Ziarah Santo Pelindung Orang Sakit

393
Umat berdevosi di hadapan relikui St. Kamilus, Selasa, 23/4.
[HIDUP/Hermina Wulohering]
4/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.com – Banyak kisah orang yang berdoa mencari rahmat kesembuhan melalui St. Kamilus. Ordo Kamilian mendekatkan St. Kamilus kepada mereka untuk memohon pertolongan Tuhan.

Jantung manusia yang telah berusia 400-an tahun sejak terakhir kali berdetak, ditakhtakan di auditorium Stella Maris, RS St Carolus, Jakarta Pusat, Selasa, 23/4. Jakarta baru saja mendapatkan privilese untuk dikunjungi oleh relikui St Kamilus de Lellis, pelindung orang sakit, dokter, perawat, dan pekerja medis.

Dalam perjalanannya dari Roma, Italia, relikui sang santo dikemas dalam koper kecil yang dibuat khusus dari aluminium. Selama penerbangan, peti itu dibawa serta ke kabin dan dipangku oleh petugas resmi yang secara khusus bertanggung jawab atas perjalanan relikui ini ke Asia. Setumpuk formulir bea cukai, dokumen asuransi, dan izin perjalanan juga harus disertakan. Dari Roma, relikui St Kamilus mengunjungi Filipina selama dua bulan sebelum sampai di Indonesia pada 2 April lalu. Menggunakan maskapai Philippine Airlines, relikui St Kamilus terbang dari Manila dan mendarat di Bandara Internasional Soekarno–Hatta, Tangerang, Banten.

Keesokan harinya, relikui St Kamilus langsung dibawa menuju Keuskupan Ruteng oleh Rektor Seminari St Kamilus Maumere, Pastor Cyrelus Suparman Andi MI. Sebagai perwakilan dari Tarekat Hamba Orang-Orang Sakit atau Ordo Kamilian, Pastor Andi mengurusi proses perizinan perjalanan relikui ini.

Bantuan Umat
Ia menuturkan, mulanya Ordo Kamilian meminta izin para uskup terkait di Indonesia. Setelah disetujui, dibuatlah surat rekomendasi yang dikirim ke Vatikan, secara khusus kepada Kongregasi Penggelaran Kudus. Persetujuan dari Takhta Suci kemudian dilanjutkan dengan surat jalan dari pimpinan Ordo Kamilian di Roma. Sementara itu, untuk urusan domestik, Pastor Andi harus melakukan perizinan ke berbagai dinas, seperti imigrasi, bea cukai, kesehatan, dan izin terbang. “Karena ini adalah bagian tubuh manusia, maka memang ada aturannya; apakah sehat, aman, layak terbang atau tidak,” ujar Pastor Andi. Ia mengakui urusan ini cukup merepotkan namun banyak umat yang membantu.

St Kamilus de Lellis adalah pendiri Ordo Kamelian yang berdedikasi merawat orang sakit. Ia lahir pada 25 Mei 1550 di Bucchianico (sekarang di Abruzzo, dulu bagian dari Kerajaan Napoli). Ibunya, Camilla Compelli de Laureto, berusia hampir 50 ketika melahirkannya. Ayahnya adalah seorang perwira di pasukan kerajaan Neapolitan dan Perancis dan jarang berada di rumah. Kamilus mewarisi watak temperamen ayahnya. Ibunya, yang meninggal ketika ia berusia 12 tahun, merasa tidak mampu mengendalikannya ketika ia tumbuh dewasa. Kamilus kecil kurang memperoleh perhatian dan kasih sayang. Dia tumbuh menjadi seorang anak yang kasar dan sangat nakal.

Saat berusia 16 tahun, Kamilus bergabung dengan ayahnya dalam pasukan Venesia dan berperang melawan Turki. Setelah beberapa tahun di dinas militer, resimennya dibubarkan pada 1575. Saat masih menjadi tentara, ia dikenal tidak disiplin dan suka berjudi. Keluar dari militer kebiasaannya berjudi semakin menjadi-jadi sehingga ia jatuh miskin dan menjadi pengemis.

Kamilus terpaksa bekerja sebagai buruh bangunan di Biara Fransiskan Kapusin di Manfredonia. Suasana biara yang tenang dan damai, serta lantunan doa para religius Kapusin rupanya menyentuh jiwanya. Di sanalah ia bertobat. Ia lalu melamar menjadi bruder di biara itu. Namun, ia ditolak karena kesehatannya, kakinya mengalami sakit sejak menjadi tentara dan tidak akan sembuh. Meski begitu, semangatnya tak padam begitu saja. Kamilus kemudian pindah ke Kota Roma. Dia bertemu dengan St. Philipus Neri yang kemudian menjadi bapa pengakuannya.

Setelah beberapa lama, Kamilus diterima bekerja di rumah sakit San Giacomo sebagai seorang perawat. Ia ditugaskan untuk merawat orang-orang sakit yang tidak bisa terobati lagi. Kesabaran dan kepeduliannya kepada para pasien menaikkan prestasinya. Tak terduga, Kamilus diangkat menjadi direktur rumah sakit tersebut.

Semangat pelayanan dan cinta kasihnya kepada para pasien sungguh besar. Ia kemudian memutuskan untuk semakin membaktikan dirinya demi pelayanan orang-orang sakit. Kelalaian dan ketidak-pedulian para perawat, bahkan para imam terhadap kepentingan orang-orang sakit mendorong Kamilus semakin menekuni pelayanannya.

Pesan Bapa Pengakuan
Atas nasehat Philipus Neri, Kamilus memutuskan untuk menjadi imam. Demi panggilan ini, ia giat belajar dan kemudian ditahbiskan menjadi imam pada 1584 di Roma. Pada tahun itu juga Kamilus mendirikan sebuah tarekat religius baru yang disebut Tarekat Hamba Orang-Orang Sakit (Latin: Clerci Regulari Ministeri Infirmaribus) atau Ordo Kamilian. Anggota tarekat ini mengabdikan diri kepada pelayanan orang-orang sakit. Setelah dua tahun, tarekat ini direstui oleh Paus Sixtus V, dan pada 1591, Paus Gregorius XIV meningkatkan statusnya menjadi sebuah ordo religius.

Kepada rekan-rekannya, Kamilus berpesan untuk mengabdi secara ikhlas hingga titik darah terakhir, karena Tuhan, hadir paling nyata, dalam diri orang-orang sakit yang dilayani. “Kita ditugaskan Tuhan untuk melayani Dia dalam diri orang-orang sakit ini,” katanya.

Kamilius meninggal pada 14 Juli 1614, pada usia 64 tahun. Hanya satu jam setelahnya, jantungnya diambil.

Pastor Andi mengatakan, sejak masih hidup, Kamilus telah diyakini sebagai orang yang tak biasa dan suci. “Maka ketika (Kamilus) meninggal, anggota Ordo Kamilian merasa ada yang perlu diabadikan darinya. Mereka merasa dari jantungnya itulah, cinta Kamilus yang besar berasal,” katanya.

Akhirnya dengan persetujuan otoritas Vatikan, mereka mengambil dan menyimpan jantungnya. Bagian tubuh Kamilus yang lain dikuburkan di Gereja St Maria Magdalena, rumah induk Ordo Kamilian. Ketika digali, tinggal tulang yang kini tersimpan di Roma.

Biasanya jantung sang santo ditakhtakan di tempat ia meninggal yang juga adalah kamarnya. Kamar itu kemudian dijadikan kapel. Banyak mukjizat dialami oleh orang-orang yang berdoa melalui perantaraannya. Kamilius dibeatifikasi pada 1742 dan kanonisasi oleh Paus Benediktus XIV pada 1746. Ia dihormati sebagai santo pelindung orang-orang sakit, para perawat dan organisasi-organisasi kesehatan.

Di Indonesia, Ordo Kamilian berada di Flores, tepatnya di Ruteng dan Maumere. Pastor Andi mengatakan, di sana para Kamilian membantu melayani di rumah sakit umum, melakukan peningkatan gizi, membantu sponsor beasiswa dari SD hingga perguruan tinggi, dan mendirikan rumah bebas pasung bagi orang dengan gangguan jiwa.

Relikui St Kamilus sempat mengunjungi kedua kota kecil itu sebelum akhirnya dibawa ke Jakarta. Selain ditakhtakan di gereja-gereja, tak sedikit ziarah relikui ini dilakukan di rumah sakit. Pastor Andi mengatakan spiritualitas kesehatan St Kamilus adalah teladan bagi para medis. “Kamilus sendiri sakit tapi tak menghalanginya melayani orang lain yang sakit. Dia merawat dengan baik, penuh kasih, dan manusiawi,” ujarnya.

Di RS St Carolus Jakarta, sebelum relikui dibawa ke auditorium bagi umat yang ingin melakukan devosi, relikui tersebut dibawa mengunjungi pasien-pasien di ruang-ruang rawat inap. Meski penghormatan kepada relikui St Kamilus ini dilakukan pada hari kerja, tidak sedikit umat yang datang. Di antara ratusan pengunjung yang terdiri dari dokter, perawat, orang sakit, dan umat lainnya, adalah Bernadeth Singal, seorang ibu usia lanjut.

Kehadiran Tuhan
Umat Paroki St Markus Depok Timur ini setia hadir sejak seminar pada pagi hari, melakukan devosi, berkonsultasi dengan pastor, hingga Misa pada sore harinya. Bernadeth mengungkapkan rasa harunya saat berdevosi di relikui St. Kamilus. “Saya benar-benar merasakan kehadiran Tuhan saat berada di depan relikui St Kamilus dan saat itu saya merasa sangat rendah. Saya yakin Tuhan yang hadir saat itu akan memberikan belas kasih dan kerahiman-Nya bagi semua orang yang saya doakan,” ungkapnya.

Ia juga mengatakan secara khusus ia berdoa untuk kesehatan dirinya dan keluarga serta seorang teman yang sedang sakit. Setelah RS St Carolus, ziarah relikui ini dilanjutkan ke Gereja Matias Rasul Paroki Kosambi, RS Atma Jaya Pluit, dan Gereja St Laurensius Alam Sutera, Tangerang sebelum nanti dipulangkan ke Roma via Manila, pada 2/5.

Dengan ziarah relikui St Kamilus ini, Pastor Andi berharap umat bisa menghayati spiritualitas sang santo sehingga dengan segenap hati mau melayani orang lain. “Selama ini juga banyak kisah orang yang berdoa mencari rahmat kesembuhan melalui perantaraan doa St Kamilus. Maka kami mendekatkan St Kamilus kepada mereka agar bisa berdoa melalui St Kamilus memohon pertolongan Tuhan,” ujarnya. Pastor Andi juga mengharapkan dengan memperkenalkan spiritualitas Kamilian, ada yang terpanggil menjadi imam atau suster Kamilian.

Hermina Wulohering

HIDUP NO.18 2019, 5 Mei 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here