Paroki Santo Paulus II Brayut: Gereja di dalam Hati

228
Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko didampingi Pastor Paroki Brayut, Petrus Tri Margono sedang menandatangani prasasti peresmian Paroki Brayu. [HIDUP/ H. Bambang S]
Paroki Santo Paulus II Brayut: Gereja di dalam Hati
1 (20%) 1 vote

HIDUPKATOLIK.com – Meskipun belum memiliki gedung gereja, namun bangunan pusat pastoral memiliki fungsi unik untuk siaga bencana.

BIASANYA sebuah paroki memiliki gereja, tapi Paroki Santo Yohanes Paulus II Brayut, Sleman-DI Yogyakarta ini tidak. Paroki baru yang berada di wilayah Keuskupan Agung Semarang (KAS) ini baru saja diresmikan oleh Uskup Agung Semarang Mgr Robertus Rubiyatmoko.

“Mungkin, paroki kami ini paling miskin karena tidak punya gereja. Kami menanamkan, gereja kami ada di dalam hati tiap umat,” ujar Pastor Paroki Brayut, Pastor Petrus Tri Margono. 

Hari itu, ketika banyak orang menyiapkan penyambutan Tahun Baru 2019, di Pendapa Limasan kompleks Pusat Pastoral Wilayah (PPW) St Yohanes Paulus II dilaksanakan Perayaan Ekaristi kepyakan (peresmian) Paroki Santo Yohanes Paulus II Brayut.

Perayaan syukur yang dihadiri ribuan umat ini dipimpin langsung oleh Mgr Rubiyatmoko. Paroki Santo Yohanes Paulus II Brayut terletak di Desa Pandowoharjo, Kabupaten Sleman. Paroki baru ini membawahi lima wilayah dan 23 lingkungan.

Umat berjumlah 2.217 jiwa. Kelima wilayah yang diurusi paroki ini adalah Wilayah St Yakobus Tambakrejo, St Paulus Donoharjo Selatan, St Petrus Donoharjo Utara, St Yohanes Brekisan dan Wilayah St Venantius Dukuh.

Mgr Rubiyatmoko mengaku ragu ketika akan memutuskan Pastoral Brayut menjadi paroki. “Permohonan jadi paroki sudah sejak 25 September 2017, tapi muncul pertanyaan dalam diri saya, wong ora duwe gereja (Brayut tidak punya gereja-Red)?” tanyanya dalam hati.

Pastor Tri mencoba menjelaskan, penggembalaan umat Paroki Brayut menerapkan model diaspora. Artinya, menyebar di lima wilayah karena masing-masing wilayah sudah memiliki kapel. Mengingat Paroki Brayut tidak punya gereja, maka pelayanan Misa pada Sabtu dan Minggu di kapel-kapel wilayah dijadwalkan bergiliran.

Tiga kapel wilayah secara bergantian diadakan Misa pada Sabtu dan Minggu. Sedangkan di dua kapel lainnya pada minggu berikutnya. 

Barak Pengungsian
Paroki baru ini merupakan pemekaran dari Paroki St Aloysius Gonzaga Mlati, Sleman. Paroki ini memiliki pusat pastoral yang dibangun di atas tanah seluas 2.056 meter persegi. Pusat pastoral ini terdiri empat bangunan utama.

Paroki Santo Paulus II Brayut. [HIDUP/ H. Bambang S]
Di lantai atas untuk tempat tinggal iman, ruang belakang untuk karyawan, dan bagian kanan bangunan limasan difungsikan untuk sekretariat dewan. Kompleks pastoral ini dilengkapi bangunan joglo untuk kegiatan pertemuan dan berkesenian umat, termasuk warga sekitar.

Ini dimaksudkan untuk mendukung identitas Brayut sebagai desa wisata dan Pandowoharjo sebagai desa budaya. Sedangkan bangunan limasan disiapkan untuk mendukung kegiatan OMK, PIA, PIR dan pendamping iman umat (PIU).

Menurut Pastor Tri, joglo dan limasan yang letaknya di tengah persawahan itu juga memungkinkan untuk barak pengungsian warga lereng Merapi, bila sewaktu-waktu terjadi erupsi Gunung Merapi. “Paroki Brayut letaknya tak jauh dari daerah rawan bencana Merapi,” sebutnya. 

Mgr Rubiyatmoko mengaku tertarik dengan konsep pembangunan kompleks pastoran yang terbuka itu. Gagasan Pastor Tri menjadikan Paroki Brayut sebagai paroki diaspora dinilainya baik.

“Ini tidak jauh beda dengan gagasan gereja lain yang melibatkan semua umat, sehingga umat terlihat dalam kebersamaan. Intinya sama, umat terlayani melalui pelayanan di kapel-kapel wilayah. Ini seperti gambaran cara hidup jemaat perdana,” ujarnya. 

“Dalam sebuah kebersamaan yang luar biasa, umat keliling dari satu tempat ke tempat lain untuk mendengarkan sabda Tuhan. Inilah gambaran yang akan kita kembangkan. Keberadaan Paroki Brayut hendaknya menjadi bagian dari masyarakat yang kurang terperhatikan. Sehingga akan semakin banyak orang yang mengalami keselamatan,” harap Mgr Rubiyatmoko.


H. Bambang S (Yogyakarta)
HIDUP NO. 02 2019, 13 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here