Romo Koelman: Jesuit dengan Empat Kaul

726
Romo Gerardus Koelman SJ

SEBELUM berangkat melaksanakan karya perdana dalam Tahun Orientasi Kerasulan (TOK), Frater Gerardus Koelman SJ menerima tahbisan tonsura dan tahbisan rendah. Tahbisan tonsura dan tahbisan rendah yang praktiknya kini sudah tidak lazim lagi dalam Gereja Katolik ini ia terima dari Vikaris Apostolik Semarang (kini Keuskupan Agung Semarang) kala itu yang bergelar Uskup Tituler Danaba, Mgr Albertus Soegijapranata SJ (1896-1963), pada 25 Juli 1956 di Ambarawa. Usai tahbisan ini, ia menjalani TOK di Kolese De Britto Yogyakarta.

Selepas menyelesaikan TOK (1956-1959), Frater Koelman melanjutkan studi teologi di Yogyakarta. Ia tinggal di Kolese Santo Ignatius (Kolsani) Yogyakarta ketika bergumul dengan kuliah-kuliah teologi (1959-1963). Menjelang akhir masa studi teologi, Frater Koelman ditahbiskan menjadi diakon pada 4 Mei 1962. Selang hampir tiga bulan berikutnya, tepatnya pada Pesta Peringatan Santo Ignatius Loyola, 31 Juli 1962, ia pun menerima tahbisan imam. Oleh karena itu, kurang lebih satu setengah tahun usai tahbisan imam, Romo Koelman masih harus menyelesaikan studi teologinya. Baik tahbisan diakon maupun tahbisan imam, keduanya diterima dari tangan Uskup Purwokerto, Mgr Willem Schomaker MSC (1909-1983).

Selesai studi teologi, Romo Koelman diberi kesempatan untuk menjalani “Novisiat Tahun Ketiga”, yang biasa dikenal dengan nama Tersiat. Pendalaman rohani sebagai seorang Jesuit dalam Tersiat ia jalani di Drongen, Flanders Timur, Belgia (1963-1964). Pada 2 Februari 1965, Romo Koelman mengakhiri masa formasi dan probasinya sebagai Jesuit dengan mengikrarkan kaul akhir sebagai Profes dalam Serikat Yesus di hadapan Pater G. Schoonhoff di Yogyakarta. Profes adalah salah satu tingkatan (gradus) dalam Serikat Yesus, yang mengucapkan empat kaul, yaitu kemurnian, kemiskinan, ketaatan, dan ketaatan khusus pada Bapa Suci. Sementara itu, ada dua gradus lainnya yang dikenal dalam Serikat Yesus, yaitu Koadjutor Spiritualis dan Koadjutor Temporalis. Gradus koadjutor ini hanya mengucapkan tiga kaul, yakni triprasetya Injili (kemurnian, kemiskinan, dan ketaatan). Koadjutor Spiritualis adalah imam; sementara Koadjutor Temporalis adalah bruder.

R.B.E. Agung Nugroho

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here