Menyambut Sang “Bebeubi” Kardinal Suharyo di Bomomani

171
Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo (tengah) dan rombongan disambut di Kring St. Yohanes Pemandi. (Foto: Dok. Komsos KAJ)
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Umat Bomomani merasa sangat gembira setiap kali mendapatkan kesempatan kunjungan Kardinal. Bahkan, mereka sampai memberikan “nama panggilan” dalam Bahasa Mee kepada Kardinal dengan sebutan “Bebeubi”.

Simak laporan lengkap Romo Joseph Biondi Mattovano, Pr dari Bomomani, Papua.

TERIK matahari tak menyurutkan semangat mama-mama (baca: ibu-ibu), sejumlah umat, dan komunitas misi domestik Nabire yang akan menyambut kedatangan Bapa Kardinal Ignatius Suharyo di Bandara Douw Aturure, Nabire. Pesawat yang dijadwalkan tiba pukul 10.55 WIT, Kamis, 3/6/2021, sempat mengalami keterlembatan di Jayapura karena kendala teknis. Akhirnya, pesawat baru mendarat pada pukul 13.15 WIT. Tari-tarian mama-mama menyambut kedatangan Bapa Kardinal bersama tiga romo dari Jakarta, Romo Reynaldo Antoni, Pr; Romo Steve Winarto, Pr, dan Romo Lucky Nikasius, Pr. Penyambutan kedatangan rombongan diakhiri dengan makan siang bersama di Susteran Meryam AK (Abdi Kristus). Seusai makan siang, rombongan langsung berangkat menuju Paroki Bomomani dengan jalur darat selama kurang lebih lima jam.

Menjelang malam hari, rombongan menyempatkan berkunjung ke Stase Epomani (sekitar 40 km sebelum Paroki Bomomani) untuk memberkati bahan makanan. Bahan makanan itu berupa babi dan sayur-sayuran yang akan diolah dan dibagikan kepada umat dalam pesta pemberkatan gereja stase yang baru esok hari. Rasa lelah perjalanan dari Jakarta menuju Bomomani selama 20 jam pun menjadi sirna ketika berjumpa dengan umat Bomomani yang sudah menunggu Bapa Kardinal sejak sore hari. Tadinya sudah dipersiapkan acara penyambutan. Namun, acara tersebut dibatalkan karena sudah terlalu malam, dan saat itu hujan gerimis sudah mengguyur Kampung Bomomani. Umat yang sudah menunggu akhirnya diajak oleh Bapa Kardinal dan para romo untuk berdoa bersama dan diberi berkat sebelum pulang ke rumah masing-masing.

Perjalanan mendaki ke stasi di atas gunung, Stasi St. Veronika, Amaikebo; Ignatius Kardinal Suharyo (memegang tongkat) (Foto: Dok Komsos KAJ)

Kunjungan Bapa Kardinal ke tanah Papua merupakan kunjungan rutin dalam rangka mengunjungi imam-imam Keuskupan Agung Jakarta (KAJ) yang diutus menjalani misi domestik KAJ di Paroki Maria Menerima Kabar Gembira, Bomomani.

“Gereja tanpa misi berarti mati.” Itulah yang selalu diungkapkan oleh oleh Bapa Kardinal. Salah satu wajah misi dari KAK adalah pelayanan di Bomomani.  Saat ini dua imam diosesan KAJ yang diutus adalah Romo Vinsensius Rosihan Arifin, Pr sebagai Pastor Paroki dan Romo Joseph Biondi Mattovano, Pr sebagai Pastor Rekan.

Umat Bomomani merasa sangat gembira setiap kali mendapatkan kesempatan kunjungan dari Bapa Kardinal. Bahkan, mereka sampai memberikan “nama panggilan” dalam Bahasa Mee kepada Bapa Kardinal dengan sebutan “Bebeubi”, artinya ia yang tidak pernah bosan datang.

Pemberkatan Stase

Keesokan harinya Bapa Kardinal bersama para romo menuju Gereja Stase Maria Bunda Penolong Abadi Epomani untuk merayakan Ekaristi pemberkatan gereja stase yang baru selesai dibangun. Dalam homilinya, Bapa Kardinal menyampaikan bahwa membangun gereja bangunan stase yang indah ini tentu bisa dikatakan sudah selesai, tetapi membangun gereja sebagai jemaat atau paguyuban umat beriman tentu tidak akan pernah selesai.

Kardinal Suharyo menerima persembahan seekor ayam jago dari umat. (Foto: Dok. Komsos KAJ)

Umat mensyukuri pemberkatan gereja stase yang baru ini dengan upacara bakar batu atau barapen yang menjadi tradisi syukuran masyarakat lokal Papua.

Seusai memberkati, Bapa Kardinal dan para romo kembali ke Paroki Bomomani untuk mengikuti upacara penyambutan yang sempat tertunda kemarin. Anak-anak dan mama-mama menyambut dengan tari-tarian, ketika Bapa Kardinal tiba di depan pintu masuk gereja paroki. Sebagai bentuk penyambutan dan ucapan selamat datang, Bapa Kardinal dan para romo diberikan kenang-kenangan berupa Noken, yakni tas anyaman tradisional masyarakat Papua dari anggrek dan serat kulit kayu.

Kunjungan ke-7 Stase dan 5 Kombas (Kring)

Wilayah Pastoral Paroki Bomomani terbentang dari Stase Amaikebo sampai Stase Epomani. Di antara kedua stase paling jauh itu terdapat lima stase lain, yakni Stase Obaikagopa, Stase Abaimaida, Stase Ekagokunu, Stase Ugida, dan Stase Pouto.

Di sekitar pusat paroki terdapat lima kombas atau biasa disebut kring (lingkungan), Kombas Petrus, Yosep, Maria Magdalena, Fransiskus Asisi, dan Yohanes Pemandi. Setiap kombas memiliki tempat doa yang biasa disebut sebagai gereja pribumi.

Bapa Kardinal bersama para romo mengunjungi tujuh stase dan lima kombas. Umat berkumpul di gereja-gereja stase dan kombas sambil membawa air, bibit tani, bahan makanan, noken, buku dan alat tulis untuk diberkati. Tidak lupa pula mereka menyampaikan harapan-harapan dan beberapa ujud doa supaya dapat didoakan Bapa Kardinal.

Kardinal Suharyo (kanan) mendoakan anak di Stasi Obaikagopa. (Foto: Dok Komsos KAJ)

Hampir setiap umat di stase dan kring mengharapkan kemajuan dalam bidang pendidikan dan bidang kesehatan. Bapa Kardinal kemudian memberikan pesan bahwa KAJ berusaha untuk melayani kebutuhan-kebutuhan itu, supaya kebutuhan-kebutuhan yang diharapkan bisa menjadi kenyataan. Tentu pelayanan untuk mencapai kebutuhan-kebutuhan membutuhkan kerja sama yang baik antara Gereja, masyarakat, dan pemerintah. Di samping itu, membutuhkan waktu yang lama dan kesabaran untuk mencari “jalan-jalan” mana yang dapat dicapai guna memenuhi kebutuhan pendidikan dan kesehatan yang dirindukan oleh umat.

Misa Krisma di Paroki Bomomani

Hari Minggu, 6 Juni 2021, pada hari Raya Tubuh dan Darah Kristus, Bapa Kardinal menerimakan Sakramen Krisma kepada 63 umat Paroki Bomomani. Perayaan ini dirayakan secara konselebrasi dengan empat imam. Penerimaan Krisma ini merupakan suatu anugerah bagi Papua pada umumnya dan Paroki Bomomani sebagai paroki misi KAJ pada khususnya. Papua tetap diperhatikan dan selalu dicintai sebagaimana anak-anak yang dikasihi Allah. “Engkaulah Anak-Ku yang terkasih, kepadamulah Aku berkenan,” ungkap Bapa Kardinal pada saat Misa Krisma.

Dalam homilinya, Bapa Kardinal berpesan agar umat hidup sempurna dan semakin menyerupai Kristus yang sempurna. Kesempurnaan Kristus ditandai dengan pemberian diri yang sehabis-habisnya di kayu salib. Pemberian diri Kristus ini merupakan kasih yang amat sempurna kepada umat manusia.

Di akhir homilinya, Bapa Kardianal mendongengkan kisah tentang kelinci, kera, musang, dan berang-berang yang bertemu dengan seorang pengembara yang lapar. Singkat cerita, kelinci memberikan dirinya dan bahkan dagingnya untuk dimakan pengembara itu.

Jejak Petualang

Di usianya yang sudah banyak, Bapa Kardinal tetap membulatkan tekad dan niatnya untuk mengunjungi umat di Stase Amaikebo pada hari Selasa, 8 Juni 2021. Stase Amaikebo ini merupakan stase tertinggi di atas gunung (sekitar 1800 mdpl) dan stase terjauh dari Paroki Bomomani karena hanya bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Pengalaman kunjungan ke Stase Amaikebo menjadi pengalaman kali kedua bagi Bapa Kardinal, sebelumnya tahun 2017 sudah pernah ke stase ini.

Umat Paroki Bomomani menyambut Kardinal Suharyo dan rombongan di gereja paroki. (Foto: Dok Komsos KAJ)

Perjalanan naik gunung ditempuh sekitar dua jam dengan cuaca berawan yang sangat mendung. Menjelang Misa berakhir, hujan deras mengguyur stase dengan nama pelindung St. Veronika ini. Seusai mengisi tenaga dengan makan bersama umat stase yang tidak lebih dari 7 KK ini, Bapa Kardinal pelan-pelan berjalan turun sambil dibantu oleh beberapa umat yang ia cintai. Medan yang terjal, licin, dan berlumpur karena hujan tidak menyurutkan semangat Bapa Kardinal dan para romo untuk melayani umat stase di atas gunung ini.

Bapa Kardinal selalu mengungkap kegembiraannya setiap kali mengunjungi Paroki Bomomani karena selalu ada pengalaman baru baginya. Pengalaman baru kunjungan kali ini, selain pemberkatan gereja stase yang baru, Bapa Kardinal turun gunung dengan berkotor-kotor ria bersama umat Bomomani yang ia kasihi.

Bapa Kardinal dan para romo mengakhiri kunjungan pastoral ini dengan terbang dari Waghete menuju Timika menggunakan pesawat AMA. Sebelum kembali ke Jakarta, ia menyempatkan diri untuk berkunjung ke Katedral Timika dan bertemu Pastor Administrator Keuskupan Timika, Marthen Kuayo, Pr pada hari Kamis, 10 Juni 2021.

Menyeberangi sungai (Foto: Dok. Komsos KAJ)

HIDUP Edisi No. 28, Tahun ke-75, Minggu, 11 Juli 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here