Bori Tajauobih Edueap : Merawat Warisan Suku Dayak

179
Anak-anak menampilkan Tarian Dayak di depan halaman Bori Tajauobih Edueap.
[NN/Dok.Pribadi]

HIDUPKATOLIK.com – Merawat warisan leluhur Suku Dayak adalah upaya menghargai ciptaan Allah. Karena manusia adalah bagian dari rencana Allah tersebut.

Pondok-pondok sederhana berdiri kokoh di tengah perkebunan karet milik Bruder Maria Tak Bernoda (MTB) di Desa Kuala Dua, Kecamatan Kembayan, Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Tidak jauh dari situ mengalir Sungai Sekayam yang bermuara di Sungai Kapuas.

Dalam bahasa setempat, pondok-pondok itu disebut Bori Tajauobih Edueap yang berarti ‘Tempayan Bersama Kita’ atau sering disebut Bori. Berdiri sejak 2013, pondok-pondok tersebut dirancang dengan memanfaatkan kayu dan alang-alang sebagai atapnya. Bentuknya memanjang seperti rumah panggung. Untuk masuk ke dalam, setiap orang harus melewati tangga kecil yang telah disediakan di depan pintu.

Tempat Bori berdiri masih berada di wilayah Paroki Gembala Yang Baik Kuala Dua, Keuskupan Sanggau. Sehari-hari, Bori tidak pernah sepi pengunjung. Ketua Justice, Peace and Integrity of Creation (JPIC) Kongregasi Bruder Santa Maria Tak Bernoda (MTB) Bruder Geradus Weruin MTB mengungkapkan, pengunjung Bori berasal dari berbagai kalangan, baik tua maupun muda. Di Bori, mereka saling berjumpa dan menjalankan beragam kegiatan.

Lima Pondok
Terdapat lima Bori (pondok) yang berdiri kokoh di tempat ini. Berdirinya pondok-pondok tersebut berawal dari keprihatinan JPIC MTB terhadap perkembangan budaya Dayak. Sebagaimana hasil penelusuran, kian hari, budaya Dayak semakin luntur tergerus perkembangan zaman. Kemunduran ini semakin diperparah karena pengaruh eksploitasi terhadap lahan masyarakat adat.

Bruder Gerardus menjelaskan, hingga saat ini banyak warga kehilangan tanah leluhur. Padahal, di tanah ini beragam aktivitas adat berlangsung. Eksploitasi sawit telah menggerus semuanya dan mengorbankan masyarakat adat. Selain itu, imbuhnya, banyak generasi penerus suku Dayak juga mulai dipengaruhi oleh budaya-budaya dari luar. “Mereka meninggalkan kebiasaan menari, menyanyikan lagu-lagu Dayak, menggunakan pakaian adat, pacara-upacara dan ritual-ritual adat. Mereka lebih memilih lagu dari luar yang katanya lebih modern,” terangnya

Bruder Gerardus mengatakan, sebenarnya budaya Dayak sangatlah kaya apabila diarungi lebih dalam. Ia menjelaskan, leluhur Suku Dayak telah mewariskan kekayaan budaya tersebut dari generasi ke generasi. Hal ini sudah sangat memprihatinkan, ia mengakui, apabila generasi penerus tidak merawat warisan ini, tentu budaya Dayak lambat laun akan luntur.

Menyadari ini, para Bruder MTB yang sudah lama bermisi tanah Dayak, tidak mau cuci tangan. Melalui Komisi JPIC MTB, para Bruder MTB mendirikan Bori sebagai pusat untuk mengembangkan budaya Dayak. Mereka berusaha merangkul generasi muda agar mencintai budaya. “Bermula dari satu pondok, kemudian muncul pondok-pondok lain. Saat ini sudah ada lima pondok,” bebernya.

Pondok-pondok ini juga didirikan dalam rangka meningkatkan kecintaan terhadap alam semesta dan memupuk semangat untuk menjaga serta melestarikannya. Pondok ini dimanfaatkan sebagai tempat atau sarana untuk menyepi, pembinaan masyarakat, khususnya kaum muda, untuk berkumpul, bertukar pikiran, silaturahmi, belajar, mengembangkan kreativitas dalam rangka pelestarian alam dan lingkungan yang dikemas dalam nuansa budaya Dayak. “Tempat ini menjadi wadah dan tempat bagi kaum muda untuk mempelajari kembali budaya. Mereka duduk bersama untuk menguliti kembali asal-usul dan bagaimana menghormati leluhur mereka,” tutur Bruder Gererdus.

Cagar Budaya
Generasi muda mendapat perhatian khusus di Bori ini. Hal ini karena merekalah generasi penerus. Khususnya kaum Muda Katolik, mereka adalah pribadi-pribadi yang sedang tumbuh dan berkembang. Mereka mempunyai perasaan, pola pikir, tata nilai, dan pengalaman tertentu, serta masalah dan kebutuhan yang perlu dipahami.

Sekretaris JPIC MTB Bruder Yohanes de Deo MTB menjelaskan, kaum muda memiliki hak, kewajiban, tanggung jawab, dan peran tersendiri. Mereka perlu diberi ruang untuk berekspresi. Mereka memiliki potensi yang harus dikembangkan melalui pembinaan sehingga mereka dapat bertumbuh di keluarga, Gereja, dan masyarakat.

Bruder Yohanes menegaskan, kehadiran Bori ini dalam rangka menggali potensi kaum muda, agar mereka juga terlibat dalam merawat tradisi itu. Generasi muda harus menggali kembali warisan leluhur sebagai bentuk merawat ingatan. “Bori sebagai wadah meningkatkan kecintaan terhadap alam semesta dan memupuk semangat untuk menjaga serta melestarikannya,” bebernya.

Kegiatan-kegiatan dalam Bori ini dikemas dalam nuansa budaya Dayak. Bruder Yohanes menjelaskan, kemasan pembinaan dan pendampingan kaum muda di sini, diharapkan berpusat pada tajau ‘tempayan’ sebagai warisan leluhur yang menyimpan masa depan. Dengan demikian, kaum muda diarahkan untuk minum dari “piala (tempayan) keselamatan” di pondok kita bersama.

Bruder Yohanes mengatakan, di dalam Bori, berbagai peralatan dan perlengkapan suku-suku Dayak dipajang. Pondok-pondok tersebut diisi juga dengan simbol-simbol kehadiran manusia Dayak. Ia mencontohkan, di sana dipajang tempayan, perisai, takin, mandau, labu (wadah air), pelita, kain tenun, korek, rotan, parang, dan beragam benda lain yang digunakan dalam kehidupan Suku Dayak.

Kegiatan lain yang dijalankan di tempat ini adalah pengembangan pertanian yang dikhususkan untuk anak asrama Putra St Yosef. Anak-anak didampingi dalam mengolah lahan pertanian di sekitar Bori. Di sini juga menjadi tempat perayaan Hari Masyarakat Adat Sedunia dan Hari Air yang diadakan setiap tahun.

Bruder Yohanes menjelaskan, anak muda mendapat perhatian lebih di sini. Dengan kegiatan seperti rekoleksi atau kemah rohani, anak muda dibina agar memiliki kepribadian yang unggul. Selain itu, lanjutnya, kaum muda juga dapat mengembangkan bakat seni terutama dengan mempelajari tari, musik, seni lukis, dan teater rakyat. “Tempat ini memiliki tujuan agar masyarakat semakin mencintai budaya lokal dan lingkungan hidup. Selain itu, agar masyarakat ikut berperan serta dalam upaya pelestarian budaya lokal dan lingkungan hidup,” ujarnya.

Spirit Fransiskan
Berdirinya pondok-pondok ini berpijak pada spirit Santo Fransiskus Asisi. Fransiskus dikenal sebagai orang suci yang sangat dekat dengan alam. Ia memiliki kepekaan terhadap keutuhan alam ciptaan. JPIC MTB yang mewarisi semangat Fransiskan ingin membagikannya kepada generasi muda Suku Dayak. “Semangat sang santo menjadi inspirasi yang kemudian ditanam kepada setiap orang yang datang ke tempat ini. Dengan demikian mereka memiliki kepekaan terhadap alam sekitar terutama warisan leluhur,” kata Bruder Geradus.

Bruder Yohanes menambahkan, meneladani semangat Santo Fransiskus Assisi berarti hidup dalam persaudaraan, kesederhanaan, dan cinta lingkungan. Bori hadir untuk menjunjung tinggi budaya leluhur. Bori mewujudkan keutuhan segala ciptaan dalam penyelenggaraan kasih Allah. “Merawat warisan leluhur Suku Dayak adalah upaya menghargai ciptaan Allah. Karena manusia (Suku Dayak) adalah bagian dari rencana Allah tersebut,” pungkasnya.

Willy Matrona

HIDUP NO.03 2019, 20 Januari 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here