AmoreDio: Berbagi Cinta Tuhan di Negeri Orang

7
AmoreDio dalam satu kesempatan berkumpul bersama (Dok. AmoreDio)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM Ketika seseorang merasakan dicintai, maka ia pun akan membagikan cinta itu kepada sesamanya.

Nathania Budianto dan Monica Aryani Saraswati merupakan orang muda Katolik asal Indonesia yang mengenyam pendidikan dan berkerja di Singapura. Nathania, yang akrab disapa Nia, bertolak ke Singapura saat melanjutkan pendidikan sarjananya tahun 2012 dan sekarang ini ia masih melajutkan kariernya. Sedangkan Monic, sapaan akrab Monica Aryani Saraswati, sejak tahun 2006, sudah bekerja di Kota Singa ini.

Karena jauh dari keluarga, keduanya merasa membutuhkan teman senasib untuk saling bertukar cerita, makan atau jalan-jalan bareng melepas penat. Namun lambat laun, bukan itu saja kebutuhan seorang perantau. Mereka juga butuh teman atau wadah untuk bertumbuh dalam iman. Di situ, AmoreDio hadir merengkuh para perantau ini.

Merangkul Siapapun

AmoreDio adalah komunitas muda Katolik Indonesia yang berbasis di Singapura sejak 16 Mei 2005. Komunitas ini merupakan ranting dari Komunitas Katolik Indonesia di Singapura (KKIS). AmoreDio terdiri dari 10 cell group atau kelompok sel yang tersebar di seluruh Singapura. Rata-rata anggota adalah orang muda yang duduk di bangku SMA hingga keluarga muda.

Nia menjelaskan, komunitas ini terbentuk karena pertemanan. Awalnya hanya nongkrong bareng sesama orang muda dari Indonesia. Kemudian mereka terpanggil mendekatkan diri kepada Tuhan. “Akhirnya selain kumpul-kumpul, mulai Bible sharing,” terangnya.

Kerap berkumpul untuk Bible sharing, mereka membentuk kelompok sel. Menurut Monic, dulu mereka belum tergabung dalam KKIS, namun dirasa membutuhkan wadah, mereka berdiskusi dengan KKIS dan menjadi bagian darinya.

Cinta Tuhan. Sesuai dengan namanya, AmoreDio menghidupkan anggotanya dengan dasar Alkitab yakni Kisah Para Rasul 22: 44-47. “Intinya dari ayat tersebut, mereka percaya dan berkum- pul, segala kepunyaan mereka adalah kepunyaan bersama. Harta mereka di- kumpulkan untuk membantu orang lain. Lalu mereka berkumpul bersama, makan dan berdoa bersama. Kemudian Tuhan menambahkan jumlah anggota mereka,” tutur Nia. AmoreDio hadir tidak hanya menjadi kelompok sharing, tetapi menjadi keluarga kedua bagi dewasa muda yang merantau. Nia menambahkan. “Kami berusaha merangkul siapapun yang datang ke Singapura.”

“Ini bukan sebatas ayat, tetapi kami menghidupinya dengan merangkul satu sama lain. Menjadi satu keluarga, apalagi kami anak rantau. Contoh sederhananya, sepulang kantor, kami makan, nonton bareng, rayain ulang tahun, dan sebagainya. Nah, dari situ jadi menarik orang untuk gabung. Memang, untuk Bible sharing jarang yang tertarik, tetapi biasanya setelah kumpul untuk makan, atau nonton, mereka terpanggil untuk ikut Bible sharing,” tutur Monic.

Merasakan Cinta

Nia dan Monic merasa kerasan di AmoreDio. Bagi mereka komunitas ini merupakan keluarga kedua. Nia merasa tidak sendirian dalam menjalani hari- harinya dan banyak yang membantunya. “Kami di sini kan harus mengajukan pengajuan Permanent Resident (tinggal tetap). Nah, bagi yang sudah berhasil membantu yang hendak mengajukan. Biasanya, semua anggota turut mendoakan agar prosesnya lancar dan disetujui. Ya, seperti Monic bilang, kami butuh keluarga juga di sini untuk saling menjaga dan mendoakan,” jelas umat Paroki St. Laurensius Alam Sutera, Tangerang Selatan, Banten ini.

Ketika Nia pertama kali datang ke Singapura, ia mengikuti komunitas Katolik di kampusnya, tetapi basisnya bahasa Inggris. Bagi Nia, bahasa ibu juga mempengaruhi. “Lebih nyaman sharing menggunakan bahasa Indonesia. Begitu pun saat pendalaman iman atau Bible sharing, jadi enggak salah paham,” ungkapnya.

Merasakan kasih sayang dari teman- teman di AmoreDio. Itu yang dirasakan Monic. Berawal dari dibantu untuk pengajuan Permanent Resident sampai tuntas, tumbuhlah persahabatan. “Melalui komunitas ini, banyak sarana untuk bertumbuh dengan talenta kami dan semakin dekat dengan Tuhan. Misalkan, jadi sering Adorasi, Pengakuan Dosa, juga kami ada pendalamnan iman yang membuat kita level up,” terangnya.

Selain itu, punya komunitas sama dengan mempunyai support group. Bagi mereka, hidup bertumbuh itu tidak bisa sendirian, harus punya komunitas, khususnya komunitas yang mendukung dalam mencari Tuhan. “Kadang kita mengalami tantangan ketika di kantor, sekolah dan sebagainya. Kita bisa saling menguatkan dan mendoakan. Di AmoreDio juga ada kelompok doa. Jadi anggota bisa meminta untuk didukung melalui doa. So, you are not alone here and we grow together in Christ,” tutur Monic.

Hadapi Pandemi

Banyak komunitas yang terhenti kegiatannya kala pandemi ini. Namun AmoreDio berusaha adaptasi dan tetap berjalan dengan kegiatan rutinnya. Menurut Nia, beberapa kelompok sel yang biasanya seminggu sekali bertemu tatap muka, sempat bertemu melalui daring, begitupun petemuan antarkelompok sel sebulan sekali.

Sekarang ini, pemerintah Singapura sudah membolehkan paling banyak hanya lima orang saja untuk berkumpul. Mereka masih mengadakan acara secara daring melalui Youtube menghadirkan pembicara-pembicara dari Indonesia. Mulai bulan Januari 2021, mereka mengadakan ibadat malam dan Litani St. Yosef melalui Zoom. Nia dan Monic mewajarkan jika mereka perlu usaha lebih untuk mengajak para anggota berpartisipasi karena memang berbeda rasanya bertemu tatap muka dan daring.

Selain itu, biasanya AmoreDio turut melakukan kegiatan sosial seperti bakti sosial, membantu dapur umum, menengok panti asuhan dan panti jompo. Pada Desember 2020, mereka membuat kegiatan membersihkan pantai dalam menyambut Natal. Cinta yang mereka rasakan tidak mereka simpan sendiri, tetapi juga dibagikan kepada orang lain. Di website, AmoreDio juga membagikan materi-materi pendalaman iman dan mempersilahkan siapa saja menggunakannya.

Nia sebagai koordinator berharap, semoga AmoreDio semakin berbuah dan bertumbuh. “Walaupun tidak bisa meng- hindari perselisihan, tetap kami ingat untuk selalu bersatu. Semoga AmoreDio menjadi berkat buat orang lain,” tuturnya.

Monic mempunyai harapan yang sama. Komunitas sudah sewajarnya jika ada masa-masa naik turun. “Semoga kita bisa melewati itu semua bersama- sama. Dengan segala tantangan yang ada. Bahkan tidak ada virus yang bisa memecah-belahkan kita. Semoga kita bisa bersama dalam kasih Tuhan” tutup umat Paroki St. Kristoforus, Grogol, Jakarta ini.

Karina Chrisyantia

(HIDUP No.07, 14 Februari 2021)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here