Gereja yang Mendengarkan

38
Nunsius Apostolik Indonesia, Mgr. Piero Pioppo berbicara di depan para uskup (HIDUP/Katharina Reny Lestari)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – ADA yang menyita perhatian para uskup, termasuk Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo pada acara peresmian dan pemberkatan gedung baru KWI pada hari Rabu, 15 Mei 2024 lalu. Di jajaran umat atau undangan terlihat sekelompok umat yang sedikit ‘berbeda’. Mereka selalu berjalan besama-sama, bergandengan tangan, saling menuntun. Memang beberapa di antara mereka ada juga yang awas, yang bertindak sebagai pendamping dari Lembaga Daya Dharma (LDD), Keuskupan Agung Jakarta (KAJ).

Pada saat bacaan, salah seorang dari mereka, tampil ke depan. Ia membaca Bacaan Pertama dengan sangat lancar, tanpa cela. Begitu pula pada saat ramah tamah, mereka semua maju ke panggung. Mereka menyanyikan lagu dalam dalam balutan suara yang apik. Hadirin menyimak, terpesona. Bertepuk tangan meriah setelah mereka tampil. Ketua KWI, Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC dan Mgr. Pioppo memberikan apresiasi atas kehadiran teman-teman dari LDD KAJ tersebut.

Ki-ka: Kardinal Ignatius Suharyo, Kardinal Julius Riyadi Darmaatmadja, SJ, Nuncio Apostolik Mgr. Piero Pioppo pada sidang tahunan KWI di Jakarta. (HIDUP/Katharina Reny Lestari)

Keharidan teman-teman yang menjadi salah satu wujud kepedulian KAJ di balai KWI yang baru ini tentulah sudah dalam perencanaan. Para disabilitas ini merupakan tanda kepedulian KWI (baca: Gereja) pada saudara-saudari yang miskin, tersingkir, dan terpinggirkan dari tengah masyarakat. Tentu saja, selama ini Gereja di pelbagai keuskupan, melalui pelbagai macam bentuk palayanan telah memberikan perhatian yang serius pada mereka. Kehadiran para disabilitas di balai baru KWI bukanlah sangat mengejudkan.

Tampaknya, KWI ingin menegaskan komitmen Gereja untuk terus mengimplemantasikan perutusannya yang asali dan sejati. Penegaskan komitmen itu tak lepas dari seabad perjalanan KWI hingga saat ini dan di masa depan. Gereja yang ingin terus mendengarkan suara-suara mereka yang tak terartikulasikan. Gereja yang berpihak pada keadilan, perdamaian, penghargaan pada harkat dan martabat manusia, haka asasi manusia, lingkungan hidup (ekologi), kerukunan, kesetaraan atau keseimbingan jender, perdagangan manusia, dan lain-lain.

Situasi dan kondisi Gereja Katolik di Indonesia sesungguhnya boleh dikatakan jauh lebih baik bila dibandingkan dengan situasi dan kondisi Gereja di pelbagai negara. Sebut saja misalnya, Gereja di Nikaragua belakangan ini. Diktator Daniel Ortega telah menangkap beberapa uskup dan imam, mengusir biarawati karena dianggap bertentangan dengan kebijakannya yang otoriter. Namun, para gembala itu tak gentar sedikit pun. Mereka terus bersuara kendati ada risiko mereka dipenjara atau kehilangan nyawa sekalipun. Kita berharap situasi seperti ini tak akan pernah terjadi di Nusantara ini.

Kendati demikian, para pimpinan Gereja di semua level tetaplah menjadi ‘penyambung’ lidah umatnya. Keadilan dan kebenaran yang belum sepenuhnya dipenuhi oleh pemerintah tetaplah harus disuarakan. Figur-figur seperti Pastor Franz Magnis-Suseno, SJ dari STF Driyarkara Jakarta, Pastor Chrisanctus Paskalis dari Keuskupang Pangkalpinang, pada masanya ada Pastor Y. B. Mengunwijaya adalah contoh-contoh konkret yang bersuara lantang tentang pelbagai persoalan di negeri ini. Mereka menunjukkan keberpihakan yang jelas dan terang-benderang.

Kita berharap, di tengah pelbagai persoalan bangsa ini, umat Katolik dan umat beragama lain, akan tetap meletakkan harapan pada bahu para waligereja. Rencana kehadiran Paus Fransiskus pun akan memperkokoh perutusan tersebut.

Sumber: Majalah HIDUP, Edisi No. 22, Tahun Ke-78, Minggu, 2 Juni 2024

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here