Saat Kita Memandang Ikon Ini, Kita Memandang Kodrat Manusiawi yang Ia Kenakan

21

HIDUPKATOLIK.COM – EMAS berkilau-berkilau dari latar belakang dan pakaian-Nya. Namun Bunda memakai busana gelap. Wajah mereka berdua, Tuhan kita dan Santa Perawan, senantiasa memancarkan ketegasan dan kasih. Namun di sini, yang saya dapati adalah kesedihan dan kengerian, ketakutan yang manusiawi dari Juruselamat kita dan kesedihan yang wajar dari Ratu Para Martir. Tenang saja, keteduhan dan keagungan ilahi masih meraja.

Memang wajah dalam ikon-ikon sangat menarik untuk dicermati, namun di sisi yang lain sangat membosankan sebab ekspresi wajah mereka nyaris absen. Melulu mereka tampilkan air muka yang seolah-olah tahu segala sesuatu yang akan terjadi walaupun sebenarnya memang demikian sebab persatuan mereka yang penuh dengan Allah kini. Hanya dengan benar-benar jeli, seperti dalam ikon ini, baru nampak samar-samar ekspresi kesedihan yang dikalahkan oleh keagungan mereka.

Sang Theotokos (Bunda Maria) dalam ikon tradisi Byzatin biasanya mengenakan tunik berwarna biru dan maforion (mantel dengan kerudung – teruntuk perempuan yang sudah menikah) berwarna merah. Akan tetapi, dalam ikon ini, kedua pakaian itu bertukar warna. Mengapa? Warna biru maforionnya yang juga sebenarnya dimaksudkan berwarna ungu sebagai lambang rajani, malah menampakkan warna yang begitu gelap pekat seolah-oleh kedukaan sedang merundungi Sang Ibu. Untunglah berbagai warna emas terpancar dari maforion yang gelap itu bagai kain kabung. Tetapi bagi aku pun, kemilau emas itu tampak bagaikan duri mawar yang menusuk kedalam daging Sang Ibu. Tiada salah kini kita memanggil Ibunda Juru Selamat itu dengan nama Maria, yang dalam bahasa asalnya berarti “pahit”. Ikon ini di Timur disebut sebagai “Theotokos dari Kesengsaraan Kristus”.

Saya memandang bagian-bagian kecil yang membuat nyaring pesan ilahi dari ikon ini. Malaikat setengah badan yang muncul entah darimana, kasut Tuhan yang terbuka, gestur tangan mereka, semuanya mengarahkanku pada pandangan luar biasa dari Kanak-kanak Yesus, Tuhan kita. Dalam kodratnya yang sungguh manusia, kanak mungil itu jauh lebih kuat dari siapapun. Ia sejak dini telah melihat salib-Nya yang nantinya harus dipikul-Nya untuk mengalahkan kuasa kematian. Ia tidak berpaling dari salib itu, tidak mengarahkan pandangannya kepada Sang Ibu. Ia menatap dalam-dalam salib itu sembari tangan-Nya memeluk ibu jari Sang Ibu, hamba Allah dan buatan tangan-Nya sendiri. Pancaran kasih dan ketaatan berseru kencang dalam kesenyapan ikon ini yang menyampaikan kepada kita dorongan untuk mencapai persatuan dengan Allah sembari mengejewantahkan kasih tanpa syarat kepada siapapun yang kita temui, langsung maupun tidak langsung. Masa depan kanak mungil itu telah pasti.

Memandang ikon ini,  kita memandang kodrat manusiawi yang Ia kenakan. Sembari menapaki perjalanan sehari-hari menuju persatuan dengan Allah, dengan memandang ikon ini, kita mengingat satu hal yang kita tahu pasti: yaitu Yesus Kristus dalam sakratul maut-Nya di taman Getsemani pernah berucap, — dan sayup-sayup kudengar ucapan itu pun keluar dari bibir kanak-kanak di ikon ini,– “Jangan kehendak-Ku, Bapa, kehendak-Mu jadilah !”

Christian Tombiling, Ikonografer (penulis ikon)

HIDUP, Edisi No.22, Tahun ke-75, Minggu, 30 Mei 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here