spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Menjadi Agen Sejarah, Orang Muda Keuskupan Manokwari-Sorong Siap Kawal Pra-IYD 2027

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Keuskupan Manokwari-Sorong mulai mematangkan persiapan menyongsong gelaran Indonesian Youth Day (IYD) 2027. Sebagai langkah awal, Komisi Komunikasi Sosial (Komsos) Keuskupan Manokwari-Sorong menggelar pertemuan Pra-IYD bersama para relawan (Volunteer) media se-Wilayah Sorong di Studio Komsos KMS pada Selasa, (22/9/2026). Pertemuan ini bertujuan untuk menggalang kekuatan kaum muda dalam mengawal seluruh dokumentasi dan publikasi kegiatan.

Ketua Komisi Komsos Keuskupan Manokwari-Sorong, RD. Frans Katino, menegaskan bahwa keterlibatan relawan dari setiap paroki sangat penting dalam momen bersejarah ini. Mengingat IYD merupakan event berskala nasional bagi Gereja Katolik di Indonesia, keterlibatan aktif orang muda menjadi kunci utama keberhasilan kegiatan ini. “Melalui platform digital dan media massa, berita sukacita Injil diharapkan dapat terwujud secara nyata dan meluas,” kata Pastor Katino.

Peserta sedang amati penyampaian materi.

Dalam arahannya, RD. Frans Katino menyampaikan bahwa rangkaian kegiatan Pra-IYD akan resmi dimulai pada Sabtu, 18 Oktober 2026. “Masa Pra-IYD ini dirancang sebagai sarana pembentukan fondasi, baik dalam aspek spiritualitas maupun teknis operasional media, sebelum melangkah menuju puncak IYD 2027. Karena itu, kesiapan sumber daya manusia (SDM) di tingkat akar rumput menjadi fokus utama Komsos saat ini,” kata Pastor Katino.

Baca Juga:  OMK Raja Ampat Sulap Drum Bekas Jadi Tong Sampah

Untuk memperkuat keterjangkauan informasi, Keuskupan Manokwari-Sorong telah menetapkan 10 paroki sebagai pusat kegiatan Pra-IYD. “Setiap paroki diharapkan mengirimkan utusan kaum muda yang siap bertugas sebagai garda depan penyedia dokumen visual dan narasi riil langsung dari lapangan. Hal ini dilakukan agar setiap momen penting di berbagai pelosok wilayah keuskupan dapat terekam dan tersiarkan dengan akurat,” tuturnya lagi di hadapan para peserta.

Ia menjelaskan lagi bahwa, tugas para relawan dalam mensukseskan perayaan Pra-IYD ini terbilang kompleks dan menuntut dedikasi tinggi. Selain memperlengkasi diri dengan perangkat dokumentasi, para relawan dituntut untuk memahami teknik pengambilan gambar yang komunikatif serta penulisan berita yang jujur dan berbobot. Konsistensi dalam menjalankan tugas jurnalistik menjadi kualifikasi utama yang diharapkan dari setiap perwakilan paroki.

Baca Juga:  Mengenang Teladan Kasih dan Kesederhanaan Pater Albert Clemens Scheurs CICM

Secara khusus, Pastor Katino menekankan hal penting tentang peranan reporter lapangan. Para reporter bertugas mengumpulkan data mentah, melakukan wawancara, serta mengirimkan laporan secara lengkap dan sistematis dari lokasi acara. Kehadiran data yang valid dari lapangan akan menjadi bahan baku utama dalam membangun narasi persiapan IYD 2027 yang inspiratif dan dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih lanjut, RD. Frans Katino menguraikan bahwa media bukan sekadar alat dokumentasi, melainkan sarana memperkuat jaringan komunikasi secara lebih luas. Dengan memperbanyak ruang dialog dan komunikasi yang intensif, berbagai tantangan teknis serta materi penting yang berkaitan dengan perayaan Pra-IYD dapat didiskusikan dan diselesaikan secara bersama-sama.

RD. Frans Katino juga menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas komitmen serta kehadiran para relawan muda yang siap mengambil bagian dalam pelayanan ini. Beliau menekankan bahwa proses menuju IYD 2027 adalah sebuah perjuangan keras yang membutuhkan semangat gotong royong, ketekunan, serta daya tahan tinggi dari seluruh tim Komsos.

Baca Juga:  Lagu Maria Bunda Allah Masuk Nominasi AMI Awards 2026, Ajak Umat Berkarya Lewat Lomba Cover

“Melalui kerja keras ini, para relawan dipanggil untuk menyadari peran strategis mereka sebagai agen sejarah. Karya dokumentasi, liputan berita, dan foto yang mereka hasilkan hari ini akan menjadi catatan sejarah penting, tidak hanya bagi perjalanan iman Keuskupan Manokwari-Sorong, tetapi juga bagi rekam jejak Gereja Katolik di Indonesia secara keseluruhan,” katanya.

Mengakhiri arahannya, RD. Frans Katino mengingatkan para relawan untuk tidak berkecil hati jika menghadapi keterbatasan atau kendala di lapangan. Setiap hambatan hendaknya dihadapi dengan keterbukaan, semangat saling mendukung, serta evaluasi yang berkesinambungan demi mewujudkan pelayanan media yang semakin berkualitas dan berdampak bagi banyak orang.

RD Ino Nahak dari Sorong

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles