Membina Orang Muda Lewat Komunitas Basis

29
Anggota Domus Cordis saat memberikan sesi untuk anak-anak dan remaja di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (Dok. Domus Cordis)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – “INSPIRING young people to change the world in Christ” (menginspirasi orang muda untuk mengubah dunia di dalam Kristus) telah menjadi mission statement (pernyataan misi) bagi setiap anggota Domus Cordis (DC), atau Komunitas Rumah Hati. Sejak berdiri tepat pada Hari Raya Kristus Raja Semesta Alam pada tahun 2007, DC telah menginspirasi 216.000 orang muda di Indonesia. Hal ini sejalan dengan visinya, yakni all young people in Christ (semua orang muda di dalam Kristus).

Salah seorang pendirinya bernama Riko Ariefano. “Awalnya rame-rame sama teman-teman. Dulu saya ngurusin (gerakan) karismatik orang muda. Terus kami mengadakan sembilan bulan novena, namanya The New Springtime. Kira-kira 1.500-an orang muda datang. Dalam perjalanan, banyak orang muda terlibat. Saya sendiri, sama beberapa teman, merasa ingin berbuat sesuatu untuk Gereja. Lalu kami doakan, tahun demi tahun. Kami diam saja, sharing-sharing. Sampai akhirnya setelah acara itu kami ngobrol sama Romo Vikjen, Yohanes Subagyo. Juga Romo Deshi Ramadhani, SJ. Kami cerita tentang kerinduan kami untuk membuat sebuah komunitas orang muda yang tujuannya untuk membantu Gereja menjangkau orang muda,” kenangnya.

Obrolan mereka berbuah. DC pun terbentuk, berada di bawah naungan Pertemuan Mitra Kategorial Keuskupan Agung Jakarta (PEMIKAT KAJ). Perayaan Ekaristi yang berlangsung di sebuah rumah di kawasan Kelapa Gading, Jakarta Utara, menandai pembentukan DC secara resmi. Sekitar 25 orang muda dari beberapa paroki yang dilayani KAJ hadir. 

Nama komunitas merupakan usulan Romo Deshi, yang adalah pendamping komunitas pada saat itu. “Kami mau bergerak di area hati orang muda. Domus Cordis artinya rumah hati. Tapi kami juga mau menjadi seperti rumah yang menaungi orang muda yang berkarya bagi Gereja dan orang muda. Kalau kita bisa menggerakkan orang muda, wajah Gereja pasti berubah,” ujar Riko, yang beristrikan Lia Brasali – juga pegiat DC.

Tujuh Komitmen

Tim Domus Cordis berforo bersama Uskup Tanjung Selor, Mgr. Paulinus Yan Olla, MSF saat melakukan kunjungan (Dok. Domus Cordis)

Meski demikian, tidak mudah bagi DC untuk mencapai titik saat ini ketika ratusan ribu buah telah dihasilkan. Puluhan anggota perdana tidak memiliki pengetahuan memadai. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai memahami karya yang sebenarnya mereka ingin lakukan. “Tapi cita-cita saya untuk menghasilkan statuta komunitas dalam waktu dua hingga tiga tahun pertama belum berhasil. Sampai hari ini masih draft,” ujar Riko, sapaan akrabnya, sambil tertawa.

Sementara tantangan terbesar yang dihadapi para anggota – saat ini ada sekitar 300 orang di Jakarta dan Semarang, Jawa Tengah, serta Sydney, Australia – adalah diri sendiri, meskipun DC memiliki tujuh komitmen. “Kami merasa kalau kami bisa berkomunikasi dengan lebih baik, orang muda lebih mengerti; kalau kami bisa mendekati orang muda dengan lebih baik, mereka lebih berbuah. Jadi apa pun situasinya, kami perlu belajar. Yesus bilang kalau kita melekat pada pokok anggur, kita akan berbuah,” imbuhnya.

Tujuh komitmen tersebut adalah berdoa, membaca Kitab Suci, mengikuti Misa Harian setidaknya satu kali dalam seminggu, mengaku dosa setidaknya satu kali dalam sebulan, kehadiran dalam pelayanan minimal 75 persen dalam satu tahun, persembahan kasih setiap bulan, dan melibatkan diri dalam karya pelayanan. Terkait persembahan kasih, setiap anggota menyisihkan sepuluh persen dari penghasilannya setiap bulan. “Kami tidak menyebutnya persepuluhan tapi persembahan kasih. Persepuluhan berangkat dari Hukum Taurat, kalau persembahan kasih berangkat dari Kisah Para Rasul. Memberi karena mengasihi, bukan peraturan,” jelasnya.

Selain itu, ada tiga nilai yang ditanamkan dalam diri setiap anggota. Pertama, discerning heart atau hati yang memilah, sebuah gaya hidup yang memuliakan Tuhan, berpusat pada Kristus, dan mengikuti tuntunan Roh Kudus. Kedua, self-giving love atau kasih yang memberikan diri, sebuah gaya hidup yang mengorbankan diri bagi pertumbuhan Gereja, keluarga, dan orang muda. Ketiga, compassionate courage atau keberanian yang penuh kasih, gaya hidup yang penuh semangat bermisi, membuat perubahan, dan berani mengambil risiko untuk hari ini dan masa mendatang.

Peleburan

Ketika memulai komunitas, DC memiliki beberapa program. Program perdana adalah True Love Celebration, sebuah pertemuan orang muda yang berisi obrolan, pewartaan, dan puji-pujian. Lalu pada tahun 2010, DC meluncurkan program Theology of the Body Insight (TOBIT), tujuannya untuk mewartakan teologi tubuh – yang diperkenalkan St. Yohanes Paulus II – yang sangat relevan dengan orang muda. Ada pula Life Teen, sebuah program yang diadopsi dari Amerika Serikat. Terakhir, program Youth Mission for Life (YM4L), yang bekerja sama dengan Forum Komunikasi Penyayang Kehidupan dalam mempromosikan KB alami di kalangan orang muda.

Namun setelah sepuluh tahun berjalan, para anggota merasa cukup kesulitan dalam mengelola karya-karya tersebut. “Masing-masing punya cash flow. Ini tidak bisa. Dalam strategi branding, kebanyakan nama. Akhirnya kami lebur menjadi satu. Namanya cuma satu: DC,” ujar Riko. 

Sekarang ada dua area yang dikembangkan komunitas, yakni pewartaan dan pembinaan. Pewartaan terkait dengan cara mewartakan Injil secara efektif kepada orang muda, baik melalui retreat, sesi, dan media sosial. Sedangkan pembinaan terkait dengan pemberdayaan para anggota.

Pendampingan

Selain itu, DC juga melakukan pendampingan kepada para pendamping orang muda dan juga orang muda di beberapa keuskupan. “Kami menjadi vendor. Keuskupan menyediakan pendamping orang muda dan orang muda. Kami mendampingi mereka. Dan komunitas ini harus committed selama setahun. Kami buat agreement, kami perbarui setiap tahun, selama tiga tahun berturut-turut,” imbuhnya.

Ada sekitar 40 paroki yang didampingi DC saat ini. Ada pula SMP dan SMA serta perguruan tinggi. “Program kami tiga tahun. Tiga bulan pertama adalah pembinaan para pendamping orang muda, kemudian merekrut orang muda. Kami siapkan modulnya,” ungkapnya.

Belum lama ini, dua tim mengunjungi Keuskupan Tanjung Selor dan Keuskupan Ruteng. Bulan Juni mendatang, sebuah tim akan mengunjungi Kevikepan Luwu Raya, Keuskupan Agung Makassar, untuk merayakan Kevikepan Luwu Raya Youth Day. Bulan berikutnya, sebuah tim lain akan berangkat kembali ke Keuskupan Tanjung Selor untuk merayakan Keuskupan Tanjung Selor Youth Day. 

Satu hal menjadi penekanan komunitas ini. Saat melakukan kunjungan ke daerah lain, DC tidak mempunyai tujuan untuk membentuk komunitas di sana. “Maka kemajuan DC tidak diukur oleh jumlah anggota. Kami punya mission statement. Cara mengukurnya adalah berapa jumlah people yang sudah kami inspire dan change apa yang sudah kami create. Ini menjadi patokan kami. Kami tidak mau fokus pada penggendutan komunitas tetapi buahnya sedikit. Fokus kami adalah berkontribusi besar bagi Gereja,” jelasnya.

Survei menjadi indikator keberhasilan. Survei dilakukan setelah komunitas memberi sesi. Komunitas mengedarkan kepada peserta sesi survey card yang berisi pertanyaan “apakah kamu terinspirasi atau tidak” dengan jawaban “ya atau tidak.” Survey card juga berisi kolom terkait perubahan yang ingin dilakukan peserta.

Untuk rencana jangka pendek, DC akan merangkul komunitas gamers.  

Katharina Reny Lestari

Sumber: MAJALAH HIDUP, Edisi No. 22, Tahun Ke-78, Minggu, 2 Juni 2024 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here