Menyingkap Kembali Warisan Ideal Romo Mangun yang Tetap Relevan dan Aktual

119
Romo Y.B. Mangunwijaya (tengah) bersama anak-anak Kali Code, Yogyakarta.
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Setelah 25 tahun meninggal dunia, meninggalkan Indonesia, yang ditinggalkan Romo YB Mangunwijaya adalah suatu idealisme. Seluruh hidup Sang Romo diwarnai dengan perjuangan dan pengorbanan. Di atas majalah dan surat kabar, opini, novel, bahkan berbagai hasil karya buku fiksi dan nonfiksi Sang Romo, sebenarnya ditunjukkan karya besar yang implementatif.

Mandat imamat Sang Romo justru mengarah pada dua dimensi yaitu dimensi korban ekaristi dan dimensi korban demi umat manusia. Namun Sang Romo barangkali tidak mau berhenti pada kedua dimensi tersebut melainkan menambah banyak dimensi yaitu multidimensi. Tahun 2024 semangat Sang Romo datang lagi untuk menyemangati umat Katolik agar dapat meneruskan model hidup dan karyanya dalam semangat cinta kasih dan pengorbanan.

Dari catatan sebuah majalah nasional, Mei 1999, Sang Romo menjalankan suatu Laboratorium Dinamika Edukasi Dasar demi pendidikan anak-anak miskin di Yogyakarta. Hal ini menampakkan korban Sang Romo dalam mengangkat mereka yang kecil menjadi besar.

Sejajar dengan suatu hasil karya buku EF Schumacher, “Small is Beautiful” (1973) Sang Romo sebenarnya hendak mewariskan pentingnya pendidikan dasar putra-putri Indonesia dalam proses mencapai pendidikan tinggi dan selanjutnya menjadi alumni dengan karya-karya besar.

Pada tahun 1981, salah satu karya Sang Romo “Burung-Burung Manyar” terbit. Dan, dari roman “Burung-Burung Manyar” Sang Romo mendapat “Southeast Asia Write Award” (1983). Mahakarya Sang Romo tidak hanya sebatas tulisan pada kertas melainkan melampauinya. Hal ini ditunjukkannya melalui penyelamatan umat manusia dengan cara mengungsikan mereka dari genangan air bah Waduk Kedung, Ombo Yogyakarta.

Tidak berhenti berkorban demi keselamatan kaum miskin. Isu kaum miskin Kali Code ketika itu pun dipikirkan dan diupayakan untuk diatasi serta diselamatkan. Tiada kepentingan sedikit pun selain demi pengangkatan harkat dan martabat manusia. Nilai kemanusiaan diutamakan dan berada di atas berbagai kriteria prioritas.

Ternyata warisan ideal Sang Romo masih relevan dan aktual untuk diterapkan di negeri tercinta Indonesia.

Jakob Oetama, Pendiri KOMPAS dalam ungkapan sejatinya “Kunci keberhasilan adalah rasa syukur dan totalitas dalam bekerja dan kebersamaan, saling peduli”. Nilai utama tersebut memiliki orientasi yang sama dengan Sang Romo. Nilai kepedulian Sang Romo boleh dipakai untuk intervensi berbagai persoalan masyarakat antara lain berbagai persoalan klasik manusia terkait dengan kebutuhan sandang, pangan, dan papan.

Sejumlah masalah nasional dan internasional seperti peperangan, pengungsian, migrasi, memanggil kehadiran negara dan rakyat Indonesia untuk bertindak sesuai dengan warisan Sang Romo, misalnya.

Dalam mengurai hidup dan karya Sang Romo, salah satu periode menarik adalah menjadi tentara pada masa pendidikan di SMA. Ketika menjadi anggota Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Batalion X, Sang Romo terlibat pertempuran di Magelang, Ambarawa, dan Semarang di bawah pimpinan Mayor Soeharto, kini Almarhum Presiden Soeharto (MATRA, Mei 1999).

Mengikuti jejak pengalaman Sang Romo, jelas ditunjukkan bahwa Sang Romo sudah memberikan sumbangan besar bagi bangsa Indonesia selama masa revolusi kemerdekaan. Hidup dan karya Sang Romo menjadi collective memory bangsa ini, generasi ini, untuk akses ke periode sejahtera dan makmur di usia seabad nanti. Karena itu, mengenang dan mewarisi idealisme Sang Romo masih sangat dibutuhkan di era digital ini.

Idealisme pertama Sang Romo adalah pendidikan dan pencerdasan bangsa. Proses belajar Sang Romo di SMA, di Asrama Benteng Vredenberg, di Seminari Mertoyudan, di Seminari Tinggi Yogyakarta, di Sekolah Tinggi Teknik Rhein-Westfalen West Germany, merupakan model titik berangkat yang harus dimulai dan dijalani setiap Warga Negara Indonesia.

Idealisme kedua Sang Romo sejalan dengan Tuhan Yesus Kristus yang mengangkat harkat dan martabat kaum papa. Sabda Tuhan di bukit memihak mereka yang miskin, lemah, bukan apa-apa, diangkat dan memeroleh apresiasi. Mereka yang miskin pendidikan diupayakan untuk akses ke lembaga pendidikan. Mereka yang selalu berada di pinggir, marginal, dan diabaikan justru dikuatkan dengan harapan membahagiakan serta kesejaheraan universal.

Sang Romo yang inspiratif dan suportif sudah berada di tempat yang penuh dengan kebahagiaan abadi. Perayaan Ekaristi dan Doa Abadi dari Sang Romo di surga tidak pernah berhenti demi realisasi idealisme di atas bumi. Percayalah!

Silverius CJM Lake, Dosen Character Building, Bina Nusantara University

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here