SANG PETARUNG

163

HIDUPKATOLIK.COM – SATU jab keras menonjok persis di ulu hatiku.

“Adduh…” aku terbungkuk menahan sakit, jantungku berdegup kencang.

Mampukah aku bertahan sampai akhir pertandingan? Sekilas kulihat papan skor… 0:3. Waduh gawat! aku ketinggalan jauh nih. Tapi pertandingan masih berlangsung…aku harus bangkit lagi nih. Malu banget kalo sampai kalah angka, lebih malu lagi kalo sampai KO. Sambil mengumpulkan semua tenaga yang tersisa dan menahan rasa sakit di hati yang masih terasa nyeri, aku memaksakan diri untuk bangkit lagi.

Tiba-tiba “Teng…teng….teng!!!!” Bel tanda break jeda berbunyi nyaring. Save by the bell! Sambil menghela nafas lega, aku kembali ke sudut ring. Paling tidak sempat rehat sejenak, sebelum pertandingan dilanjutkan.

Malaikat Pelindungku, tergopoh-gopoh mendekat. Sambil memberi air minum, dan menghapus keringat di wajahku, ia berkata “Tenang, kau harus tenang. Atur strategi, jangan kepancing emosi.”

Lalu dia memegang ulu hatiku, “Sakit banget ya? makanya begitu ada tanda-tanda lawan akan menyerang, segera lindungi bagian hati ini. Pihak lawan pasti sudah mempelajari semua titik lemahmu, jadi kau harus selalu waspada, ok?!” Aku cuma bisa mengangguk lemah.

Di sudut seberang, aku menyaksikan lawanku dihampiri oleh pelatihnya, Sang Iblis, yang bertampang sadis dan bengis. Mereka berdua tertawa mengejek ke arahku. Aku melengos, huh…males deh liatnya!

Aku melayangkan pandangan ke arah penonton. Tampak Bunda Maria duduk bersebelahan dengan St Mikael Malaikat Agung. Bunda Maria menunjukkan wajah sedih sekaligus prihatin, dia membisikkan beberapa patah kata ke St Mikael, dan St Mikael bergegas menghampiri sudut arena tempatku berada.

Bunda berpesan jangan menyerah ya. Bunda selalu menyertai semua pertarunganmu dengan si jahat dalam doanya yang tak pernah putus. Kau bisa memenangkan pertandingan ini dengan kesabaran, keihklasan, dan penyerahan diri sepenuhnya pada Tuhan. Lagipula aku, Mikael… Panglima Tentara Surga, ada di pihakmu juga. Jadi jangan pernah takut juga ya,” katanya sambil menepuk bahuku dengan kencang.

Dari jauh aku melihat Bunda Maria tersenyum lembut. Melihat senyum Ratu Surga, hatiku yang tadinya nyeri, langsung terasa sembuh seketika. Bagaikan mendapat ‘Energy Drink Surgawi’, api semangatpun langsung berkobar-kobar.

“Ok deh Mike, aku akan terus berjuang! Banzaiii!!!!”.

“Teng…teng….teng!!!!” Pertandingan-pun dilanjutkan.

Aku berdiri tegak dan langsung pasang kuda-kuda pertahanan. Dengan menyeringai, lawanku langsung menyerang, kali ini sasarannya adalah bagian telingaku. Bertubi-tubi aku dihajar dengan uppercut “Makian dengan kalimat pedas”. Dengan sigap aku menunduk, menyembunyikan kedua telinga dengan sarung tinju yang tebal, bertahan dengan jurus ampuh “Rendah hati”, dan dengan cepat berkelit dari serangan lawan, dan kemudian segera balik menyerang dengan pukulan hook “Cepat memaafkan”.

Lawanku tampak kebingungan dan mulai kehilangan keseimbangan. Tanpa membuang waktu, aku langsung melancarkan serangan tapper jab. Jab…swing…mundur…long hook! Lawanku kelihatan geram,wajahnya memerah karena marah. Gotcha! dalam hati aku merasa senang. Biasanya bila lawan terpancing emosi, strategi serangannya jadi kacau.

Lawanku mengirimkan pukulan cross “Fitnah”, disusul dengan “politik kantor culas dan kotor” tepat ke arah hatiku. Jurus klasik yang biasanya ampuh merobohkan mental banyak petarung. Untungnya saya ingat, salah satu pelatih saya Faustina pernah mengajarkan jurus Hening, jurus paling ampuh untuk bertahan terhadap serangan dasyat ini. Jadi segera saya membalas dengan pukulan Hook “Diam dalam keheningan” yang dikombinasikan dengan “Jangan membalas, biar Tuhan aja yang membalas”.

Lawanku langsung terjatuh.

“Teng…teng….teng!!!!” Bel tanda pertandingan usai. Skor akhir 4:3. Aku menang!!! Malaikat pelindungku dan St Mikael langsung menyerbu panggung dan mengangkat aku sambil bersorak-sorak gembira. Bunda Maria mengangguk sambil tersenyum dan semua orang kudus yang ada di bangku penonton ikut bertepuk tangan gembira.

Setengah jam kemudian, setelah mandi dan segar kembali. St Mikael mengundangku untuk ngopi-ngopi untuk merayakan kemenanganku hari ini. Malaikat pelindungku tentu saja ikut. Tetapi sayangnya Bunda Maria dan para kudus di Surga, sepertinya harus segera kembali ke Surga. Sambil menunggu minuman favorit kami tiba, kamipun berbincang dengan santai.

“Seru sekali pertandingan hari ini,” kata Malaikat Pelindungku.

“Ya, aku hampir saja dikalahkan oleh si Jahat…”, mukaku memerah menahan malu.

“Itu kan karena mereka selalu main curang. Tapi untungnya kau banyak latihan, jadi kau pasti bisalah mengalahkan mereka.” St Mikael menjawab santai.

“Iya tapi capek juga ya, kalo tiap hari harus bertanding seperti ini. Makin lama lawannya makin berat,” aku menghela nafas panjang.

“Itulah hidup. Setiap saat kita harus waspada terhadap serangan Iblis. Apalagi sekarang mereka tambah gencar nih menyerang anak-anak Allah diseluruh dunia.”

“Oh ya, bagaimana caranya?”

“Yah menghancurkan keluarga katolik yang utuh. Umat Katolik dibuat semakin malas membaca Firman Tuhan, males merayakan Ekaristi Kudus on-line apalagi off-line, Doa juga kalau inget. Yah mana bisa bertahan melawan serangan Iblis.” St Mikael menjawab lesu.

“Sepertinya tadi di ring sebelah ada seorang istri ngamuk dan dengan seru terus-terusan meninju ego suaminya ya?” aku bertanya.

Malaikat pelindungku mengangguk, “Betul. Di ring sebelahnya lagi malah ada anak muda yang bertarung sengit dengan ayahnya sendiri.”

“Begitulah. Kuasa gelap makin merajalela, dengan semena-mena merusak kehidupan rumah tangga, masa depan anak muda. Jiwa semakin dirusak oleh kesombongan dan hedonisme, hati semakin menjauh dari Tuhan.” St Mikael

Kami bertiga meneguk kopi masing-masing dalam diam. Caramel Macchiato yang biasanya manis, kali ini terasa sangat pahit di lidah. Tak lama kemudian St Mikael, pamit karena harus kembali bertugas.

“Goodluck! Selalu disiplin latihan ya. Supaya kau semakin ahli melawan kuasa jahat yang mengincarmu. Ingat, semua orang yang berusaha menyakitimu itu sebetulnya dalam pengaruh sang Iblis, provokator sejati. Jadi jangan benci orangnya, maklumi dan maafkan saja. Ok?!” St Mikael berdiri sambil menjabat tanganku dengan keras.

“Noted Bro Mike, makasih banyak ya…”

Sambil memandang St Mikael melesat cepat ke arah langit dan menghilang di ketebalan awan Cumulus, Malaikat Pelindungku memeluk bahuku.

“Semua manusia di seluruh bumi, harus siap bertarung dengan si jahat sepanjang masa hidupnya. Semua manusia…berapapun usianya…sepanjang segala jaman! Jadi yah kau nggak sendiri, semua mengalaminya…tanpa terkecuali!” katanya.

“Oh gitu ya….ok deh!” kataku tersendat.

Melihat aku tampak nervous, Malaikat pelindungku tertawa.

“No worry! Tenang aja, aku akan selalu menyertaimu. Sedari kau lahir, aku sudah diutus oleh Allah Bapa sendiri untuk senantiasa mendampingi kau. Kau akan kulindungi dan kuingatkan kalau sudah mulai malas latihan. Asal kau ikuti bimbingan Roh Kudus, dijamin kau akan selamat dari segala jebakan si jahat.”

“Makasih banget Bro Angel.” suaraku tersendat oleh rasa haru.

“Kriiiiiiiinggg!!!!!!” aku terlonjak karena kaget. Ternyata itu bunyi alarm ponselku. Aku terbangun dari mimpi panjang. Mimpi bertemu Bunda Maria, St Mikael dan Malaikat pelindungku. Tapi aku masih ingat betul semua nasihat mereka yang berharga, dan rasanya akan kuterapkan untuk pertumbuhan imanku. Aku langsung mendaraskan doa pagi, bersyukur karena masih diberikan nafas hidup di hari yang baru ini, sambil meminta berkat dan perlindungan-Nya, supaya aku bisa memenangkan ‘pertarunganku’ hari ini.

Fransisca Lenny, Kontributor, Alumna KPKS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here