Persembahan Pertama

227
4/5 - (5 votes)

HIDUPKATOLIK.com SUATU hari aku berkunjung ke gua Maria. Kegiatan ini sudah kulakukan tiga bulan terakhir sejak pindah ke rumah baru. Setiap kali aku ke sana, seorang bapak berusia paruh baya selalu duduk di bangku doa yang bersebelahan denganku. Terkadang ia hanya tersenyum padaku tanpa mengucapkan sepatah kata.

Sebelum berdoa ia mengeluarkan setiap kotak kecil berukuran roti lapis dari tasnya, membuka tutupannya dan meletakkannya di depan patung Bunda Maria. Seusai berdoa, ia duduk di bangku taman yang tidak terlalu jauh dari situ. Di saat yang sama aku juga ke sana dan duduk di sebelahnya sambil menikmati indahnya pemandangan sore berlatar belakang bunga- bunga indah, danau buatan dan bukit-bukit nan hijau.

“Udara sore ini sejuk sekali,” ia membuka percakapan.
“Tentu, apalagi cuaca hari ini sangat cerah,” aku menanggapinya. “Aku suka sekali cuaca cerah.”
“Aku suka cuaca hujan.”
“Oh iya?”
“Saat hujan para petani mulai menanam dengan penuh semangat.”

Dari obrolan panjang lebar sore itu aku mengenalnya sebagai Cella, seorang petani tradisional di sebuah desa di Nenuk, Atambua.

“Apa kesuksesan terbesarmu sebagai petani?” Aku memberanikan diri untuk bertanya meskipun pada mulanya terbersit keraguan dalam benakku.
“Setiap tahun aku bisa memperoleh hasil panen melimpah. Itu kesuksesan, bukan?”

Ia bertanya heran dan terlihat aura keceriaan di wajahnya. “Dan semuanya dimulai dengan ritual khusus.”
“Ritual khusus?” Aku semakin penasaran.
“Mengapa kau terlihat begitu bingung?”
“Entahlah. Ritual seperti apa yang kau maksudkan?”

Ia diam sebentar dan menjawab, “Hasil panen terbaik setiap tahun harus dipersembahkan untuk Tuhan terlebih dahulu. Biji-biji jagung atau gabah-gabah kering ia simpan di kotak-kotak khusus. Setelah didoakan dan dipersembahkan di depan patung Bunda Maria barulah dipersiapkan untuk bibit-bibit tanaman pada musim berikutnya.”

Aku yakin itulah alasan pokok mengapa ia membawa kotak-kotak kecil berisi biji- biji terbaik setiap kali berdoa di gua Maria. Biji-biji yang sudah didoakan sebagai persembahan pertama di awal musim, selanjutnya ia simpan di wadah khusus.

Baginya, persembahan istimewa di setiap musim tidak boleh diabaikan. Dari generasi ke generasi, keluarganya telah memberikan persembahan terbaik, persembahan yang diberikan dengan suka cita dan hati penuh rasa syukur kepada Tuhan.

“Mengapa kau melakukan hal unik seperti ini?”
“Karena aku mengandalkan Tuhan.”
Jawabannya merupakan tamparan bagiku karena selama ini terkadang aku tidak tahu bersyukur, hanya mengadalkan diriku sendiri dan begitu asyik dengan urusan duniawi. Rupanya Tuhan mengutus Cella untuk menyapaku agar aku semakin membuka mata hatiku dan mulai melihat kebesaran-Nya di setiap jejak langkah hidupku.

“Ketika kau mengandalkan Tuhan, hatimu selalu penuh dengan benih-benih ketulusan,” ia menambahkan. “Ketulusan adalah ungkapan jiwa, ungkapan iman yang teguh karena Tuhan telah memberikan segalanya termasuk tanaman-tanaman yang bertumbuh subur tanpa hama hingga menghasilkan panenan melimpah.”

Ceritanya sore itu menggiringku ke permenungan dasar bahwa Tuhan akan memberikan bonus berkali-kali lipat kepada orang-orang yang selalu mengandalkan-Nya dalam setiap kondisi. Di balik semuanya ini tersimpan rasa syukur yang mendalam – sisi lain dari iman yang semakin dewasa.

Rasa syukur tumbuh dari iman yang kuat dan hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan. “Bagaimana kau bisa mengucap syukur bila kau makin jauh dari Tuhan dan merasa asing bagi-Nya?” ia bertanya padaku dengan ekspresi menggugat. “Apa pendapatmu, Berto?”

“Cella, berhentilah bertanya begitu.” Aku membetulkan kacamataku dan melanjutkan, “Aku yakin pertanyaan ini lebih sulit daripada pertanyaan ujian mata pelajaran agama Katolik.”
“Kalau kau bisa menjawab pertanyaanku,” ia berkata sambil tersenyum lebar, “kau bisa menguasai dirimu sendiri, memahami dan menghayati makna kehidupanmu sepenuhnya.”

Kukatakan padanya bahwa pertobatan adalah jawaban dari keterasingan, kelalaian, kerapuhan iman dan keangkuhan manusia yang lebih memilih jalannya sendiri dan tidak mau mengandalkan Tuhan. Melalui pertobatan, manusia bisa memulai kehidupan baru, menemukan jalan menuju perubahan dan keteguhan iman.

Dalam benakku tiba-tiba muncul sosok St. Ignatius Loyola, orang kudus yang mengambil jalan pertobatan dan melepaskan ikatan status sosial, kenyamanan, dan kekayaan duniawi. Sentuhan ajaib Tuhan telah membuka hatinya untuk memulai perjalanan rohani dalam kesederhaan, tekad yang kuat dan hati penuh rasa syukur.

“Berto, jawabanmu mengingatkanku pada kisah hidupku sendiri,” ia berkata dengan mata berkaca-kaca. “Aku pernah jatuh ke dalam dosa dan akhirnya bertobat.”
“Oh oh,” aku mendesah. “Akhirnya seorang pendosa mau bertobat.”
Aku tertawa dan ia terpancing untuk ikut tertawa lepas seolah kata pendosa yang aku ucapkan, memberikan penekanan khusus atau mungkin masa lalu kami berdua memang sarat dengan dosa-dosa sampai-sampai terasa lucu bila dikenang kembali.

“Aku suka kisahmu.” Rasa ingin tahuku begitu besar. “Coba ceritakan padaku, Cella.”
Pada mulanya ia hanya tertawa tetapi aku terus memohon dengan serius dan sesaat kemudian ia mulai bercerita tentang pengalaman hidupnya dulu.

“Waktu masih kecil,” ia berkisah, “aku dan teman-temanku menirukan adegan orang dewasa. Aku berperan sebagai pastor yang mengenakan jubah yang terbuat dari karung plastik. Konteks adegan kami saat itu adalah perayaan malam Paskah.

Kami membuat obor dari bambu dan setelah semuanya siap, kami melakukan perarakan menuju pondok kakek.” Aku tidak memberikan respons dan hanya duduk terpaku mendengarkannya.

“Sebelum memasuki pintu pondok, aku mengangkat obor tinggi-tinggi dan berseru, ‘Terang Kristus’. Sontak teman-temanku menjawab, ‘Syukur kepada Allah.’ Sesuatu yang tak kusangka-sangka terjadi karena ternyata nyala obor langsung menyambar sisi depan atap pondok yang terbuat dari alang-alang. Dalam  sekejap pondok kakek hangus terbakar.

”Aku tidak menyangka kisahnya berakhir begitu menyedihkan. Kata kecelakaan muncul dalam benakku sebelum bertanya, “Bukankah itu hanya kecelakaan kecil, Cella? Bagaimana reaksi kakekmu?”

“Setelah kejadian itu, kakekku memanggil aku dan teman-temanku. Dengan penuh penyesalan, aku memohon maaf padanya berkali-kali. Teman-temanku juga melakukan hal yang sama. Kami terpola untuk menyatakan penyesalan karena pelajaran itu yang kami peroleh dan praktekkan di sekolah.”

“Kalian memang anak-anak nakal.” Aku menatapnya tajam. “Setidaknya kakekmu berpikir demikian. Aku yakin ia marah besar karena kalian telah melakukan kesalahan fatal.”

“Aku sangat heran saat itu, Berto.” Ia mengangkat bahu seperti mau menunjukkan padaku bagaimana seorang kakek menghadapi anak-anak yang telah berulah.
“Kakekku tidak memperlihatkan sikap marah atau ekspresi geram pada kami. Mungkin ia menyembunyikannya.”

Setelah itu alur kisahnya berujung pada pembaruan sikap yang ikut membentuk karakternya sampai sekarang.
“Berto, aku tak habis pikir mengapa kakekku hanya berkata, ’Janganlah melakukan
hal konyol seperti ini lagi sebelum kalian dibuat menyesal seumur hidup.’

Teman-temanku pun dibiarkan pergi ke rumah masing-masing. Kemudian, ia memanggilku ke ruangannya dan memberitahukan bahwa kotak-kotak berisi biji-biji tanaman terbaiknya ikut terbakar di pondok naas itu.”

Dari titik inilah Cella mengetahui arti rasa syukur kepada Tuhan dan berkomitmen kuat untuk tetap melakukan ritual khusus itu dalam keluarganya. Aku pun ingin melakukan ritual yang sama untuk keluargaku sebagai bentuk rasa hormat dan kasih pada Tuhan

 

Anselmus Sudirman

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here