Pelbagai Macam Cara Ditempuh PML untuk Meningkatkan Kualitas Petugas Musik Gereja

20
Ibadat pagi karyawan PML dan Toko Puskat (Foto: Dok.PML)

HIDUPKATOLIK.COM – SALAH satunya adalah menyelenggarakan kursus, penataran atau pelatihan kor dan tulisan melaui Kursus Musik Gereja (KMG) sejak tahun 1971.  Menggunakan metode yang dipakai di Jerman, KMG membagikan teori dan praktik untuk belajar organ maupun direksi kor untuk mengerti apa tujuan lagu yang dipakai dalam ibadat, juga memahmi apa bedanya antara lagu liturgi dan lagu rohani.

Salah satu Pengajar KMG, Petrus Natanael Agus Surono menerangkan, kebanyakan peserta diasah dari nol. “Kami sampaikan dasar-dasarnya terlebih dahulu sesuai dengan tingkatannya. Di tingkat pertama, peserta diajarkan teori musik umum, solfes (latihan pendengaran). Kalau telinga enggak bisa mendengarkan dengan baik  bagaimana nanti  mengiringi imam untuk prefasi. Pada tingkat kedua, peserta belajar ilmu harmoni, mulai praktik organ sampai membuat iringan. Pada tingkat tiga diberikan pelajaran inkulturasi, bagimana membuat iringan lagu-lagu budaya daerah tertentu,” jelas Agus.

Pelatihan Karawitan tahun 2014 (Foto: Dok.PML)

Dari tahun ke tahun, PML melakukan pengembangan pada kursus-kursus yang diselenggarakan.  Menurut Agus, setelah mengadakan KMG, lahir kelas karawitan. “Ketika itu, hampir semua paroki di Yogyakarta mengirimkan utusannya untuk kursus. Sekarang kelas karawitan dijadikan satu dengan kursus lain karena di Yogyakarta sudah banyak yang mempunyai pelatihan karawitan, ” ungkapnya.

Awal tahun 1980, Paul Widyawan (alm.) mulai merintis Paduan Suara Vocalista Divina setelah mendirikan Paduan Suara Vocalista Sonora tahun 1964. Paduan Suara Vocalista Divina diperuntukkan agar musikalitas anak-anak dapat berkembang. “Tadinya hanya bernyanyi. Kemudian dikembangkan menjadi Kursus Organ dan Vokal (ORVO). Prinsipnya adalah anak-anak senang belajar musik. Sebelum pandemi, di sini ramai kalau kelas ORVO karena orangtua anak-anak juga ikut menemani. Kursus ini untuk SD kelas I-VI ” tutur Agus.

Tidak berhenti pada kursus anak-anak. Melihat potensi remaja, PML menyelenggarakan Kursus Organ dan Ansambel “Con Brio” yang mengarahkan peserta berlatih organ dan alat musik tradisional. “Kursus ini untuk remaja SMP.  Mereka dilatih organ dan bermain alat musik tradisional, nanti jika pentas, remaja ini akan digabung dengan peserta KMG,” terang Agus.

Peserta Asian Youth Day 2017 mengunjungi PML Yogyakarta (Foto: Dok. PML)

Sejak lahir, PML memang tidak membuka cabang. Hanya ada satu di Yogyakarta. Menurut Agus, hal ini memicu cukup banyak pertanyaan dari luar daerah yang ingin kursus organ di PML. “Maka kami mengembangkan lagi dan membuat Kursus Organ Gereja Jarak Jauh (KOGJJ). Kursus ini dimulai tahun 1995. Dapat dilihat dari pesertanya sejauh ini bahwa minta untuk menjadi organis Gereja cukup tinggi,” ungkap umat Paroki Pugeran, Yogyakarta ini.

Kursus Ogan dan Vokal Anak (Foto: Dok. PML)

Peserta KOGJJ dikirimi bahan, materi, modul dan tugas selama tiga bulan. Kemudian pengajar mengevaluasinya dan dikirim kembali. Setelah sembilan bulan peserta harus ikut ujian dan penataran di PML selama seminggu.

Agus menekankan, selain pembelajaran teori dan praktik, kedisiplinan peserta sungguh diajarkan. Ada aturan-aturan main seperti absen dan lainnya. “Kami selalu memperhatikan kebutuhan Gereja. Gereja butuh petugas musik seperti paduan suara, organis yang bermutu. Kami mendidik mental mereka agar pelayanan di Gereja tidak seenaknya. Jangan sampai organis datang saat Kemuliaan,” ujarnya terkekeh.

Menjamin Mutu Musik

Semua kursus yang diselenggarkan memberikan pengetahuan not balok bagi para peserta.  Peserta harus bisa membaca dan menulis not balok. Tidak dipungkiri, hal ini menjadi suatu tantangan tersendiri dan terkadang menjadi momok bagi sebagian peserta. Kendati demikian, menurut salah satu pengajar, Sugeng Wahono, pembelajaran not balok ini sangat penting. “Lagu-lagu inkulturasi dapat dimainkan oleh alat musik dari daerah asalnya. Hal itu membutuhkan iringan not balok. Misalkan, organ dengan gamelan. Musiknya lebih meriah dan daerah yang bersangkutan juga bisa mengekspresikan dan memuliakan Tuhan dengan tradisi mereka.

Di samping itu, jika main organ menggunakan not balok, dalam kondisi apapun mainnya, akan tetap sama bunyinya, dimainkan oleh siapapun. “Untuk menjamin mutu musik, perlu belajar not balok. Not balok juga internasional, ada standardnya. Kalau dibayangkan sulit tetapi biasanya setelah dipelajari, lebih enak main dengan not balok,” tutur Sugeng. Menurut Sugeng, kebanyakan peserta mulai dari nol. Bahkan ada peserta  yang belum bisa baca not balok sama sekali. Peserta dilatih membaca dari yang sederhana dulu dan bertingkat.

Sebagai pembuat not balok dalam buku iringan organ, menurut Sugeng, mutu organis dapat dinilai dari cara mereka membaca secara tepat. “Yang juga kami tekankan dalam kursus supaya organis main tidak asal bunyi, tetapi dapat mendengarkan orang yang bernyanyi. Organis harus menghidupkan musik walaupun hanya mengiringi. Semoga petugas musik Gereja semakin menjiwai sehingga musik yang hidup dan indah dapat dipersembahkan kepada Tuhan,” ungkapnya.

Liturgi dan Inkulturasi

Usaha lain PML untuk meningkatkan mutu pemusik Gereja adalah  menerbitkan berbagai macam literasi. Peserta diberikan teori melalui buku-buku yang diproduksi PML. Bagian Sekretariat PML, Agus Wahyudi menerangkan, buku-buku yang diterbitkan merupakan hasil studi yang mendalam. “Kami mempelajari musik tradisi dan nilai-nilai yang ada, seperti not dan lainnya. Kami gali apa yang menjadi istimewa.  Kemudian kami jadikan karangan untuk diterbitkan. Termasuk melengkapi dengan studi pustaka. Salah satunya adalah buku Inkulturai Musik Liturgi yang diterbitkan sebanyak empat seri,” ungkapnya.

Menajawab pertanyaan, apakah inkulturasi dibutuhkan di Indonesia, menurut Wahyudi, sebagai umat Katolik di Indonesia, umat tetap mengikuti dengan budaya yang ada. “Kita berdoa dengan cara kita. Kristianitas memang berasal dari Barat tetapi ketika sampai di alam pikiran kita, kita tetap menggunakan bahasa ibu untuk menyampaikan ke Tuhan,” jelasnya.

Ada sejumlah buku yang diterbitkan dari hasil karangan Paul Widyawan. Karangan dikumpulkan dari Majalah Warta Musik sejak tahun 1970. Banyak karangan yang bagus dan masih aktual. PML juga memprosuksi CD namun tidak banyak orang yang mencari selama ini. Ke depannya, PML akan menjamah sosial media.  Beberapa rekaman sudah diunggah di Youtube.

“Saat ini kami sedang memikirkan, bagaimana PML mampu mengajak orang bermusik liturgi dan inkulturasi. Jangan sampai inkulturasi semacam dongeng saja. Kami mengajak supaya orang paham dahulu, bahwa kita tidak mungkin bisa berdoa dan benyanyi ketika kita tidak mengerti,” tutur Wahyudi.

Menurut Wahyudi, sejauh ini buku-buku yang diterbitkan PML dapat dibaca oleh kaum awam. Contoh, dasar-dasar musik. Selama ini musik Gereja dan inkulturasi menjadi ‘ada dan tiada’. Maka PML berusaha memupuk peserta berperan lebih dan bermutu sebagai petugas musik  Gereja.

Karina Chrisyantia

HIDUP, No.27, Tahun ke-75, Minggu, 4 Juli 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here