Kisah Sang Visioner

404
Judul : Blusukan Dukun Banyu Olah Syahwat; Penulis : St Sularto; Penerbit : OBOR, 2018; Tebal : xiii + 251 halaman.
Kisah Sang Visioner
4 (80%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.COM –  GEREJA akan terus hidup dan bertahan meski dari waktu ke waktu berganti “gembala”. Ketika seorang uskup pensiun atau meninggal, selalu ada pengganti yang akan meneruskan kepemimpinan. Begitulah “estafet gembala” yang terjadi dalam Gereja Katolik. Roh Kudus selalu membimbing sepanjang perjalanan Gereja.

Kepemimpinan di Keuskupan Purwokerto terus berlanjut dari waktu ke waktu. Saat pengunduran diri Mgr Julianus Kema Sunarka SJ disetujui Takhta Suci pada 29 Desember 2016 itu tidak berarti berakhirnya Gereja Katolik Purwokerto.

Dalam kekosongan kursi keuskupan yang berlangsung satu tahun tujuh bulan, umat Purwokerto tetap mendoakan kehadiran gembalanya. Doa tersebut terkabulkan setelah Paus Fransiskus menunjuk uskup baru yakni Mgr Cristophorus Tri Harsono sebagai Uskup Purwokerto.

Mgr Tri Harsono ditahbiskan pada Selasa 16 Oktober 2018. Ada yang menarik dalam estafet gembala di Purwokerto di mana uskup yang terpilih berasal dari imam diosesan. Lebih unik lagi, uskup baru ini berasal dari luar Purwokerto, yakni dari Keuskupan Bogor.

Buku Blusukan Dukun Banyu Olah Syahwat ini pada awalnya disiapkan sebagai biografi Mgr Sunarka. Di dalamnya berisi kesaksian-kesaksian iman Mgr Sunarko. Maka, buku ini pas sebagai sumber untuk mengenal lebih dalam sosok Mgr Sunarka. Dari Mgr Sunarko pembaca dapat menimba banyak hal.

Pribadinya yang ceplas-ceplos, terbuka, sederhana, rendah hati, ramah, dan pluralis tentu akan tetap diingat oleh umat Katolik Purwokerto. Mgr Sunarka dianggap paranormal sejati (visioner). Gelar yang disematkan kepadanya sebagai “Uskup Paranormal” bukan tanpa dasar. Ia memiliki kemampuan melihat secara menyeluruh masa depan keuskupan dan lembaga yang dilayaninya tersebut. 

Adapun kemampuan tersebut tampak pada kejeliannya melihat kebutuhan sumber daya manusia dan sumber daya keuangan. Tak kalah unik, ia juga disebut sebagai “dukun banyu” yang menemukan sumber air di bawah permukaan tanah.

Selain itu, ia juga dikenal sebagai uskup yang gemar blusukan ke kampung-kampung, dengan tujuan untuk mengetahui dan menyapa keadaan umatnya. Ia ingin merasakan denyut nadi umatnya. Dalam, ia tidak memandang bulu dalam sekat-sekat agama, suku dan ras, ia mau berhubungan dengan siapapun.

Itulah yang membuatnya dikenal dan dicintai oleh banyak orang, tidak hanya umat Katolik tetapi juga umat agama lain. St Sularto menyajikan buku ini dengan pelengkap ulasan-ulasan dari beberapa tokoh yang dekat dengan pribadi Mgr Sunarko.

Sebut saja Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama Kabupaten Banyumas Mohammad Roqip, Kepala Paroki St Mikail Gombong Pastor Agustinus Handi Setyanto, Mantan Ekonom Keuskupan Purwokerto Pastor Agustinus Handoko MSC hingga staf Komunikasi Sosial Keuskupan Purwokerto Sutriyono Robert.

Mereka dengan caranya masing-masing mengupas pengalaman-pengalaman pribadi bersama “uskup blangkon” ini. Meskipun sebagian besar buku ini mengulas tentang kehidupan Mgr Sunarka, akan tetapi dengan ditahbiskannya Mgr Tri Harsono, buku ini juga menjadi salah satu sambutan bagi Uskup Purwokerto yang baru.

Penulis memasukkan juga tentang Mgr Tri Harsono sebagai ucapan syukur dan selamat datang. Sangat jelas bahwa kehadiran uskup baru di Purwokerto sebenarnya melanjutkan penggembalaan dari uskup sebelumnya. Dengan demikian, estafet gembala terus berlanjut dari waktu ke waktu.


Willy Matrona

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here