web page hit counter
Rabu, 4 Februari 2026
spot_imgspot_img

Top 5 This Week

spot_img

Related Posts

Diperlukan Kesadaran Akan Pentingnya Paradigma Ekologi yang Holistik

Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Pengalaman pahit menjadi penutup tahun 2025 bagi bangsa Indonesia, yakni  bencana ekologi yang terjadi di wilayah Pulau Sumatera. Bencana ekologi itu telah menggoreskan duka yang mendalam dengan korban jiwa lebih dari 1000 orang dan kehancuran lahan-lahan pertanian dan rumah-rumah ribuan penduduk.

Tidak bisa dimungkiri juga bahwa tragedi ekologi itu terjadi karena minim, bahkan nihilnya kesadaran ekologi yang holistik di kalangan masyarakat, lebih-lebih mereka yang terlibat langsung dalam pengambil kebijakan dan pelaku bisnis.  Bisa dikatakan bahwa bencana demikian terjadi karena paham yang keliru terhadap hubungan alam dan manusia, yakni paham mekanistik tentang ekologi.

 

Paham mekanistik adalah cara pandang di mana alam bukan sesuatu yang hidup, tetapi semata benda mati dan ia terpisahn dari manusia, sebaliknya. Alam hanya objek bagi manusia. Paham ini tidak bisa dimungkiri merupakan dampak dari semboyan  Rene Descartes “cogito ergo sum”, artinya saya berpikir maka saya ada”. Di balik ungkapan ini termaktub berbagai implikasi.

Baca Juga:  Merayakan Dasawindu Paroki Kumetiran: “Gereja Wisata” Pun Kian Relevan

Implikasi Paradigma Mekanistik

Pertama, dalam pengetahuan tentang hubungan manusia dengan alam itu sendiri. Dalam “cogito ergo sum”, eksistensi manusia terkait dengan kemampuan berpikirnya. Pengakuan tersebut mengguratkan pemahaman bahwa eksistensi yang paling nyata bagi manusia adalah berpikirnya. Bahkan dapat dikatakan di luar berpikir itu bukanlah eksistensi, melainkan objek yang menjadi sasaran dan penguasaan pikiran manusia. Ungkapan tersebut juga mengisyaratkan bahwa makhluk satu-satunya yang unggul hanyalah manusia, karena pikiran itu, sementara yang lain ada di bawah manusia.

Dengan demikian, manusia direduksi seakan hanya identik dengan kemampuan rasionalnya, sementara sisi non rasionalnya dinafikan dan ditempatkan pada posisi yang tidak penting. Secara lain dapat dikatakan bahwa manusia itu ada karena ia berpikir, seperti diadagiumkan oleh Rene Descartes. Penempatan rasio sebagai identitas eksistensi bagi manusia mengisyaratkan bahwa pengetahuan yang sah adalah pengetahuan yang rasional, yakni pengetahuan yang diperoleh dan dipahami hanya dengan mengandalkan akal budi manusia.

Baca Juga:  “KWI” Filipina Mendesak Tindakan Keuskupan yang Lebih Kuat untuk Melawan Perdagangan Manusia

Demikian halnya pengakuan eksistensi hanya berlaku pada manusia, sebaliknya alam dipandang tidak memiliki kemampuan rasional. Karena itu alam dianggap tidak bernilai pada dirinya sendiri. Sebagaimana tubuh dilihat sebagai sebuah mesin, demikian halnya alam dipahami sebagai mesin raksasa yang bergerak dan berada dengan arah bagian-bagiannya.

Dalam cara pandangan demikian, alam tidak lebih dari akumulasi bagian-bagian yang berfungsi secara otomatis dan mekanistik. Yang bisa memahami alam hanya manusia dengan akal budinya. Pendekatannya adalah memahami bagian-bagiannya dengan kemampuan analitis akal budi tanpa melibatkan seluruh tubuh, termasuk intuisi manusia.

Kedua, pengagungan rasio manusia melahirkan sikap dan perilaku yang kurang positif terhadap ekologi. Bahkan dapat dikatakan penekanan yang berlebihan terhadap metode ilmiah, kemampuan analisis dan sisi rasional dari manusia telah melahirkan sikap dan perilaku yang sangat antiekologi. Alam tidak dianggap sebagai bagian dari kehidupan manusia. Ia hanya dipandang sebagai objek dari ilmu pengetahuan itu sendiri.

Baca Juga:  Bagaimana Harus Bersikap Jika Didesak Menikah dengan Pilihan Orang tua
Pengenalan pemberdayaan ekonomi ekologis bagi orang muda.

Penekanan  tersebut pula memungkinkan manusia untuk di satu pihak memandang alam sebagai benda mati untuk dianalisa ke dalam bagian-bagiannya, tetapi juga memungkinkan manusia untuk bersifat agresif dan eksplitatif tanpa kontrol dan tanpa rasa hormat terhadap alam di lain pihak. Secara lain dapat dikatakan, pemutlakan rasio dan pengobjekan alam sebagai sasaran tunggal kajian ilmiah semata justru menghidupkan kontrol dan dominasi sebagai pola hubungan antara manusia dengan alam.

Dalam bukunya The Hidden Connections (2018) Frijtop Capra menandaskan bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi membuat manusia jatuh pada sikap dominan dan superior terhadap alam dengan pemanfaatan mesin-mesin dan teknologi canggih. Alam adalah sumber produksi yang mampu menguntungkan manusia dan hasil-hasilnya secara massal diambil demi kehidupan manusia itu sendiri. Akibatnya jelas, bahwa tindakan eksploitatif atas alam menjadi wujud nyatanya.

Inilah segala akar bencana dan krisis lingkungan hidup global dewasa ini. Sikap dan perilaku demikian telah pula melahirkan berbagai kebijakan, praktik dan pola hidup yang merusak dan menghancurkan lingkungan hidup dengan segala dampak ikutannya, termasuk pada akhirnya merusak kehidupan manusia itu sendiri.

Perlunya  Ekologi Holistik

Bencana ekologis yang melanda Indonesia mengingatkan kita bahwa sikap dan perilaku bersahabat dan peduli dengan alam dan lingkungan merupakan hal yang mendasar demi keberlangsungan kehidupan. Ini berarti paradigma berpikir tentang alam perlu diubah, yakni dari paradigma berpikir mekanistik ke pola pikir holistik.

Pandangan ekologi holistik memuat pengakuan dan pemahaman bahwa bukan hanya rasio dijadikan sebagai kemampuan memahami alam, melainkan hal itu perlu dilengkapi dengan perasaan dan intuisi manusia. Dengan demikian dapat dikatakan, rasio menjadi bagian dari kemampuan yang ada dan rasio harus berjalan seiring dengan intuisi dalam memahami alam. Memahami alam perlu disertai dengan kemampuan intuitif, perasaan dalam hubungan timbal balik antara manusia dan alam.

Perilaku bersahabat dengan alam demikian menempatkan alam dan manusia sebagai sebuah sistem menyeluruh yang terintegrasi satu dengan yang lain. Dalam hal inilah diperlukan cara pandang sitemik dan holistik atas alam semesta. Jadi, alam semesta harus dilihat sebagai sebuah sistem kehidupan yang utuh.  Dalam paradigma berpikir holistik, ciri hakiki sistem kehidupan adalah ciri keseluruhannya.

Semua ciri dalam bagian justru muncul dan berkembang dari interaksi dan relasi antara bagian-bagian. Dalam bukunya yang lain berjudul  The Web of Life (2013), Fritjop Capra sangat benar ketiga dengan tegas mengatakan bahwa bagian-bagian dari keseluruhan organisme bisa diidentifikasi namun bagian ini terkait satu sama lain. Cara pandang ini juga mengakui adanya perbedaan hakikat organisme namun perbedaan itu bukanlah memisahkan. Perbedaan itu justru mengisyaratkan pemahaman terjadi dalam bingkai keterkaitan antara satu bagian dengan bagian yang lain.

Berpikir dalam sistem adalah berpikir dan memahami dalam konteks, selanjutnya berpikir demikian berarti berpikir dan memahami dalam kerangka keseluruhan. Meminjam istilah Fritjop Capra, system thinking adalah contextual thinking, sekaligus berarti pula environmental thinking, yakni berpikir dalam konteks lingkungan hidup secara komprehensif.

Paradigma ekologi holistik juga memuat ciri dinamis kehidupan. Dalam pola berpikir demikian alam dipandang bukan objek yang bersifat statis, melainkan sesuatu yang terus bergerak. Di sini alam dipandang selalu berkembang dan berinteraksi serta saling pengaruh satu unsur dengan unsur yang lain. Dalam hal ini pula ide dari Heraclitos pada masa Yunani kuno dengan semboyan, panta rei kai uden menei,  artinya “segala sesuatu terus mengalir dan berubah, dan tidak ada yang tetap selain perubahan itu sendiri”  hadir.

Secara lain dapat dikatakan, kehidupan dipandang sebagai sebuah proses menjadi, persis seperti dikatakan oleh Alfred North Whithead dengan istilah filsafat prosesnya.  Menggunakan pemikiran Aristoteles tentang forma dan materia, dapat dikatakan bahwa forma (baca: perkembangan kehidupan) tidak berdiri sendiri di luar materia (baca: interkoneksi isi alam). Sebaliknya, materia hanya bisa menjadi actus,  nyata justru melalui forma, karena materia yang berisikan hakikat segala sesuatu hanya merupakan potentia sebelum berbentuk.

Alam semesta yang bersifat dinamis mengisyaratkan pengakuan bahwa alam juga berinteraksi satu sama lain. Ini berarti, paradigma holistik memiliki pandangan bahwa alam semesta berada dalam kerangka relasi dan integrasi di antara bagian-bagian. Secara lebih tepat dapat dikatakan, alam semesta adalah sebuah sistem besar menyeluruh yang terintegrasi dengan segala kompleksitasnya di antara bagian-bagian dan tidak dapat direduksi pada bagian-bagian tertentu, melainkan harus dilihat sebagai satu kesatuan, sebuah sistem yang hidup dan bergerak.

Bagi paradigma sistemik, semua sistem kehidupan alamiah ini mempunyai struktur masing-masing yang berkembang dalam interaksi dan saling dependen. Bagian-bagiannya juga selalu fleksibel berkembang dan berubah sesuai dengan proses interaksi itu.

Dalam cara pandang sistemik, alam semesta dan segala isinya dilihat sebagai sebuah organisme yang hidup, bukan sebuah benda mati yang digerakkan oleh hukum sebab akibat sebagaimana dicirikan oleh cara pandang mekanistik.

Jika cara pandang mekanistik yang bertumpu pada satu unsur sebagai penentu gerakan alam semesta terjadi, dalam paradigma sistem justru dinamika dan proses interaksi terjadi dengan berbagai organisme yang lainnya. Pola relasi yang terjadi juga berbeda. Jika dalam cara pandang mekanistik pola relasi bersifat linear, dalam paradigma sistemik, pola itu justru bersifat siklis.

Pola demikian menurut Fritjop Capra justru menyebabkan setiap organisme kehidupan menjadi sebuah sistem yang mampu mengatur dirinya sendiri (self organizing system). Dalam hal ini keteraturan dalam struktur dan fungsinya tidak ditentukan oleh faktor-faktor eksternal, melainkan oleh sistem itu sendiri. Karena itu pula di sini ada sifat otonom dalam organisme.

Artinya, setiap organisme berkembang sesuai dengan prinsip yang terkandung di dalamnya. Bahwa ada proses penegasan diri dengan segala keunikannya terjadi, tetapi juga ada proses membuka diri terhadap organisme yang lain yang membuat organisme tumbuh dan berkembang secara dinamis. Jadi di sini ada proses evolusi dan perkembangan dalam relasi yang erat itu.

Dinamika di atas terjadi karena di dalam setiap organisme ada kemampuan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, namun adaptasi itu bukan jatuh kepada penghilangan identitas, melainkan sebuah upaya penegasan diri yang sejati. Di sana ada saling pengaruh, saling membutuhkan, saling mendukung.

 Implikasi Etis

Cara pandang sistemik terhadap alam tentu juga memiliki implikasi etis bagi manusia. Implikasi etis ini didasari oleh keterhubungan manusia dengan alam semesta dan sebaliknya. Ini berarti manusia adalah bagian dari kehidupan alam semesta. Ia bahkan tidak bisa hidup tanpa organisme yang lain yang ada di dalam alam semesta. Pandangan ini mengisyaratkan bahwa manusia bukan makhluk superior di atas makhluk yang lain.

Ia justru menjadi bagian dari makhluk alam semesta. Ini berarti, manusia tidak saja dipahami sebagai zoon politikon, atau social animal, yaitu makhluk yang tidak bisa hidup tanpa interaksi dengan sesamanya, tetapi juga sebagai makhluk ekologis. Artinya, makna sosial sebagai hakikat manusia harus pula dihubungkan dengan ekologi.

Duta Laudato Si’ sedang mengumpulkan sampah pada acara Pembukaan Pesparani.

Karena itulah manusia dipatrikan sebagai makhluk ekologis. Cara pandangnya, cara menghayati hidupnya haruslah berbeda dan terintegrasi dengan alam semesta seluruhnya. Manusia bukan saja hidup dalam interaksi dan bergantung dengan sesamanya, melainkan juga  hidupnya memiliki dependensi dengan alam dan seluruh isinya.

Kedudukan manusia sebagai makhluk ekologis mengisyaratkan akan perlunya pemahaman baru tentang hakikat manusia sebagai makhluk sosial. Di mana letak pemahaman baru itu? Yakni makna sosialnya tidak saja dikaitkan dengan sesama manusia, tetapi juga dikaitkan dengan alam semesta.

Ini berarti konteks kata socius tidak lagi terbatas pada manusia saja, tetapi juga harus meluas kepada alam dan segala isinya. Secara tepatnya dapat dikatakan, konsep zoon politikon atau social animal yang digagaskan oleh Aristoteles dalam The Politics (2024)  harus dipahami bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa interaksi dan saling pengaruh dan saling terkait dengan makhluk hidup lainnya serta ekosistem yang menunjangnya.

Ketergantungan manusia itu justru terjadi dalam berbagai level kehidupan seperti level biologis, ekonomis dan level budaya. Pada level biologis jelas bahwa manusia tidak bisa hidup tanpa tiga  elemen mendasar alam, yakni air, udara dan makanan. Tanpa air manusia tidak dapat hidup dan berkembang.

Demikian halnya tanpa udara tidak akan ada kehidupan. Sama halnya tanpa tanah, air dan udara tidak akan ada makanan yang membuat manusia hidup. Air dan udara bergantung pada tumbuhan atau hutan dan laut. Semua elemen ini justru saling mendukung demi hadirnya kehidupan bagi manusia itu sendiri dan tentu bagi alam juga. Capra bahkan melihat  ketergantungan manusia pada hubungan yang terkait dengan unsur-unsur ini justru menjadi satu prinsip ekologis.

Pada tingkat ekonomi hal yang sama berlaku. Manusia sepenuhnya bergantung pada alam, dan pada ekosistem. Matinya mata air karena pohon yang gundul akan membuat  pelaku bisnis  akan stagnan. Demikian juga secara kultural manusia bergantung sepenuhnya pada alam sekitarnya. Kebudayaan, seperti bahasa, budidaya, pemenuhan kebutuhan sehari-cari, dan caranya memenuhi kebutuhan itu juga berkaitan dengan alam sekitar atau dunianya.

Ragam fauna dan hayati juga mempengaruhi bahasa masyarakat yang mengelilinginya. Halnya bercocok tanam sebagai bagian dari budaya yang dihidupi masyarakat sangat terkait dengan alam kehidupannya. Di kalangan etnik Batak, di Sumatera Utara, alam, dalam hal ini tanah, memiliki arti dan fungsi kultural, karena tanah dikaitkan dengan nilai leluhur dan menjadi pembentuk budaya.

Karena itu benar ketika Paul Shepard mengatakan bahwa sesungguhnya kebudayaan manusia merupakan hasil dari sebuah relasi dan interaksi primordial dalam sistem alam yang terkait satu sama lain, tidak hanya di antara makhluk hidup yang satu dengan makhluk yang lain, melainkan juga dengan seluruh ekosistem dan segala isinya.

Dengan pandangan di atas, maka jelaslah bahwa manusia maupun spesies lainnya di alam mempunyai hak yang sama untuk berkembang bersama dalam proses saling pengaruh dengan ekosistemnya. Manusia membutuhkan makhluk hidup lainnya untuk dapat bertahan hidup dan berkembang sebagai manusia yang penuh, bergantung pada udara, air, dan segala isinya serta tanah yang dipengaruhi dan dihasilkan oleh makhluk hidup lainnya. Sebaliknya, makhluk hidup lainnya membutuhkan manusia dan ekosistem seluruhnya untuk bisa bertahan hidup dan berkembang sebagai makhluk alam.

Jadi, secara eksistensial  manusia dipahami sebagai makhluk ekologis, makhluk yang menyatu dengan alam sekitar, tidak bisa bertahan hidup lepas dari alam. Manusia hidup karena alam menyediakan segala sumber kehidupannya. Inilah kenyataan hakiki tentang manusia sebagai makhluk ekologis, yakni tidak pernah berada dan terpisah dari alam dan juga ia bukan di atas alam, tetapi ada di dalamnya dan menjadi bagian di dalamnya. Proses perjalanan hidup manusia sesungguhnya terkait dengan alam entah secara langsung ataupun tidak.

Para aktivis lingkungan melakukan aksi bersih pantai Ketang, Kalianda, Lampung.

Konsekuensinya seperti sudah dikatakan di atas, identitas manusia dalam segala aspek ditentukan oleh relasi manusia dengan alamnya.  Identitas manusia ekologis itulah yang akhir-akhir ini terancam, bahkan mulai menghilang dari realitas hidup karena globalisasi dan modernisasi.

Nampaknya kesadaran akan pentingnya paradigma ekologi yang integralistik dan holistic itu diperlukan demi keberlanjutan kehidupan baik kehidupan manusia sekarang, alam dan isinya maupun kehidupan generasi berikutnya. Karena itulah sangat mendesak apa yang digagaskan oleh Fritjop Capra tentang pentinya ecoliteracy demi keberlangsungan kehidupan itu. Literasi ekologi yang kuat justru membangkitkan adanya tanggung jawab moral yang besar manusia terhadap alam. Dan hal ini merupakan yang sangat urgen dewasa ini, selain tindakan tegas penguasa atas perusak hutan. Ini juga menjadi salah satu wujud iman yang hidup.

Kasdin Sihotang, Dosen Filsafat Moral Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta/Sekretaris Himpunan Dosen Etika Seluruh Indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Popular Articles