HIDUPKATOLIK.COM – Di era yang penuh dengan ketidakpastian dan disrupsi, baik dari segi iklim, sosial, maupun ekonomi, konsep ASG yang merupakan adaptasi lokal dari Environmental, Social, and Governance (ESG) kian relevan. ASG bukan sekadar tren, melainkan sebuah kerangka kerja yang fundamental untuk mengukur dampak sebuah entitas, baik perusahaan maupun individu, terhadap lingkungan dan masyarakat.
Bagi kaum muda, pemahaman dan keterlibatan dalam ASG bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan. Mereka adalah konsumen masa depan, pekerja yang akan membentuk lanskap korporasi, dan aktivis yang akan mendorong perubahan sosial. Namun, promosi ASG di kalangan mereka sering kali terkendala oleh persepsi bahwa topik ini terlalu kompleks, berjarak, atau hanya relevan untuk dunia bisnis dan investasi.
Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk memahami bahwa ASG, dalam konteks kaum muda, harus diposisikan sebagai cerminan nilai-nilai pribadi dan kolektif. Aspek Lingkungan yang mencakup isu-isu seperti perubahan iklim, energi terbarukan, pengelolaan limbah, dan pelestarian keanekaragaman hayati. Bagi generasi ini, isu-isu ini adalah realita yang mereka hadapi sehari-hari, dari banjir hingga polusi udara di kota-kota besar.
Aspek Sosial (Social) mencakup hak-hak pekerja, keadilan sosial, kesehatan dan keselamatan, serta hubungan dengan komunitas. Sementara itu, aspek Tata Kelola yang mengacu pada transparansi, etika, dan akuntabilitas dalam pengambilan keputusan. Ketika kita menerjemahkan ASG ke dalam bahasa kaum muda, kita perlu menghubungkannya dengan isu-isu yang dekat dengan mereka.
Adapun beberapa Promosi ASG di kalangan kaum muda krusial karena dengan beberapa.
Pertama, ASG membentuk generasi yang sadar dan bertanggung jawab. Dengan memahami ASG, kaum muda diajak untuk tidak hanya menjadi konsumen pasif, tetapi juga konsumen yang kritis. Mereka akan bertanya: dari mana produk ini berasal? Apakah dibuat secara etis? Apakah perusahaan yang saya dukung berkontribusi pada masalah sosial atau lingkungan? Pertanyaan-pertanyaan ini menumbuhkan kesadaran dan tanggung jawab pribadi yang diperlukan untuk membangun masyarakat yang lebih baik.
Kedua, ASG membuka peluang karier di masa depan. Semakin banyak perusahaan, dari startup hingga korporasi multinasional, yang mengintegrasikan ASG ke dalam strategi bisnis mereka. Ini menciptakan permintaan besar untuk talenta muda yang memiliki keahlian di bidang keberlanjutan, energi terbarukan, manajemen rantai pasok yang etis, dan komunikasi sosial. Promosi ASG bukan hanya tentang mengajak mereka berpartisipasi, tetapi juga tentang menunjukkan jalur karier yang menjanjikan dan bermakna.
Ketiga, ASG memberdayakan kaum muda untuk menjadi agen perubahan. Kaum muda memiliki energi dan kreativitas yang luar biasa untuk mendorong inovasi sosial dan teknologi. Dengan pemahaman ASG, mereka dapat mengarahkan energi tersebut untuk menciptakan solusi-solusi baru—baik melalui kewirausahaan sosial, aktivisme digital, maupun inisiatif komunitas—yang secara langsung mengatasi tantangan lingkungan dan sosial.
Meskipun penting, promosi ASG menghadapi tantangan signifikan: Pertama, kompleksitas terminologi. Istilah-istilah seperti “karbon netral,” “rantai pasok berkelanjutan,” atau “mitigasi risiko sosial” terdengar rumit dan teknis. Hal ini dapat membuat kaum muda merasa terintimidasi dan enggan untuk mempelajarinya. Promosi yang efektif harus mampu menyederhanakan konsep-konsep ini dan menyajikannya dalam bahasa yang mudah dipahami dan relevan. Kedua, kurangnya narasi yang personal dan menarik. Seringkali, ASG dikomunikasikan melalui laporan korporasi yang kering atau kampanye yang kaku. Narasi yang berhasil adalah yang menghubungkan ASG dengan isu-isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mereka: mode yang etis, makanan yang sehat dan berkelanjutan, atau bahkan gaming yang bebas dari praktik eksploitasi. Ketiga, isu greenwashing. Dengan maraknya perusahaan yang mengklaim ramah lingkungan atau peduli sosial tanpa bukti yang jelas, muncul skeptisisme di kalangan kaum muda. Promosi harus dilakukan dengan transparansi penuh, menunjukkan bukti nyata dari komitmen ASG, bukan sekadar janji kosong.
Untuk mengatasi tantangan di atas, promosi ASG harus menggunakan pendekatan yang strategis dan inovatif. Pertama, menggunakan platform digital yang relevan. Media sosial seperti TikTok, Instagram, dan YouTube adalah tempat di mana kaum muda menghabiskan waktu mereka. Kampanye ASG harus dirancang khusus untuk platform-platform ini, menggunakan format yang menarik seperti video pendek, infografis, atau storytelling visual yang kuat. Influencer dan kreator konten yang berfokus pada keberlanjutan dapat menjadi mitra strategis yang efektif. Kedua, mengintegrasikan ASG ke dalam pendidikan formal dan informal. Kurikulum sekolah dan universitas harus mulai memasukkan topik-topik ASG, tidak hanya di fakultas bisnis atau teknik, tetapi juga di disiplin ilmu lainnya. Lokakarya, bootcamp, dan kompetisi inovasi ASG juga dapat menjadi cara yang efektif untuk membangun pemahaman praktis. Ketiga, menciptakan kolaborasi lintas sektor. Promosi ASG tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Perlu ada kolaborasi antara pemerintah, sektor swasta, organisasi non-profit, dan komunitas pemuda. Sinergi ini dapat menghasilkan proyek-proyek ASG yang berdampak nyata, di mana kaum muda dapat berpartisipasi secara langsung.
Promosi ASG bagi kaum muda bukanlah sebuah proyek yang memiliki garis akhir. Ini adalah sebuah perjalanan panjang untuk menumbuhkan kesadaran, memberdayakan tindakan, dan membangun generasi yang mampu menciptakan dunia yang lebih adil dan berkelanjutan. Dengan mengubah narasi dari “ASG adalah tanggung jawab perusahaan” menjadi “ASG adalah kesempatan bagi kita semua untuk bertindak,” kita dapat menginspirasi kaum muda untuk tidak hanya peduli, tetapi juga memimpin perubahan. Masa depan yang berkelanjutan bukanlah sesuatu yang kita warisi, melainkan sesuatu yang kita bangun bersama. Kaum muda adalah arsiteknya, dan ASG adalah cetak birunya. Dengan strategi promosi yang tepat yang personal, inovatif, dan kolaboratif kita dapat memastikan bahwa ASG tidak hanya menjadi istilah kosong, tetapi sebuah kekuatan transformatif yang digerakkan oleh energi dan idealisme kaum muda.
Mario Y. Mbio, Mahasiswa STIPAS St. Sirilus Ruteng






