St Amatus : Abbas Pertama Remiremont

196
Gelar Kudus: Kapel St Amatus yang didirikan di Bukit Romaric.
[4.bp.blogspot.com]
2/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.com – Sejak kecil, ia sudah mengikuti ritme hidup dalam biara, lalu memilih hidup sebagai rahib. Ia berhasil mempertobatkan seorang bangsawan Franks dan bersamanya mendirikan sebuah biara. Masa tuanya ia jalani dengan tinggal di sel kecil.

Jamuan makan di istana Romaric tampak berbeda dari biasanya. Ia merupakan seorang bangsawan Franks pada masa pemerintahan Raja Clotaire II di Austrasia, Kekaisaran Merovingia kini: Eropa Barat yang meliputi sebagian Perancis, Jerman, Belgia, Luxembourg dan Belanda). Di Istana Habendum, Vosges (kini: Vosges, Lorraine, Prancis), ia menerima tamu seorang rahib dari Biara Luxeuil, Burgundy kini: Haute-Saône, Franche-Comté, Perancis).

Tanpa ragu, tuan rumah pun menumpahkan litani pertanyaan terkait pelbagai perkara rohani pada Sang Rahib selama jamuan makan itu. “Apa yang harus kulakukan agar aku beroleh hidup yang kekal?” tanya Romaric.

Sembari menunjuk aneka macam perkakas perak nan indah di atas meja makan, sang rahib menjawab dengan lembut, “Juallah segala sesuatu yang kamu miliki; dan bagikanlah hasilnya pada orang miskin dan Gereja. Maka, kamu akan memperoleh harta Kerajaan Sorga. Lalu setelah itu, datang dan ikutlah aku.”

Jawaban Sang Rahib yang cerdas nan bernas itu dikutip dari kata-kata Yesus dalam Injil Markus 10:21. Gayung pun bersambut. Romaric menerima jawaban itu secara harafiah. Sabda itu seolah menusuk tepat di jantung jiwanya. Ia begitu terpesona dan semangat pengabdian pada Tuhan segera membakar kehendaknya.

Usai menimbang dengan saksama, Romaric memutuskan untuk mengikuti jejak Sang Rahib. Ia menjual seluruh harta miliknya dan membagikannya pada kaum papa dan Gereja, kecuali Istana Habendum yang di kemudian hari dijadikan biara oleh Romaric dan sang rahib.

Pertobatan Romaric ini menjadi kisah paling masyhur dalam hidup St Amatus. Dialah rahib yang berhasil menarik Romaric untuk mengikuti panggilan membiara. Lantaran kunjungan dan percakapan rohaninya di Habendum, ia berhasil menggaet Romaric untuk menjadi seorang rahib.

Tumbuh di Biara
Konon, sejak kecil Amatus sudah dititipkan di Biara Agaunum, Burgundy (kini: Saint-Maurice-en-Valais, Swiss). Sebagai putra bangsawan dari garis keluarga Gallo-Romawi yang lahir sekitar tahun 567, orangtuanya menginginkan buah hatinya mendapatkan pendidikan yang layak. Pilihan jatuh pada Biara Agaunum. Dari tempat kelahirannya, Grenoble (kini: Perancis Tenggara), Amatus dibawa orangtuanya hijrah ke Agaunum.

Di biara itu Amatus mendapatkan pendidikan yang baik. Namun, habitus hidup membiara pun sudah ia rasakan sejak masa kecilnya. Pengalaman tinggal di biara ini ternyata lekat dalam benaknya. Kehidupan para rahib begitu familiar baginya.Ia memutuskan untuk menghidupi panggilan sebagai rahib di biara itu ketika usianya mulai merangkak remaja. Bahkan selama tinggal di sana, ia nyaris tak pernah pergi ke manapun.

Amatus bergabung sebagai seorang rahib di Biara Agaunum.

Dalam penghayatan hidupnya, ia bahkan memutuskan untuk hidup sebagai pertapa. Ia memilih hidup menyendiri di dalam sebuah sel kecil di tebing-tebing curam, tepat di belakang biara itu. Hidupnya diisi dengan doa, pantang, puasa, matiraga, dan praktik kesalehan pribadi yang amat ketat. Asupan makanan ditopang dari hasil sepetak kecil tanah di depan selnya. Tanah itu ia tanami dan pelihara. Hasil bercocok tanam itulah yang ia gunakan untuk makan sehari-hari.

Tapak Keabbasan
Praktik kesalehan hidup Amatus yang amat ketat menjadi sorotan di lingkungan Biara Agaunum. Ia dipandang sebagai seorang pertapa yang sungguh menghayati kesucian hidup panggilannya.

Tahun 614, Biara Agaunum mendapatkan kunjungan dari Eustasius, seorang Abbas Biara Luxeuil, Burgundy. Eustasius, yang di kemudian hari menerima gelar Santo, ialah murid St Kolumbanus yang mengembangkan pendidikan seminari di Biara Luxeuil dan pernah menyembuhkan St Sadalberga dari buta bawaan sejak lahir. Selama singgah di Agaunum, Eustasius terpikat dengan semangat dan kesucian hidup Amatus. Tak heran, ia berusaha mengajaknya untuk hijrah ke Luxeuil dan menjadi pertapa di sana. Berkat diplomasi dan pendekatan yang lihai, hati Amatus pun lumer dan menerima tawaran Abbas Eustasius. Mereka pergi bersama ke Biara Luxeuil.

Ketika Amatus sudah menjadi pertapa di Luxeuil, peristiwa pertobatan Romaric terjadi. Bersama Romaric, Amatus mendirikan Biara Remiremont dengan menggunakan bekas Istana Habendum pada 620. Nama biara ini diambil dari nama Romaric: “Romarici Mons” (Latin: Bukit Romaric). Lalu Eustasius menyetujui penggunaan warisan tradisi St Kolumbanus dalam biara baru ini; dan Amatus didaulat sebagai Abbas pertama.

Amatus hanya sekitar tiga tahun mengampu tampuk pimpinan sebagai Abbas. Meski demikian, ia mewariskan praktik hidup yang dibawanya sejak menjadi pertapa di Biara Agaunum. Salah satunya ialah tradisi laus perennis (Latin: pujian abadi). Praktik ini merupakan model doa pujian yang harus didaraskan oleh anggota biara secara bergiliran karena tak boleh putus atau berhenti di tengah jalan.

Pilihan Radikal
Sekitar tahun 623, Amatus mengundurkan diri dari takhta keabbasannya dan menunjuk Romaric untuk meneruskan tongkat kegembalaan biara. Selain alasan usia yang sudah lanjut, Amatus masih memendam kerinduan untuk dapat meneruskan praktik hidupnya sebagai pertapa seperti yang telah dijalaninya di Biara Agaunum. Meskipun sudah lengser keprabon (Jawa: turun takhta), ia sesekali masih memberikan nasihat pada Abbas Romaric untuk meningkatkan kualitas hidup para rahibnya.

Amatus menghabiskan masa tuanya dengan memilih hidup sebagai pertapa yang tinggal menyendiri di dalam sel kecil. Seperti pengalamannya di Agaunum, ia mencurahkan sebagian besar waktunya untuk berdoa, pantang, puasa, matiraga dan praktik kesalehan dengan sangat keras. Ia mengolah sebidang tanah sempit untuk bercocok tanam dan memelihara lebah untuk diambil madunya. Hasilnya ia cukupkan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Bahkan, tak jarang ia membagikan panenan madu pada komunitas biara.

Selama tinggal menyendiri, Amatus sesekali masih ikut bergabung dengan komunitas. Namun, ia hanya ikut untuk berofisi (baca: mendaraskan Ibadat Harian) bersama komunitas biara pada hari Minggu dan Hari Raya. Selebihnya, ia menikmati waktu kesendiriannya dengan berkanjang dalam doa dan matiraga di selnya yang sempit.

Mahkota Kekudusan
Pada masa tuanya, praktik kesalehan Amatus seolah kian bersinar. Praktik hidup menyendiri yang ia lakoni menginspirasi banyak rahib dan menjadi salah satu model pilihan hidup untuk mencapai kekudusan. Baginya, langgam hidup erkomunitas memang sudah baik untuk menuju jalan pemurnian hidup. Namun, dirinya masih merasa kurang bersusah payah hingga memutuskan hidup menyendiri.

Amatus menyadari, pemurnian hidup harus dilakoni dengan doa dan matiraga yang keras hingga tubuh jasmaninya seolah dimatikan. Dengan menyadari dan mengembangkan rahmat yang diterima dari Allah setiap hari, niscaya praktik doa dan matiraga yang keras sekalipun akan bermuara pada kebahagiaan dan menuju jalan kebersatuan dengan Sang Khalik. Setelah sekitar tujuh tahun menjalani proses pemurnian ini, ia berpulang ke rumah Bapa dalam damai pada 630.

Amatus dikenang sebagai Abbas pertama dan pertapa pembaru Biara Remiremont. Warisan kesucian hidupnya sangat dihormati dan dipegang teguh oleh para penerusnya. Gereja menganugerahkan mahkota kekudusan padanya bersama St Romaric dan St Adelphus. Mereka digelari Santo oleh Paus Leo IX pada 3 Desember 1049. Relikwinya disemayamkan di Biara Remiremont. Gereja mengenangkannya setiap 13 September.

R.B.E. Agung Nugroho

HIDUP NO.12 2014, 23 Maret 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here