Ketika Gaizka Bertanya “Apa”, Saya Mencari “Mengapa”

29

HIDUPKATOLIK.COM – Nama lengkapnya Gaizka Denia Kirani, usia 2.5 tahun.  Baru 3 bulan duduk di kelas Taman Bermain online.

Gaizka “masuk kelas” 3 kali seminggu, masing-masing 30 menit.  Bermain, menyanyi, menari,  dan  kegiatan interaktif lainnya.  Semua di depan laptop,  pakai internet.

Bagaimana Gaizka kini?.

Dia semakin getol  bertanya “Itu apa”.  Untuk suatu benda, kadang diulang beberapa kali.  Mungkin  dia sedang melatih ingatannya.

Dia bertanya nama, bentuk atau warna benda.  Lain kali,  barang yang sama diucapkan beberapa kali.   Mungkin  dia sedang melatih kefasihannya.

Anak seusia Gaizka sedang berada pada fase mencari tahu apa saja.   Puluhan atau ratusan  benda ingin dikenalnya.  Gaizka mengeksplorasi dunia melalui kata tanya “apa”.

“Itu apa?”.
“Bunga”.
“Bunga apa?”.
“Kamboja”.
“Kamboja apa?”.
“……..”.
“Warnanya apa?”.
“Merah”.
“Merah apa?”.
“……..”.

Seiring bertambahnya usia,  semakin banyak benda dikenalnya.  “Apa” akan mulai sedikit demi sedikit ditinggalkan.  Sebagai gantinya, “bagaimana” mulai dipakainya  menjelajah dunia.

Kecepatannya tak sebesar “apa”. “Bagaimana”  lebih sulit untuk dicerna.  Simak bagaimana “bagaimana” digunakan.

“Bagaimana  bola dibuat?”.
“……..”.
“Bagaimana dimainkan?.
“Dilempar”.
“Bagaimana dilempar?”.
“………”.

Proses yang berputar di kepalanya tak sesederhana “apa”. Struktur berpikirnya  berangsur kompleks.  Tak hanya 1 seperti “apa”, “bagaimana” kadang mengandung lebih dari 1 variabel.

Itu yang sekarang dialami Nora, kakak asuh Gaizka.  Usianya 8 tahun, duduk di kelas 3 SD.  Dia lebih banyak menggunakan “bagaimana”.

Komposisi “apa” dibanding “bagaimana” berkisar fifty-fifty.  Lama-kelamaan, “bagaimana” akan menggeser porsi “apa”.

Kapan?.

Bisa cepat, bisa lambat.  Tergantung tingkat kecerdasan Nora.  Waktunya pasti akan tiba.  Kemudian Nora mengeksplorasi  dunia dengan “bagaimana”.

Itulah sekelumit tahapan proses berpikir  bayi hingga beranjak remaja.  Awalnya “apa”, kemudian “bagaimana”.

Setelah itu, “mengapa” mulai mendominasi alam pikiran manusia dewasa.

Bila digambarkan dengan sebuah lingkaran, “apa” merupakan lingkaran paling luar.  Berupa “kulit” yang banyak dialami  balita.

Kemudian “bagaimana” adalah lingkaran di tengah dan yang paling dalam adalah “mengapa”.

Manusia dewasa (seharusnya) didominasi kata tanya  “mengapa”.  Bila seseorang mengeluarkan terus menerus “mengapa”, dia akan mendapatkan perspektif masalah yang semakin luas dan komprehensif.  Itu yang disebut sebagai membangun akal-sehat.

Bila “malas” untuk bersahabat dengan “mengapa”, pikirannya akan cupet.  Hanya dengan satu kali “mengapa” dia  menyerah dengan berlindung di balik keterbatasannya sebagai manusia.  Sudut-pandangnya menyempit  dan semakin jauh dari substansi masalah.  Padahal  pikiran manusia itu batasnya langit.

“Sky is the limit”.

Keengganan manusia untuk terus mengejar hakekat sesuatu,  jelas bukan karena dia diciptakan kerdil.  Lebih karena  malas untuk terus memakai “mengapa”.  Padahal berpikir dan berpikir adalah cara menjelajah alam  yang paling tepat.  Kejar terus dengan “mengapa”, sampai akal sehat kita takluk dan tak bisa mengejarnya lagi.

Beberapa karena merasa diri tak mampu.  Sebagian khawatir karena bisa membuat pikiran nggrambyang tak tentu arah.  Yang lain takut salah, entah kepada siapa.  Padahal menguasai dunia lebih mudah dilakukan dengan berpikir dan terus berpikir.

Bambang Legowo, sahabat sejak di bangku SMA, menyebut ini sebagai “berpikir kritis”.  Kami berdiskusi seru sebelum sepakat bahwa manusia tetap  punya  batas untuk menyerah.  Pikiran manusia tidak tak berbatas.  Batasnya berbeda-beda untuk setiap orang.

Seperti olahraga, “berpikir” perlu latihan.  Biasakan sejak kecil untuk kritis dan mengejar apa saja melalui bertanya. Ini bisa membuat batas untuk menyerah berangsur naik.

Kalau sedari awal tak dibiasakan untuk terus bertanya “mengapa”, jangan heran kalau lama-lama menjadi jumud.

“You want to prepare your child to think as he gets older. You want him to be critical in his judgments. Teaching a child, by  example, that there’s never any room for negotiating or making choices may suggest that you expect blind obedience-but it won’t help him  to be discriminating in  thinking” (Lawrence Balter, Psikolog anak, Ahli Parenting, dari New York University).

P.M. Susbandono, Kontributor, Penulis buku inspiratif

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here