DIPUTUSIN LEWAT WHATSAPP

114
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM Hallo Romo Erwin. Saya seorang pria berusia 31 tahun. Dulu, saya mempunyai pacar berusia 30 tahun. Kami sempat menjalin hubungan selama dua tahun. Namun, hu­bung­an kami tak terlalu akrab. Saya lebih banyak berbicara dibanding pacar. Pacar pernah memutuskan sepihak untuk memesan gedung resepsi waktu hubungan kami berjalan enam bulan. Tentu saya menolaknya. Sejak itu, hubungan kami kurang baik, kemudian renggang, lalu akhirnya ia memutuskan hubungan kami hanya melalui WhatsApp. Dia kesal karena saya tidak mengajaknya menikah. Akhirnya, saya tahu dia sudah punya pacar lagi. Ia juga menikah tanpa sepenge­tahuan saya. Saya sakit hati karena merasa dibohongi. Bagaimana caranya mengatasi luka batin ini? Apakah saya boleh menuntut permohonan maaf dari dia? Terima kasih, Romo.

Adrianus, Malang

Saudara Adrianus yang terkasih, terima kasih atas pengalaman yang Anda bagikan terkait dengan rasa sakit hati Anda. Hal pertama yang harus Anda terima adalah kenyataan bahwa pacar Anda sudah menikah dengan seseorang. Realita itu tak bisa diubah lagi.

Menerima kenyataan adalah langkah awal untuk penyem­buhan emosi (batin). Sebagai orang biasa, kita tak bisa terbebas dari tindakan orang lain di sekitar kita; yang bisa menyenangkan dan bisa melukai hati. Luka ini secara ilmiah-psikologi dikenal dengan nama luka emosi (emotional wound) karena yang terkena memang emosi atau perasaan kita yang merespons kata-kata, tindakan, dan serangan fisik dari luar.

Luka emosi semakin parah dan efektif (negatif) jika disebabkan oleh orang-orang terdekat seperti kekasih, orangtua, anak, saudara kandung,  atau sahabat. Orang-orang dekat diharapkan memberikan pengalaman yang baik, tapi adakalanya menyakiti. Maka, luka yang ditimbulkan lebih parah dari yang lain.

Mengobati luka batin dapat dilakukan dengan mencari pe­ngertian “mengapa orang ‘terpaksa’ melakukannya?” Kita tak bisa mengerti mengapa dia melakukannya,  tapi kita harus berusaha memahami. Pertama-tama, kebutuhannya, keterbatasan­nya, keter­paksaannya, kesulitannya, sampai pada kemungkinan melakukan kesalahan yang memang bisa dilakukan semua orang, termasuk Anda sendiri.

Permohonan maaf dari pacar Anda bisa sangat relatif. Artinya, bisa ada bisa tidak. Jangan mengharapkan kesembuhan melalui usaha orang lain, tapi berusahalah melatih diri sendiri untuk me­ngerti dan berproses menyembuhkan dalam situasi sulit.

Pengampunan tak sama dengan penyembuhan. Tetapi, pengampunan bisa menjadi jalan ampuh untuk sembuh dari luka emosi atau luka batin. Pengampunan juga tak sama dengan melupakan. Barangkali kita akan teringat pada suatu peristiwa yang menyakitkan sampai mati, tetapi efek nega­tifnya tidak perlu kita alami lagi,  seperti susah tidur, pu­sing, sakit perut, atau ma­rah-marah.

Kita perlu melihat kenyataan dari dekat, bukan hanya menjadi­kannya objek penelitian. Hadapi kenyataan, lihat secara jelas, mohon Tuhan menjelaskan dalam keheningan kita sendiri, belajarlah dari tuntunan Roh Kudus yang punya cara khas menolong kita.

Melihat dan menerima kenyataan adalah satu paket yang ampuh untuk menyembuhkan luka. Penyempurnanya adalah doa kepada Tuhan, Sang Penyembuh sejati.

Sekarang ini Anda melihat mantan pacar Anda sudah menikah. Itu kenyataan yang paling jelas. Jangan biarkan masa lalu terus menghambat Anda untuk bahagia. Buka hati untuk hubungan baru, Tuhan sedang menantikan Anda menemukan berkat baru bersama orang yang dipilih-Nya.

Jangan ragu untuk meminta kepada Tuhan, bukan ha­nya penyembuhan, tapi mata yang terbuka untuk masa depan Anda yang baik, terima kasih untuk sharing hidup yang menarik. Semoga ini menginspirasi kaum muda yang meng­alami tantangan dalam menjalin hubungan kasih. Putus cinta adalah bagian wajar suatu pemurnian. Jadi maukah Anda sembuh? (Yohanes 5:6).

Pastor Alexander Erwin Santoso, MSF Ketua Komisi Kerasulan Keluarga Keuskupan Agung Jakarta

HIDUP No.08, 23 Februari 2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here