Koyakkanlah Hatimu dan Jangan Pakaianmu!

154
Sylvia Maria Djatisutikno, Kontributor, Ibu Rumah Tangga

HIDUPKATOLIK.COM – “Koyakkanlah hatimu  dan jangan pakaianmu,  berbaliklah  kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang,  panjang sabar dan berlimpah kasih setia,  dan Ia menyesal karena hukuman-Nya”  (Yoel. 2 :13).

Sekarang ini kita memasuki Masa Puasa. Kita puasa diawali dengan menerima abu, yang di berikan saat Misa Rabu Abu. Menyesali segala dosa dan pelanggaran yang kita perbuat selama ini, itulah tujuan kita berpuasa, kita mau bertobat. Karena Kasih Tuhan  kepada kita, sudah membuka pintu ampun untuk kita.

Puasa yang kita lakukan, yaitu dengan mengurangi porsi makan kita, yang tadinya makan sehari tiga kali, menjadi satu kali makan kenyang sehari. Itulah aturan puasa kita. Dan kita juga melakukan pantang. Pantang bukan saja, pantang makanan yang kita sukai, tapi juga pantang melakukan hal yang kita sukai, biasa merokok, selama Masa Puasa, berusaha tidak merokok. Biasa main game terus, atau nonton drakor berjam-jam, kita bisa ganti dengan bersih bersih rumah atau membuat masakan untuk kita bagikan kepada orang yang memerlukannya.

Pantang dan puasa yang kita jalani, sebenarnya  bertujuan untuk mengekang keinginan nafsu manusia, dari segala kenikmatan duniawi.
Dan yang terutama, berusaha untuk mengendalikan diri sendiri dari nafsu yang timbul dari dalam hati, atau pikiran kita, supaya tidak menjadi batu sandungan bagi kita sendiri dan orang lain.

Sesungguhnya jika kita gali lebih dalam dari makna puasa, kita berpuasa, menahan rasa bukan hanya untuk yang dari luar, masuk kedalam tubuh, tapi menahan dari apa yang timbul dari diri kita, untuk keluar. Misal, menahan perasaan  untuk cepat marah, atau kesal. Menahan untuk tidak mengatakan hal yang negatif. Menahan untuk  tidak menyakiti hati orang lain dengan mulut kita, apalagi mengatakan yang  tidak benar, yaitu fitnah. Menghakimi, merasa diri hebat atau benar, dan merendahkan orang lain, tidak menghormati orang lain yang berbeda kepentingan, pendapat, dengan kita. Mengucilkan orang lain, membenci tanpa sebab, Juga bersikap munafik, pura pura baik tapi dibelakang, menusuk.

Ada seorang yang sedang berpantang untuk makan daging, datang ke sebuah rumah makan, dan memesan gado-gado.  Mungkin entah karena ramai, maka gado-gado yang ditunggu tidak datang. Gusarlah ia. Akhirnya karena ia lapar, ia menemui pramusaji dan menyatakan kekesalan kepada pramusaji, dengan nada marah, merasa tidak dilayani.

Mengendalikan diri dari dalam untuk menahan emosi, dan berusaha sabar, sesungguhnya lebih sulit, dari pada kita mengendalikan diri untuk menahan rasa lapar. Lebih mudah untuk berpuasa atau berpantang makan enak, daripada berpuasa untuk menahan diri, menahan emosi dan nafsu yang lain,  yang akhirnya gagal kita melakukan pantang atau berpuasa.

Koyakanlah hatimu, bukan pakaianmu, koyakanlah yang tidak terlihat, bukan yang terlihat. Koyakanlah yang dari dalam hati, bukan yang dari luar masuk ke dalam.
Berusahalah mengendalikan diri dari segala nafsu, nafsu yang jahat yang kotor, nafsu yang bisa menjatuhkan kita kepada dosa dan kesia-siaan.

Sekarang ini masa berkabung,  masa menyatakan sesal kita atas banyak dosa yang kita lakukan, yang sering tanpa kita sadari menyakitkan hati orang lain, membuat orangtua, istri, suami, dan anak-anak terluka. Terluka karena kesombongan, dan sikap egois, semua hanya berpusat kepada aku.  Juga kadang tdak bisa mengendalikan mulut, perkataan kita yang sering tajam, dan menyudutkan.
Kita masih sering jatuh dalam kelemahan dan dosa kita.

Mari kita memperbaiki selama masih ada waktu. Selama masa Prapaskah ini, kita mulai berubah, menaruh rem penguasaan diri. Berpikir dua kali, jika kita ingin berbuat atau berkata kata. Mengekang lidah kita, sehingga yang keluar adalah suatu berkat, perkataan yang baik, yang menyejukkan, menyemangati.

Mari kita berusaha mengalahkan yang jahat yang timbul dan menguasai hati pikiran kita, sehingga kita dapat memuliakan Tuhan dengan perbuatan kita untuk seterusnya, sesuai harapan Tuhan, bukan hanya selama Masa Prapaskah.

Yesus yang telah terlebih dahulu mengampuni dosa dosa kita, sudah selayaknya kita juga mau mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Juga menyadari kesalahan dan dosa kita, supaya kita juga pantas dan diterima dihadapan-Nya.

Sylvia Maria Djatisutikno, Kontributor, Ibu Rumah Tangga

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here