web page hit counter
Jumat, 9 Januari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Ya Wajar Saja…!

5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – KAMIS satu Januari, kuawali tahun 2026 dengan misa pagi di Paroki Santo Yohanes Evangelista, Kudus. Ditingkahi udara sejuk beriring lantunan paduan suara mendamaikan hati. Sedikit mengantuk akibat tidur larut menikmati pergantian tahun, namun homili Pastor Martinus Mariosa Kleruk, MSF pagi itu sangat menggelitik. Kelopak mata yang tadi nyaris menyatukan dua baris bulu mata kembali bisa terangkat.  

Dimulai dengan kisah hilangnya seekor kuda. Orang sekitar menyampaikan rasa prihatin karena kuda satu-satunya itu hilang. Dan pemilik kuda menyambut setiap ucapan simpati dengan kerelaan: “Ya wajar saja.”

Tak lama berselang, tiba-tiba kuda itu kembali bahkan membawa serta kuda betina. Kembali orang sekitar datang dan berkata: “Beruntung sekali anda. Sekarang jadi punya sepasang kuda.”

Lagi-lagi dijawab: “Ya wajar saja.”

Seiring masa, kuda pun beranak. Kembali orang sekitar mengucapkan selamat atas keberuntungan itu. Lagi-lagi dijawab: Ya wajar saja.”

Sampai suatu ketika putranya menaiki kuda pony tersebut, namun terjatuh hingga kakinya patah. Sama seperti sebelumnya, orang sekitar turut sedih atas musibah itu. Tapi pemilik kuda tetap menyahut: “Ya wajar saja.”

Tibalah saat wajib militer, di mana seluruh pemuda wilayah itu harus turut menjalani. Para orang tua merasa sedih, tanpa bisa menolak mengirimkan putra mereka memenuhi panggilan wajib militer.

Baca Juga:  Transformasi Pewartaan Iman: Peta Jalan ICFC 2026

Tentu saja putra pemilik kuda bebas dari wajib militer karena cedera. Orang sekitar menganggap dia beruntung, tak perlu bersedih ditinggal putranya. Bisa ditebak apa katanya: “Ya wajar saja.”

Inilah cuplikan penuturan kisah Pastor Martin dalam homili misa awal tahun 2026. Sesuai yang tertinggal dalam ingatan dan terima kasih sudah membuat bola mataku tak lagi berair melawan kantuk. Apalagi disampaikan secara humoris menyegarkan.

Kisah berhenti sampai di situ. Menariknya, Pastor menjanjikan kelanjutannya di homili misa mendatang dengan satu kondisi. Umat dipersilahkan memaknai ungkapan “Ya wajar saja” dan boleh langsung mengirimkan lewat WA ke beliau.

Hmmm, kelopak mataku makin terbuka lebar. Sangat tertarik menanggapi. Jujur bukan ingin tahu keberuntungan apa lagi bakal dialami pemilik kuda. Karena menurutku orang yang bisa menerima setiap peristiwa secara positif dan mampu memaknai segala bentuk ‘berkat terselubung’ akan selalu mengalami keberuntungan dan mendapat kenyamanan.Tidak disibukkan dengan ragam tanya kenapa begini, kenapa begitu. Kok tidak seperti ini tapi seperti itu atau sebaliknya. Harusnya begitu, jangan begini ditambah rentetan keluh kesah lain. Si pemilik kuda demikian yakin berserah tanpa keluhan.

Alih-alih ingin menanggapi lewat WA, bahwa kalimat “Ya wajar saja” itu adalah gambaran keyakinan akan skenario Tuhan selalu teramat indah. Pasti ada pesan keselamatan dari tiap peristiwa. Sekalipun peristiwanya tak sesuai harapan kita sebagai manusia. Namun karena keyakinan campur tangan Tuhan dan percaya tak sekalipun  akan menyengsarakan umatnya, maka dengan lugas bisa berkata: “Ya wajar saja.”

Baca Juga:  Paus Leo XIV Akan Melakukan Konsistori Luar Biasa Pertama pada 7-8 Januari 2026

Sama seperti saat berdoa, ketika terkabul, itulah berkat Tuhan. Bilamana tidak terkabul, itu juga berkat Tuhan, tapi terselubung. Sebab Tuhan sudah menyiapkan yang lebih indah sesuai kebutuhan kita meski bukan seperti yang diminta. Tuhan lebih tahu apa yang dibutuhkan, bukan yang diinginkan.

Aku batal mengirim WA dalam bentuk jawaban sebagaimana disarankan. Padahal sudah mendapatkan nomor beliau dari salah satu umat lingkungan Santa Monika. Juga sudah mempersiapkan jawaban, tapi keinginan mengirim WA dikalahkan  rasa pilu berbalut kecewa, mengikuti situasi terkini negeri ini. Rasanya semakin sulit berucap: “Ya wajar saja.”

Sepanjang tahun kemarin, terlalu banyak kejadian tidak wajar di negeri ini. Berseliweran komentar penguasa maupun kebijakan dilontarkan, bukan saja tidak wajar bahkan kadang menyakiti rakyat. Miris! Di tengah bencana saja nyaris sulit menemukan kewajaran dalam menyikapi situasi. Mustahil berucap: “Ya wajar saja.”

Di lubuk hati terdalam, sedikit terbersit keraguan seakan memiliki masa depan pun bisa jadi tidak wajar lagi. Berbuat baik saja tidak mudah di negeri ini. Selalu disusul prasangka hingga tuduhan. Sangat tidak wajar.

Baca Juga:  Makan Siang Natal Katedral, Kardinal Suharyo dan Romo Hani Menjadi Pelayan Tamu

Sebegitu tidak punya harapankah aku dalam situasi ini?
Bisa jadi aku tidak sendiri.
Tapi sungguh aku rindu meminjam ucapan pemilik kuda: “Ya wajar saja.”
Sayangnya terlalu banyak hal tidak wajar terjadi
Dan saking seringnya bahkan terlihat wajar-wajar saja.

Maafkan aku mengacaukan kisah inspiratif itu, di mana keyakinan pemilik kuda dan kepasrahan dilatar belakangi kepercayaan bahwa setiap perkara telah diatur serta akan menjadi baik adanya. Berseberangan dengan kegelisahanku menonton setiap potongan kisah yang terjadi belakangan ini.

Atau mengutip filsuf kelahiran Jerman, Karl Marx: selalu ada jawaban tetapi tidak selalu dalam bentuk yang wajar

Sehingga tetap punya keyakinan, sekalipun saat ini serasa berjalan di lorong gelap panjang, pasti ada cahaya di ujungnya. Jadi tetaplah melangkah agar bertemu cahaya tersebut. Tidak tertinggal dalam gelap karena berhenti melangkah dalam  keputus asaan.

Ya, wajar saja kan aku tak sabar mendengar lanjutan kisah pemilik kuda.
Ya, wajar saja kan aku menantikan kewajaran bermekaran kembali di persada ini.
Dan tetap meniti hari dalam keyakinan Tuhan telah membuat segala sesuatu indah pada waktunya.

Salam cinta: Ita Sembiring, pekerja seni

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles