Carlo Acutis : Bunda Maria dan Ekaristi Adalah Segalanya; Semasa Hidupnya Komputer Adalah “Mainannya”

107
Calon Santo, Carlo Acutis
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – “Ini luar biasa karena semua orang dipanggil untuk menjadi seperti Yohanes, murid kesayangan Yesus. Cukuplah kita menjadi jiwa Ekaristi dan mengijinkan Tuhan mengerjakan mukjizat-mukjizat yang hanya dapat Dia lakukan dalam diri kita! Namun, yang diperlukan adalah persetujuan bebas atas keinginan kita. Tuhan tidak ingin memaksa siapa pun. Dia menginginkan cinta kita yang diberikan secara cuma-cuma.” (Carlo Acutis)

JENAZAHNYA utuh, mengenakan jeans, sepatu, sport jacket hitam bergaris putih. Dialah orang kudus pertama yang pernah memiliki akun Facebook, Carlo Acutis. Dikasteri Penggelaran Kudus Vatikan  pada tanggal 23 Mei 2024 mengumumkan bahwa terjadi mukjizat yakni kesembuhan seorang remaja dari Kosta Rika. Kesembuhan itu diyakini berkat doa dengan perantaraan Beato Carlo Acutis. Dengan peristiwa iman ini, Beato Carlo Acutis akan segera dikanonisasi menjadi seorang santo.

Mengenakan sepatu, Beato Carlo Acutis di makamnya di Kota Assisi, Italia. Dalam waktu dekat, akan dibeatifikasi menjadi santo.

Carlo lahir pada tanggal 3 Mei 1991 di Inggris, tempat orang tuanya Andreas dan Antonia (keduanya orang Italia), yang tinggal di sana karena alasan pekerjaan. Keluarga Acutis berakar kuat pada iman Katolik, namun juga tidak fanatik.

Carlo kecil dibaptis pada tanggal 18 Mei di sebuah gereja yang didedikasikan untuk Bunda Maria dari Fatima. Sepanjang hidupnya yang singkat, Bunda Maria memiliki arti penting bagi kehidupan Carlo.

Beberapa bulan setelah kelahiran Carlo, orang tuanya kembali ke Italia karena alasan ekonomi untuk menetap di Milan. Carlo, seperti yang dikonfirmasi oleh orang tuanya, adalah anak laki-laki yang normal dan suka bersenang-senang. Dia punya banyak teman dan suka bermain. Pada saat yang sama, Antonia menyadari sejak awal bahwa Carlo berbeda. Ketika dia masih sangat kecil, di saat mereka berjalan-jalan keliling kota bersama-sama dan melewati sebuah gereja, dia meminta ibunya untuk masuk ke dalam: “Bu, mari kita masuk untuk menyambut Yesus.”

Ketika dia belajar membaca di sekolah, ibunya memperhatikan bahwa dia sering membaca Alkitab dan buku kisah hidup orang-orang kudus. “Si ‘penyiksa’ kecil menanyakan banyak pertanyaan mendalam yang tidak dapat saya jawab. Saya benar-benar terkejut bahwa dia begitu saleh. Dia masih sangat kecil, tapi sangat yakin. Jadi saya mulai mendekatkan diri pada iman lagi.” Antonia sering mendengar dari guru, teman sekelas dan bahkan imam bahwa Carlo adalah orang yang “menonjol” dalam arti yang baik.

Penjaga pintu blok apartemen di Via Ariosto di Milan mengatakan demikian: “Putramu adalah anak yang istimewa.” Carlo memintanya untuk menghadiri komuni pertamanya. “Supaya sahabatku Yesus semakin dekat denganku.” Carlo menerima Komuni Kudus pertamanya dalam keheningan Biara Bernaga.

Sejak saat itu, Misa Kudus setiap hari menjadi titik penting dalam hidupnya. “Kita memilikinya lebih baik dibandingkan para rasul yang hidup bersama Kristus 2000 tahun yang lalu. Yang harus kita lakukan untuk bertemu dengannya adalah pergi ke gereja. Kami memiliki Yerusalem di depan pintu kami.” Jika Carlo mampu, dia akan tinggal beberapa saat setelah misa untuk berdoa. Ekaristi telah menjadi jalan hidup Carlos.

Misteri kehadiran Tuhan dalam Ekaristi adalah nyata baginya dan realita kehidupannya. “Ekaristi adalah jalan rayaku menuju surga.” Pada usia 11 tahun, Carlo menulis: “Semakin sering kita menghadiri misa, semakin banyak pula kita menyambut Ekaristi, kita semakin menjadi serupa seperti Yesus; Jadi kita akan mampu mengalami surga di bumi ini.” Pengakuan penting yang juga pernah diungkapkannya, “Sama seperti sebuah balon harus melepaskan pemberat ketika ia naik, demikian pula jiwa harus membuang beban-beban kecil yang merupakan dosa-dosa ringan untuk naik ke surga.”

Komputer adalah “Mainan”nya

Carlo menunjukkan antusiasme dan bakat unik dalam bidang komputer sejak usia dini. Dia juga senang bermain komputer bersama teman-temannya. Segala sesuatu yang berhubungan dengan komputer membuatnya terpesona. Orang tua dan gurunya kagum dengan bakat dan kemampuannya yang tidak biasa bagi seorang remaja dan mereka terus menyemangatinya.

Carlo mempelajari beberapa bahasa pemrograman, mendesain website, membuat video dan mendesain layout komik dan brosur untuk anak-anak. Tapi dia juga berprestasi sangat baik di mata pelajaran lainnya.

Karena selera humornya dan kesediaannya untuk membantu, dia sangat dihargai oleh semua orang di kelas. Carlo juga tidak ambisius dalam artian ingin selalu menjadi yang terbaik. Dia mencoba secara diam-diam membantu teman-teman sekelasnya yang memiliki sedikit atau tidak punya teman.

Saat teman sekelas yang lemah dikucilkan atau diejek, Carlo ada untuk membela mereka. Dia memiliki kepedulian terhadap yang lemah dan miskin, yang juga terlihat di sekolah, tapi tidak hanya di sana. Ibu Carlo, Antonia, mengatakan tentang putranya demikian, “Dia memiliki kemurahan hati dan tertarik pada semua orang, baik orang asing, orang cacat, anak-anak, pengemis. Berada di dekat Carlo serasa berada di sumber mata air.”

Baginya, hidup adalah anugerah dari Tuhan dan setiap orang harus berusaha menyikapi anugerah ini, hari demi hari, dengan penuh kesederhanaan. Saya ingin menekankan bahwa Carlo adalah anak laki-laki normal, dia ceria, juga bisa serius, dia suka membantu dan senang ditemani, dia suka jika ada teman-temannya di dekatnya.” Dia menyatakan nilai-nilainya di depan teman-temannya. Hal ini terkadang menyebabkan dia tidak mengerti dan ditolak. Guru agamanya melaporkan bahwa Carlo adalah satu-satunya yang menentang aborsi di kelas agama.

Carlo tidak menyembunyikan keyakinannya, tapi dia juga tidak memaksakannya pada teman-temannya. Di kamarnya tergantung gambar Yesus berukuran besar. Ketika teman-temannya datang kepadanya untuk meminta nasihat, ia menganjurkan agar salah satu dari mereka mengaku dosa atau menemaninya ke Misa Kudus. Semua orang dilingkungannya mengenalnya.

Saat dia sedang mengendarai sepedanya, dia secara spontan berhenti jika berpapasan dengan orang lain dan berbincang sejenak. Ia sering memberi tahu orang asing yang bukan Kristen tentang imannya. Orang-orang senang mendengarkan dia bercerita dan dianggap menyenangkan.

Saat makan siang, dia mengunjungi para tunawisma di daerah tersebut untuk membawakan mereka makanan. Carlo memiliki persahabatan yang mendalam dengan Rajesh, seorang pemuda Hindu yang membantu keluarga Acutis melakukan pekerjaan rumah tangga. Keduanya sering berbincang banyak tentang iman.

Rajesh akhirnya menemukan Kristus dan dibaptis. “Saya dibaptis karena Carlo menulari saya dengan iman dan kasihnya. Biasanya anak laki-laki yang gsnteng dan kaya seperti itu menjalani kehidupan yang berbeda, tapi tidak dengan Carlo. Dia mengatakan kepada saya bahwa jika saya semakin dekat dengan Kristus, saya akan menjadi lebih bahagia.”

Memang benar, Carlo tidak menginginkan “kehidupan lain” selain kehidupan yang dia jalani. Menurutnya, uang tidak boleh dihamburkan untuk kemewahan dan hal-hal yang tidak perlu. Tabungannya diberikan kepada orang miskin. Dia membelikan kantong tidur untuk seorang tunawisma yang dia temui setiap hari dalam perjalanan menuju Misa Kudus. Ia memberikan uang kepada imam Kapusin untuk memberi makan bagi orang miskin.

Maria dan EKaristi

Carlo adalah pemuja Maria yang hebat. Dia berdoa rosario setiap hari. Dia berziarah bersama orang tuanya puluhan kali ke tempat suci Maria di Napoli yang didedikasikan untuk “Bunda Rosario”. Setiap kali dia mengabdikan hidupnya untuk Maria. “Bunda Maria adalah satu-satunya wanita dalam hidup saya,” katanya. Rosario harian adalah suatu kebutuhan baginya. Francesco dan Jacinta Martos, dua anak peramal Fatima, sangat dekat dengannya.

Carlo menangani secara intensif penampakan dan pesan Fatima. “Tentu saja,” kata Carlo, “mukjizat Perawan Maria selama penampakannya di bumi dapat sangat membantu dalam meningkatkan iman banyak orang. Namun, sampai hari ini, banyak dari mereka yang masih belum tersentuh.” Dia berpikir tentang bagaimana dia dapat membantu orang lain untuk berhubungan dengan berbagai tempat penampakan dan pesan Bunda Maria.

Pada tahun 2002, Carlo pergi bersama orang tuanya ke pertemuan besar komunitas Katolik Communio et Liberazione di Rimini. Carlo terpesona oleh banyaknya orang yang berkumpul di sana, oleh ceramah dan pameran yang dipamerkan. Selama hari-hari ini, sebuah rencana terbentuk di benak anak laki-laki itu, untuk membuat sebuah pameran tentang mukjizat Ekaristi yang diakui oleh Gereja sehingga orang-orang dapat memahami apa sebenarnya Ekaristi itu.

Sang ibu berkata, “Carlo yakin bahwa hal ini akan memperjelas kepada orang-orang bahwa hosti dan anggur yang dikonsekrasi adalah sungguh tubuh dan darah Kristus, bukan hanya sesuatu yang simbolis.”

Ketika keluarga itu kembali ke Milan setelah pertemuan di Rimini, Carlo segera memulai proyeknya. Dia dapat memanfaatkan keterampilan IT-nya yang luar biasa. Dia menciptakan dokumentasi yang ekstensif. Dia meminta orang tuanya untuk bepergian bersamanya ke tempat-tempat terkait di Italia dan Eropa untuk mengumpulkan materi lebih lanjut. Berbagai macam orang terlibat dalam proyek ini.

Setelah tiga tahun bekerja intensif, pameran mukjizat Ekaristi selesai. Setelah pameran ini dikenal dan disebarluaskan di Keuskupan Milan, permintaan segera datang dari keuskupan lain, termasuk luar negeri. Carlo tidak pernah mengerti mengapa stadion penuh saat konser dan gereja begitu kosong. Ia mengatakan, “Umat harus memahami Ekaristi!’ Dengan pameran ini ia berharap dapat berkontribusi terhadap hal tersebut.”

Leukimia

Pada tanggal 4 Oktober 2006, video yang dibuat Carlo akan ditayangkan di sekolah, untuk memperkenalkan Ekaristi dan mengajak teman-temannya menjadi sukarelawan. Tiba-tiba Carlo jatuh sakit dan ia dibawa ke rumah sakit. Saat dia melewati ambang pintu rumah sakit bersama ibunya, dia berkata, “Saya tidak bisa keluar dari sini lagi.”

Pemeriksaan menunjukkan diagnosis yang mengerikan: Carlo menderita leukemia, suatu bentuk yang sangat agresif. Dia mengaku kepada orang tuanya, “Saya mempersembahkan penderitaan yang harus saya tanggung kepada Tuhan demi Paus dan Gereja, sehingga saya tidak harus pergi ke api penyucian, tetapi langsung ke surga.” Carlo meninggal pada 12 Oktober 2006, di usia 15 tahun.

Bene Xavier (Kontributor, Wina, Austria)

Sumber: Majalah HIDUP Edisi No. 22, Tahun Ke-78, Minggu, 2 Juni 2024

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here