HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Minggu, 1 Februari 2026, Hari Minggu Biasa IV, Zef.2:3, 3:12-13; Mzm.146:1,7,8-9a,9bc-10; Mat.5:1-12a
HIDUP sebagai umat beriman, adalah hidup yang berserah dan bersandar pada belas kasih dan rahmat Allah. Hari ini kita mempersiapkan hati sebab besok kita memperingati Pesta Yesus Dipersembahkan di Kanisah. Di momen itu kita melihat betapa Yosef dan Maria adalah orang tua yang baik, yang menyerahkan anak mereka dalam perlindungan kasih Tuhan, karena mereka percaya kekuatan rahmat Allah menyatu erat dalam ziarah Sang Penebus dosa manusia. Terkadang kita lupa membuka hati pada rahmat Allah, dan berjalan sendiri dalam keangkuhan. Sikap iman Simeon dan Hana adalah sikap menantikan, sebuah sikap iman yang terus aktif, melalui doa, harapan dan komitmen kasih.
Panggilan hidup sebagai peziarah pengharapan dimaknai secara mendalam oleh Nabi Maleakhi ketika ia menyuarakan nubuat Tuhan kepada bangsa Israel. Waktu terus berjalan, sementara perjalanan hidup berbangsa dipenuhi suka dan duka. Kekalahan perang, ancaman dari bangsa lain, dan tekanan budaya asing menumbuhkan kegelisahan iman: sungguhkah Tuhan yang mereka imani tetap menyertai langkah mereka?
Di tengah kegamangan itu, Maleakhi berdiri teguh sebagai penyambung suara Tuhan. Ia mengingatkan bangsa Israel akan janji-janji Allah yang dahulu diucapkan sebagai doa dan berkat—janji yang tidak boleh dilupakan, melainkan harus diimani, dijaga, dan diwariskan turun-temurun. Waktu memang menguji kesabaran dan menempa ketekunan, tetapi bagi Maleakhi, waktu bangsa Israel adalah waktu yang berada dalam pelukan cinta Allah yang tidak berkesudahan.
“Siapakah yang dapat tahan akan hari kedatangan-Nya?” (Mal. 3:2). Pertanyaan ini bukan ancaman, melainkan ajakan untuk berefleksi. Kehadiran Tuhan digambarkan seperti tukang pemurni logam, bukan untuk menghancurkan, melainkan untuk membersihkan dan menyucikan. Hidup tidak boleh dijalani secara asal-asalan, tetapi dipersembahkan melalui perbuatan yang baik dan benar. Ketika iman bangsa Israel mulai tergerus oleh percampuran dengan budaya dan agama lain, Maleakhi menyerukan panggilan untuk kembali kepada kemurnian iman dan ketulusan hati.
Secara khusus, Nabi Maleakhi menyapa kaum Lewi. Mereka dipanggil untuk dimurnikan agar mampu mempersembahkan korban yang benar kepada Tuhan (bdk. Mal. 3:3). Ibadat yang sejati tidak pernah berhenti pada ritual semata, melainkan menuntut kehidupan yang selaras dengan kehendak Allah. Perbuatan yang benar adalah cermin dari doa yang sejati. Nada pengharapan yang sama kita temukan dalam bacaan kedua. Penulis Surat kepada orang Ibrani menegaskan bahwa Yesus sungguh mengambil bagian dalam kerapuhan manusia. Ia memahami penderitaan dan pergumulan manusia, sehingga mampu menolong mereka yang dicobai. Harapan kristiani bukanlah harapan kosong, melainkan harapan yang berakar pada solidaritas Allah dengan manusia.
Injil hari ini membawa kita untuk merenungkan ucapan bahagia yang dilontarkan Yesus sekaligus mempersiapkan peristiwa Yesus dipersembahkan di Kenisah. Maria dan Yosef menjalankan hukum Tuhan dengan kesederhanaan dan ketaatan. Yesus dipersembahkan bukan sekadar untuk memenuhi kewajiban religius, melainkan sebagai ungkapan iman dan tanggung jawab penuh kasih orang tua terhadap masa depan anak mereka.
Di Kenisah, Simeon dan Hana menjadi saksi iman yang tekun. Bertahun-tahun mereka menantikan penggenapan janji Allah. Penantian itu tidak sia-sia. Simeon berseru penuh syukur, “Mataku telah melihat keselamatan yang daripada-Mu.” Hana, yang menghabiskan hidupnya dalam doa dan puasa, akhirnya memandang wajah Allah yang menghadirkan keselamatan.
Pesta Yesus dipersembahkan di Kenisah menyingkapkan makna hidup sebagai peziarah pengharapan. Di tengah ketidakpastian dan tantangan hidup, kita diajak untuk percaya bahwa waktu Tuhan selalu waktu yang terbaik. Dengan mata hati yang dibentuk oleh iman, kita dimampukan melihat bahwa kasih dan belas kasih Allah bekerja secara setia, melampaui keterbatasan dan kerapuhan manusia.
Marilah kita, berubah, bergerak dan berbuah, dalam semangat penyerahan keluarga kudus di bait Allah. Kita yakin dan percaya, betapa setiap kali kita berserah diri pada belas kasih dan kerahiman Tuhan, maka kita akan semakin dikuatkan untuk menjadi sahabat Yesus dalam tantangan dunia saat ini. Kasih Allah selalu baik, dan tidak pernah pudar. Tuhan memberkati.
“Hidup tidak boleh dijalani secara asal-asalan, tetapi dipersembahkan melalui perbuatan yang baik dan benar.”






