S3 Teologi Pertama Indonesia

367
Seminar Collocquium dengan tema “Berteologi Baru untuk Indonesia; Mencari Metodologi-Metodologi Baru untuk Indonesia” di STFT Widya Sasana Malang, Jawa Timur.
[Fr Bonifasius Jagom]
Rate this post

HIDUPKATOLIK.com – Kabar suka cita kini hadir membingkai harapan baru Gereja Katolik Indonesia. Salah satu perguruan tinggi Katolik Indonesia yakni Sekolah Tinggi Filsafat Teologi (STFT) Widya Sasana, Malang, Jawa Timur baru saja membuka program studi doktoral bidang teologi, 23/9. Dengan launching ini, STFT Widya Sasana tercatat menjadi sekolah tinggi teologi pertama di Indonesia yang memiliki program S3 Teologi.

Ketua STFT, Romo F.X. Armada Riyanto CM menyampaikan, bahwa penambahan program studi ini merupakan bentuk pengabdian STFT bagi Gereja Katolik Indonesia dan bahkan bagi dunia. Oleh karena itu, STFT mengharapkan kerja sama yang baik dari berbagai pihak, baik dengan pihak Gereja maupun dengan pemerintah. Romo Armada berharap, agar program ini dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas SDM unggul dalam bidang teologi. “Jika ini kehendak Allah maka Ia akan mencukupkannya”, paparnya di akhir sambutan sekaligus pembukaan resmi acara launching program doktor teologi tersebut.

Uskup Keuskupan Malang Mgr Hendrikus Pidyarto Gunawan OCarm bersyukur atas dibukanya program baru ini. Ia berharap, program doktoral tersebut tidak hanya untuk para kaum religius tetapi juga menjadi peluang bagi kaum awam untuk meraih gelar doktor dalam bidang teologi. Pada kesempatan ini, hadir juga Uskup Banjarmasin Mgr. Petus Boddeng Timang yang mewakili Komisi Teologi Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Peluncuran ini ditandai dengan penyerahan surat keputusan Dirjen Nomor 378 Tahun 2019 oleh Sekretaris Bimas Katolik Kemenag RI Aloma Sarumaha. Pada kesempatan ini, Aloma mengatakan, program S3 teologi ini menjadi implementasi UU no. 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi Keagamaan, utamanya dalam pasal 10. Implementasi UU ini juga didukung oleh Peraturan Pemerintah no. 46 tahun 2019. Pemerintah dalam hal ini turut memberi dukungan penuh atas penyelenggaraan program S3 teologi ini. “Dengan dibukanya Prodi S3 ini, diharapkan akses akan terbuka untuk semua pihak, dan tentunya tidak hanya untuk kalanagan Katolik, tetapi juga terbuka untuk agama lain”, tandasnya.

Acara peresmian program studi doktor teologi ini jugadi isi dengan kegiatan Seminar Collocquium dengantema “Berteologi Baru untuk Indonesia; Mencari Metodologi-Metodologi Baru untuk Indonesia”. Seminar ini dimoderatori oleh Romo Petrus Maria Handoko CM dengan beberapa panelis sekaligus teolog, di antaranya Romo Berthold Anton Pareira, O.Carm, Romo William Chang, OFMCap, Romo Emanuel P.D. Martasudjita, Romo Agustinus Manfred Habur, dan Romo Raymundus Sudhiarsa

Romo Pareira menekankan, bahwa Ekaristi dan Ibadat harian adalah sekolah sekaligus “sarapan” seorang teolog. Sementara itu, Romo William mengibaratkan teologi dengan proses bernafas. Ia menambahkan, teologi tidak sekadar membaca teks melainkan membaca teks dari konteks realita hidup.

Seorang tolog juga perlu memahami teologi inkulturatif. Hal ini sangat penting, seorang teolog jangan hanya memahami teologi hanya sekadar kostum dan music belaka. Romo Martasudjita menuturkan, teologi erat kaitannya dengan penghayatan dan transformasi kehidupan. “Inkulturasi tidak disempitkan hanya pada soal kostum dan musik belaka, melainkan soal penghayatan dan transformasi kehidupan,” ujarnya.

Fr Bonifasius Jagom (Malang)

HIDUP NO.38 2019, 22 September 2019

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here