Iñigo, dari Ksatria Istana Menjadi Ksatria Kerajaan Allah

196

HIDUPKTOLIK.COM – SUATU saat Yesus berdoa mengucap syukur, karena Bapa menyatakan diri-Nya kepada orang kecil (Bdk Mat.11:25), bukan kepada orang bijak dan orang pandai. Siapakah ‘orang kecil’ itu? Secara Biblis pengertian ‘orang kecil’ adalah orang yang tidak terkekang oleh pengetahuan dan ajaran duniawi. Mereka membuka diri, membutuhkan, dan mau menerima ajaran Yesus.

Ada satu ‘orang kecil’ yang menarik perhatian saya. Ia adalah St. Ignasius Loyola, pendiri Serikat Jesus (SJ). Kisah pertobatan Ignatius sungguh menarik. Coba lihat bagaimana Tuhan ‘menangkap’-nya dan menjadikannya sebagai ‘orang kecil’.

Iñigo Lopez de Loyola, nama Ignatius muda, senang bergaul dengan kalangan istana kerajaan Castilla, Spanyol. Ia senang berpesta dan sangat mengidolakan putri istana. Ia juga suka ikut perang, karena ingin menunjukkan kesetiaannya kepada raja. Pada Mei 1521 dalam perang mempertahankan Benteng Pamplona dari serbuan tentara Perancis, kaki Iñigo hancur terkena runtuhan menara benteng. Untung dirinya masih dapat diselamatkan.

Iñigo dibawa pulang ke Loyola. Dua kali kakinya dioperasi namun tetap tidak dapat kembali seperti semula. Hal ini membuat Iñigo putus asa. Hancur sudah impiannya menjadi ksatria, pupus sudah harapannya untuk ikut berperang lagi. Dengan kaki yang timpang jelas ia kehilangan kegagahannya. Dia membayangkan popularitasnya di kalangan putri istana pun akan sirna. Iñigo amat frustrasi.

Sembilan bulan masa perawatan, saat hanya bisa berbaring, Iñigo yang hobi membaca, membunuh waktu dengan membaca buku. Dan buku yang ada di rumahnya saat itu hanya Flos Sanctorium, kisah para orang kudus, dan Vita Christi, hidup Kristus. Saat membaca dan merenungkan buku-buku ini, secara perlahan tapi pasti Tuhan merasuk ke dalam hati dan pikirannya. Iñigo membuka diri, sehingga kemudian tumbuh kehendak kuat dan suci untuk menjadi seperti St. Dominikus dan St. Fransiskus Assisi.

Ignatius rutin berkontemplasi, selalu bertanya apa kehendak Tuhan dan ia setia melakukannya. Mimpi lamanya menjadi ksatria istana diubah Tuhan menjadi ksatria Kerajaan Allah. Dengan keutamaan-keutamaan yang ada pada dirinya, Ignatius adalah contoh sempurna ‘orang kecil’ yang kepadanya Tuhan berkenan menyatakan diri-Nya.

Belajar dari perjalanan hidup St. Ignatius Loyola mengajak kita  masuk dalam suatu refleksi, apakah kita sudah selalu membuka diri terhadap ajaran-ajaran-Nya? Apakah kita sudah merendahkan diri sehingga membiarkan kehendak Tuhan saja yang terjadi dalam hidup kita?

Semoga kita pun dapat menjadi orang kecil, berkat kehendak Allah dan keterbukaan diri kita.

Fidensius Gunawan, Kontributor, Alumni KPKS Tangerang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here