“Ibu-Anak” Ketemu Gede

137
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Emiliana Primastuti (Dosen Fakultas Psikologi Unika Soegijapranata, Semarang)

PENGASUH yang baik, saya perempuan berusia 48 tahun, masih lajang, dan bekerja sebagai karyawati di sebuah perusahaan swasta. Saya berteman dengan seorang laki-laki di kantor. Usia kami terpaut cukup jauh. Dia baru berumur 26 tahun dan sudah memiliki pacar. Awalnya saya menganggap hubungan kami layaknya ibu dan anak. Selama ini kami berteman dan saling berbagi cerita. Tapi, lama kelamaan saya merasa aneh. Teman saya itu sering ke rumah, telepon, dan WhatsApp. Bahkan ia selalu mendekati saya dan seakan tak peduli dengan penilaian atau omongan orang sekitar. Saya khawatir dengan keadaan ini. Apa yang harus saya lakukan?

 RatnaSemarang, Jawa Tengah

Mbak Ratna terkasih, salam kenal. Menurut saya, bila keadaan seperti itu terus berlanjut kemungkinan besar bakal menjadi masalah. Saya menyarankan, harus segera diselesaikan agar tak semakin rumit dan berlarut-larut. Mbak harus benar-benar tegas bahwa hubungan kalian sebatas ibu dan anak. Jika memang itu sudah pasti, maka yang pertama dan utama yang harus dilakukan oleh Anda adalah perlahan mencoba untuk lebih menjaga jarak dengannya. Namun, hal ini jangan sampai menyakiti dan membuatnya tersinggung.

Kemungkinan hal ini cukup berat baginya, namun harus diusahakan dan dilakukan jika ingin masalah dapat terselesaikan.Mengapa langkah ini perlu dilakukan? Ada kemungkinan, ia betul-betul sudah tergantung dengan Anda. Artinya, ia membutuhkan orang lain yang dapat menasehati dan dapat menjadi tempat curhat selama ia membutuhkan.

Kemungkinan lain, benar bahwa Anda menganggapnya sebagai anak, tetapi ia sebetulnya menginginkan Anda menjadi pacarnya. Kenyataan, ia memiliki pacar, mungkin hanya ingin membuat Anda cemburu atau hanya untuk melampiaskan kebutuhan fisiknya, layaknya sepasang manusia yang berpacaran. Namun, secara psikologis ia mendapatkan kepuasan dari Anda. Ia merasa seperti diperhatikan, dihargai, dan dipenuhi kebutuhan psikologisnya, sehingga ia merasa aman, nyaman, damai, terlindungi, disayang, dan dicintai.

Maka, jika Anda tidak berusaha untuk menjauhkan diri dari situasi ini, ada kemungkinan, ia akan semakin tergantung dan semakin sulit berpisah dengan Anda. Apalagi, jika Anda juga semakin merasa kasihan, yang akhirnya sulit untuk lepas dari masalah ini. Jika hal ini semakin lama berlangsung, Anda akan semakin tertekan, stres, sulit tidur, atau mengalami kondisi lain, yang pada akhirnya dapat mengganggu ritme atau aktivitas Anda lainnya.

Nampaknya yang harus bertindak adalah Anda. Tidak perlu menunggu ia yang akan menyadari akibat dari situasi dan kondisi tersebut. Ada kemungkinan bahwa ia memang mencintai Anda dan ingin selalu dekat dengan Anda. Mungkin ia menyukai perempuan yang lebih tua, yang dianggap seperti ibunya sendiri.

Dengan melihat kemungkinan-kemungkinan seperti di atas, sebaiknya Anda secara perlahan berusaha untuk menjauhkan diri dari situasi ini, agar kondisi tidak berlarut-larut dan kedua belah pihak tidak semakin tersakiti jika suatu saat harus berpisah. Bukalah mata dan hati Anda dengan segala kemungkinan yang bisa terjadi. Ajaklah dia berbicara secara tenang, dalam situasi yang cukup menyenangkan, dan dengan hati yang terbuka.

Perlu Anda sadari pula, untuk menjadikan situasi lebih baik, dibutuhkan suatu kesabaran, kesadaran, dan keterbukaan terhadap apa yang terjadi ataupun segala kemungkinan yang dapat terjadi, baik saat ini atau masa yang akan datang. Tuhan memberkati kita semua.

Emiliana Primastuti /Dok. Pribadi

HIDUP-20-2020

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here