95 TAHUN URSULIN SUKABUMI: TERUS BERBUAH LEWAT KETELADANAN

53

HIDUPKATOLIK.COM – Genderang pengabdian telah ditabuh para Suster Ursulin Sukabumi selama 95 tahun. Buah-buah keteladan telah mereka nikmati namun tantangan ke depan tidaklah ringan.

TEMA perayaan 95 tahun Biara Ursulin Sukabumi dan Kampus Yuwati Bhakti adalah, “Terus Berbuah, Demi Eksistensi, dan Keberlanjutannya”. Tema ini menjadi sangat penting sejalan dengan sistem pendidikan yang diterapkan di tengah pandemi Covid-19. Masa pandemi membuat setiap orang harus menarik diri dari pendidikan konvensional menuju pendidikan berbasis online. Banyak sekolah harus belajar secara daring, termasuk persekolahan di Kampus Yuwati Bhakti mulai dari jenjang TB-TK Sukapirene hingga SD-SMP Yuwati Bhakti yang dikelola oleh para Suster Ursulin, komunitas Sukabumi.

Maka perayaan 95 tahun kehadiran Ursulin di Sukabumi juga dilaksanakan secara sederhana. Tema perayaan 95 tahun ini pertama-tama sebuah refleksi atas situasi pandemi yang membuat Kampus Yuwati Bhakti harus terus bertahan sebagai sekolah favorit. Tetapi refleksi lain dari tema ini adalah sebagaimana harapan sang pendiri St. Angela Merici (1474-1540) dalam Regulanya nomor 10 agar, “Bertahan maju sampai akhir…”

Para Ursulin yang kini berkarya di Komunitas Sukabumi. (Foto: Dokpri)

Bertahan di tengah pandemi, dan berusaha berbuah demi eksistensi dan keberlanjutannya adalah sebuah perjuangan yang tidak gampang. Persoalan paling dirasakan adalah bagaimana Kampus Yuwati Bhakti bisa terus eksis di tengah gempuran sekolah-sekolah negeri yang menjamur di Sukabumi. Ketahanan menjadi refleksi utama dalam perayaan 95 tahun ini. Kampus Yuwati Bhakti harus bertahan di tengah gempuran pandemi, persaingan sekolah-sekolah, dan tuntutan zaman.

Berbuah Manis

Perayaan 95 tahun Ursulin dilaksanakan secara sederhana dengan dipuncaki Perayaan Ekaristi yang dipimpin Pastor Tarcisius Puryatno di Paroki St. Joseph Sukabumi, 18 Juni 2021. Merefleksikan tema ini, Pastor Tarcisius menjelaskan bahwa 95 tahun kehadiran Ursulin di Sukabumi sudah tentu bukan waktu yang singkat. Lewat perjuangan panjang itu, para suster dan guru telah menghasilkan ragam “buah” yang manis. Di dunia pendidikan, kini alumni Kampus Yuwati Bhakti sudah tersebar di seluruh pelosok tanah air, telah mengabdi pada bangsa dan Gereja.

Para lulusan Kampus Yuwati Bhakti adalah buah-buah manis yang dihasilkan. Maka para Suster Ursulin perlu berbangga hati akan rahmat yang besar ini. Lebih dari itu, kata Pastor Tarcisius, Kampus Yuwati Bhakti harus terus hadir sebagai lembaga pendidikan yang kreatif dan inovatif di tengah pandemi. “Hendaknya pandemi tidak menjadi alasan untuk tidak menghasilkan buah yang berlimpah dan manis demi pendidikan yang layak,” ujar Pastor Puryatno.

Tapi sebelum menghasilkan buah, kata Pastor Puryatno, Kampus Yuwati Bhakti perlu melahirkan tunas yang baru agar dari tunas baru itu nampaklah buah-buah yang berlimpah dan bisa dirasakan banyak orang. Tunas baru itu dalam kaca mata Pastor Puryatno adalah metode pendidikan yang kreatif dan inovatif.

Hal yang sama disebutkan Uskup Bogor, Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM. Ia menyebutkan para Suster Ursulin Sukabumi dalam banyak hal telah ikut ambil bagian dalam karya pendidikan di Sukabumi. Jiwa pendidik itu sebagaimana searah dengan harapan sang pendiri St. Angela Merici.

Mgr. Paskalis Bruno Syukur OFM (Foto: Dok. HIDUP)

Menggarisbawahi tema perayaan, Mgr. Paskalis menyebutkan bahwa perlu terus pembenahan untuk dunia pendidikan di Sukabumi yang lebih baik. “Jika karena perubahan zaman dan dalam keadaan perlu untuk membuat peraturan baru atau untuk merubah sesuatu, lakukanlah hal itu dengan kebijaksanaan setelah mendengarkan nasehat yang baik” (Regula St. Angela Merici Bab VII ayat 16).

“Pesan St. Angela ini kiranya harus menjadi motivasi baru bagi para suster untuk terus berkarya sesuai perkembangan zaman dan pada akhirnya menghasilkan buah manis dan tetap eksis dalam panggung pendidikan.”

Teladan St. Angela

St. Angela sendiri memiliki kedekatan yang mendalam dengan Kristus. Ia mencintai Kristus dan peka terhadap bisikan Roh Kudus. Dalam banyak kesempatan, St. Angela dianugerahi pengetahuan yang mendalam tentang Alkitab, doa, pengorbanan, cinta dan pengabdian kepada sesama. Ia selalu memiliki visi yang jelas terhadap pemberdayaan kaum perempuan. Kebijaksanaan dan kerendahan hatinya selalu tertuju pada kegembiraan hati orang lain dan kesucian diri para pengikutnya.

St. Angela seorang yang memiliki pandangan yang tajam, realistis, dinamis dan penuh kegembiraan. Seorang yang optimis terhadap martabat manusia. Ia berani mengambil reisiko dan memiliki kemampuan leadership yang baik. Hidupnya selalu berpusat pada hubungannya yang intim dengan Yesus yang merupakan satu-satunya sumber kehidupan.

Spiritualitas St. Angela ini diharapkan menjadi semangat yang menggelora di hati para Suster Ursulin Sukabumi, para pendidik di Kampus Yuwati Bhakti. Kata-kata dan kesaksian hidup St. Angela hendaknya menjadi kesaksian hidup bagi setiap orang yang berada di lingkungan komunitas Ursulin dan Kampus Yuwati Bhakti.

Sr. Kristin Dhewa, OSUselaku Kepala Sekolah TB-TK Sukapirene menjelaskan, perayaan 95 tahun ini mengajarkan kepada para Suster Ursulin tentang makna dari tiga pilar Ursulin yaitu hidup doa, hidup komunitas, dan hidup karya. Tiga pilar ini tidak bisa dipisahkan, harus seimbang dan harmonis. “Kita tidak bisa mengatakan bahwa doa itu segalanya dan hidup komunitas dan karya itu nomor sekian. Tidak, karena tiga hal ini tak bisa dipisahkan saling meresapi,” ujarnya.

Sr. Kristin Dhewa, OSU

Sr. Kristin menambahkan Ursulin Sukabumi sebagai satu komunitas bisa bertahan di tengah gempuran persaingan di bidang pendidikan, mayoritas Muslim di tanah Sunda, tetapi tetap memancarkan semangat mengabdi tanpa kenal lelah. Semua ini terjadi berkat kehidupan doa baik doa pribadi dan doa dalam komunitas; hidup komunitas yang sehat dengan semangat persaudaraan dan saling mendukung; serta hidup karya khususnya di bidang pendidikan dan rumah retret.

Pendidikan Keteladan

Sementara itu, Sr. Katharina Namaina Wotan, OSU selaku Kepala Sekolah SMP Yuwati Bhakti menambahkan, para Suster Ursulin menyadari bahwa pelayanan kepada sesama harus berlandaskan semangat Soli Deo Gloria (Hanya demi Kemuliaan Tuhan). Semangat inilah yang mendasari para Suster Ursulin melayani khususnya melayani anak-anak di bidang pendidikan. Bagi St. Angela, setiap orang harus dihargai sebab bermakna di hadapan Tuhan. Subjek bina adalah pribadi-pribadi yang unik dan harus diterima dan dirangkul sebagai bagian dari rahmat Tuhan.

Sr. Katharina Namaina Wotan, OSU

Bagi para Ursulin Sukabumi, setiap peserta didik adalah seorang pribadi yang unik dan mereka berusaha untuk bekerja sama dengan orangtua peserta didik membantu peserta didik berkembang sesuai dengan citra Allah bagi mereka masing-masing. Dengan kata lain para peserta didik dibantu untuk tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang utuh, seimbang: berpusat pada Tuhan dan mengasihi serta terlibat pada sesama.

“Bagi para Suster Ursulin mendidik adalah sebuah tugas mulia dan panggilan khusus. Kita dipanggil untuk membimbing anak-anak Allah. Semakin besar mencintai mereka, semakin besar pula kesanggupan para Ursulin melayani Kristus. Maka pendidikan Ursulin harus berlandaskan keteladan,” ujar Sr. Kristin.

Yusti H. Wuarmanuk

HIDUP, Edisi No. 29, Tahun ke-75, Minggu, 18 Juli 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here