Pemakaman Romo Gerardus Koelman SJ

768
Peti Jenazah Romo Koelman SJ siap di semayamkan di pemakaman. (Ist)

HIDUPKATOLIK.com – PADA Sabtu, 3/12, tepatnya pada pukul 04.55 WIB Romo Gerardus Koelman SJ meninggal di Rumah Sakit St Elisabeth Semarang, Jawa Tengah. Pastor yang dikenal berkecimpung dalam bidang edukasi dan formasi baik calon rasul awam atau calon imam ini banyak dikenang oleh mantan anak didiknya. Setelah disemayamkan di Wisma Emmaus Girisonta, jenazah Romo Koelman SJ dibawa ke Gereja Stanislaus Girisonta, Ungaran, Semarang, Jawa Tengah pada Minggu, 4/12.

Di Gereja Stanislaus, Ungaran diadakan Misa Requiem dipimpin oleh Socius Provinsial Serikat Jesus (SJ) Provinsi Indonesia Romo Lucianus Suharjanto SJ, didampingi Romo Edi Mulyono SJ, Rektor STF Driyarkara Jakarta Romo Simon Lili Tjahjadi, Vikjen Keuskupan Agung Semarang FX. Sukendar Wignyosumarta, Vikjen Keuskupan Surabaya Romo Agustinus Tri Budi Utomo, dan Romo Agustinus Setyodarmono SJ. Turut hadir dalam Misa Requiem ini Julius Kardinal Darmaatmadja SJ yang duduk di barisan kursi umat paling depan dan para pelayat lainnya.

Dalam khotbah, Romo Agustinus Setyodarmono SJ mengungkapkan bahwa para murid Romo Koelman bisa belajar banyak dari pribadi Romo yang telah berusia 85 tahun tersebut. Romo Darmono masih ingat, bahwa Romo Koelman selalu meminta para frater untuk selalu belajar juga taat kepada pimpinan atau pembesar. Selain itu, Romo Koelman juga selalu berpesan agar para frater tetap memelihara hidup rohaninya.

Seusai Misa Requiem, jenazah Romo Koelman di bawa ke Kompleks Pemakaman para pastor-pastor Yesuit di Taman Makam Maria Ratu Damai Girisonta, Ambarawa, Jawa Tengah untuk dimakamkan.

[nextpage title=”Pemakaman Romo Gerardus Koelman SJ”]

Para Romo yang memimpin Misa Reuqiem Romo Koelman SJ bersama Kardinal Darmaatmadja SJ berfoto bersama di depan peti jenazah Romo Koelman SJ. (Ist).
Para Romo yang memimpin Misa Reuqiem Romo Koelman SJ bersama Kardinal Darmaatmadja SJ berfoto bersama di depan peti jenazah Romo Koelman SJ. (Ist).

Romo Romo Simon Lili Tjahjadi yang ikut sebagai konselebran dalam Misa Requiem tersebut memiliki kesan tersendiri dengan pribadi Romo Koelman. Ia pernah menjadi rekan kerja Romo Koelman sewaktu menjadi Rektor di Seminari Tinggi-Keuskupan Agung Jakarta (KAJ). “Waktu itu Romo Koelman menjadi Pastor Pembimbing Spiritualitas di Seminari Tinggi KAJ,” ujar Romo Simon melalui telepon ketika Redaksi HIDUPKATOLIK.com menghubunginya, Senin, 5/12.

Bagi Romo Simon, Romo Koelman telah memberikan teladan yang baik untuk calon imam dan imam. Ketaataannya pada tugas yang diberikan pembesar kepadanya patut dicontoh. Menurut Romo Simon, ke mana Romo Koelman diutus, ia selalu siap menjalankan tugas itu, tanpa banyak tanya atau alasan. Romo Simon pernah mendengar cerita Romo Koelman ketika ia diminta oleh almarhum Mgr Leo Soekoto SJ (Mendiang Uskup KAJ) untuk mendampingi Persekutuan Doa (PD) Karismatik. Waktu itu Mgr Leo Soekoto SJ meminta kepada Provinsial SJ agar Romo Koelman dijadikan moderator nasional PD Karismatik. Waktu itu romo Koelman merasa heran, sebab awalnya sama sekali tidak suka dengan karismatik. “Tetapi jawaban Mgr Leo malah lain, ‘Justru karena itu!’. Maksudnya supaya Romo Koelman bisa menjadi moderator yang baik sebab akan bisa bersikap ‘seimbang dan berjarak’ dan tidak tenggelam. Dan setelah taat dan belajar pada tugas barunya itu, Romo Koelman di kemudian hari malah berkata: ‘Mgr Leo betul, dengan belajar saya jadi mencintai karismatik. Mereka memperkaya kehidupan rohani anggota dan umat Gereja’,” ungkap Romo Simon menirukan kisah Romo Koelman semasa hidup.

Bagi Romo Simon, Romo Koelman juga sungguh-sungguh menghayati panggilannya sebagai seorang Jesuit. “St Ignatius pernah merumuskan dalam Bahasa Latin: Nostra vocatio est diversa loca peragrare  yang artinya panggilan kita adalah menziarahi pelbagai tempat berbeda, untuk menjumpai Tuhan dalam segala. Dan panggilan itu bisa Romo Koelman jalankan dengan ringan, sebab ia dalam Bahasa Jawa bisa dikatakan manjing ajur-ajer yang artinya bisa membaur dengan baik dimana dan dengan siapa pun,” kata Romo Simon.

[nextpage title=”Pemakaman Romo Gerardus Koelman SJ”]

Peti jenazah Romo Koelman dibawa ke Pemakaman. (Dok. Romo Simon Lili Tjahjadi)
Peti jenazah Romo Koelman dibawa ke Pemakaman. (Dok. Romo Simon Lili Tjahjadi)

Sedangkan bagi Direktur PT Kanisius Yogyakarta, Romo E. Azismardopo Subroto SJ yang pernah didampingi Romo Koelman sejak masih SMA, Romo Koelman merupakan pendorong baginya untuk mendaftarkan diri ke Novisiat SJ Girisonta tanpa harus melalui jalur seminari. “Waktu itu adalah hal yang tidak lazim mendaftar langsung ke Girisonta dari SMA. Namun berkat dorongan Romo Koelman saya bisa masuk,” ungkapnya.

Dalam menjalani panggilan, Romo Azismardopo mengaku selalu menjalin kontak dengan Romo Koelman sebagai pembimbing rohaninya lewat korespondensi maupun tatap muka. “Wejangan-wejangannya selalu membawa saya untuk semakin mencintai Serikat Jesus. Setiap kali bertemu dengan beliau, saya selalu disapa: Azis… apakah kamu masih selalu sibuk-sibuk dengan aneka pekerjaan dan tugas-tugas? Jangan lupa rekreasi… tahun ini sudah retret belum? Inilah sapaan yang selalu mengingatkan saya untuk selalu memelihara panggilan imamat saya,” kenang Romo Aziz.

Selamat jalan Romo Koelman… Semoga engkau berbahagia di Surga.

Jenazah Romo Koelman siap dimasukkan ke liang lahat. (Dok. Romo Simon Lili Tjahjadi)
Jenazah Romo Koelman siap dimasukkan ke liang lahat. (Dok. Romo Simon Lili Tjahjadi)

A. Nendro Saputro

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here