Manusia dalam Agama dan Politik

56
diskusi Buku The Righteous Mind di Gedung Tempo (Tempo.co)

HIDUPKATOLIK.com – AGAMA dan politik tidak jarang menjadi sumber perbedaan pendapat di suatu negara ketika akan membuat beragam kebijakan bagi kepentingan bersama. Dua hal ini sering menjadi penghalang manakala ingin dibuat sebuah keputusan penting untuk mengatasi masalah bersama. Hal inilah yang menjadi salah satu pembahasan dalam buku The Righteous Mind, yang didiskusikan di Redaksi Media Tempo, 26/1.

Dalam diskusi ini, Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian, Alissa Wahid, mengatakan intoleransi dalam konteks saat ini sangat terlihat dalam kehidupan sehari-hari di Indonesia. Alissa menambahkan, seseorang yang di dalamnya memiliki kesadaran akan semangat segolongan, orang itu cenderung buta terhadap pandangan orang lain. “Kalau tidak segera direspons, pengelompokan akan semakin tegas dan setelah itu berat. Kenapa? Politik main di sana. Akibatnya, hak-hak konstitusional terlanggar,” ujarnya.

Putri Gus Dur ini melanjutkan kondisi semacam ini dapat dirubah. Agama jangan mudah terpecah-belah, jangan biarkan kelompok-kelompok yang mengatasnamakan agama memecah belah pemersatu Indonesia.

Pembicara lain, Romo Greg Soetomo menyoroti pembahasan di dalam buku yang kurang mendalam terkait agama dan lebih fokus terhadap politik dan sosial. Namun menurutnya, buku ini menjelaskan bahwa kebaikan seseorang tidak dapat diukur dari agama dan golongannya.

Diskusi buku ini merupakan kerjasama antara Penerbit Periplus, Tempo, Komunitas Sudara dan Komunitas Vox Point. Pembicara lain dalam diskusi ini adalah Muhamad Wahyuni Nafis, Yustinus Pratowo dan Hermin Y. Kleden.

Antonius E. Sugiyanto

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here