaskan bahwa Santo Paulus adalah pengajar kasih Kristus. “Dia mewartakan apa yang paling intim dalam hidupnya, yaitu Yesus memberikan diri-Nya bagi Paulus. Imannya bukan iman teoritis, imannya hasil dampak kasih Allah dalam hatinya, maka dia membalas dengan kasih kepada Yesus yang mengasihinya. Paulus dipotret sebagai orang yang all out dalam mewartakan Yesus,” tegas Mgr. Yohanes.

Mewakili para diakon tertahbis, Diakon Basilius Klobor menyampaikan refleksi perjalanan panggilan sebagai calon imam dan makna dari tema tahbisan yang mereka angkat, “Bukan kamu yang memilih Aku, melainkan Akulah yang memilih kamu” (Yohanes 15:16-17).

Diakon Basilius Klobor

“Panggilan ini adalah pilihan kami sendiri. Namun nampaknya ada kesalahan. Yesuslah yang memilih kami, sebelum kami memilih panggilan ini. Allah yang menawarkan, Allahlah yang memilih kami menjadi calon imam, syukur-syukur menjadi uskup. Allah yang memulai maka kami tak takut akan tantangan apapun, karena kami percaya Allah yang akan mengakhiri,” katanya.

Selanjutnya, Romo Andreas Suparman SCJ dalam sambutannya menekankan bahwa jabatan diakon bukan soal status, tapi sebuah pertobatan.

“Semoga perayaan yang luhur ini, sungguh menjadi saat bagi para diakon dan kita semua untuk mengalami pertobatan. Pertobatan utama adalah pemberian diri. Maka ukuran apakah para diakon dan hidup kita berkualitas atau tidak, adalah semakin nampak, bahwa mereka memberikan diri kepada umat dan Allah,” tuturnya.

Ia berharap agar umat yang hadir mendukung para diakon dengan doa agar mereka semakin memberikan diri dalam pelayanan umat dan dalam semangat doa.

Merujuk pada Surat Keputusan Uskup Agung Palembang, setelah ditahbiskan menjadi diakon, para calon imam ini mendapat tugas perutusan baru sebagai diakon di paroki maupun di kelompok kategorial, tempat mereka masing-masing selama ini menjalani masa pendalaman pastoral.

Romo Titus Jatra Kelana (Pelembang)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here