BERTEMU MALAIKAT DI TOKYO

294

HIDUPKATOLIK.COM – Enam April empat tahun lalu, menggunakan ANA kami berdua terbang ke Tokyo, Jepang. Ini pertama kali kami hendak berlibur ke negara Matahari Terbit itu. Menikmati cantiknya bunga sakura yang hanya mekar di musim semi adalah tujuan pertama. Sebenarnya agak terlambat, karena saat terbaik adalah Maret, namun high season, harga tiket pesawat tak terjangkau.

Mengudara hampir 8 jam dalam Boeing 787-8 JET, ternyata tetap nyaman. Makanan yang disajikan juga cocok. Padahal biasanya kami agak sulit menikmati hidangan dalam pesawat. Yang biasanya sulit tidur, kala itu lumayan saya bisa tidur beberapa jam.

Tak terasa,  menjelang matahari tenggelam, pesawat mendarat mulus di Narita. Bandara ini letaknya lumayan jauh dari pusat kota. Sebenarnya Haneda lebih dekat dengan kota. Sayang, tiket promo yang tersedia hanya tujuan Narita.

Selesai urusan imigrasi dan mengambil bagasi, kami keluar terminal. Kami memuji kebesaran Tuhan karena telah diizinkan menghirup udara sore Tokyo dan  merasakan segarnya angin semilir yang berhembus pada wajah.

Kami  memutuskan   menggunakan Airport Limousine alias bus bandara untuk menuju pusat kota. Sebenarnya ada beberapa alternatif lain, misal  Shinkansen, kereta cepat bermoncong sangat panjang, bisa berlari hingga 300 kpj. Bisa juga menggunakan kereta Japan Railway (JR) seperti Narita Line. Info yang kami dapat, sore hari  kereta sangat ramai, cenderung berdesak-desak, mirip KRL.  Dengan koper-koper besar  kami tentu akan kerepotan bila harus berdesakan.  Taxi adalah alternatif lain, tapi  tidak cocok bagi kantong pas-pasan. Menggunakan bus selain biaya rendah, juga dapat suguhan pemandangan kiri-kanan jalan yang indah dan sangat bersih. Perjalanan relatif lancar sekitar 1,5 jam, kecuali saat masuk kota, lalu lintas agak tersendat. Sebagai kota besar, dapat dimaklumi bila jalanan kota Tokyo cukup padat, apalagi pada sore menjelang malam.

Shinkansen dengan moncongnya. (Foto: Dokpri)

Menjelajah Tokyo, kota megapolitan, sungguh menantang namun juga menyenangkan. Kami tidak bisa  berbahasa Jepang, dan orang Jepang umumnya juga tidak dapat berbahasa Inggris, tapi  kami sangat terbantu dengan sikap suka menolong orang Jepang.

Pagi pertama, dengan penuh antusias kami berangkat dari Emblem hostel yang letaknya agak sedikit diluar kota, menuju stasiun Nishiarai. Jaraknya sekitar 250 m maka jalan kaki adalah pilihan terbaik. Stasiun ini kecil saja, dengan dua jalur rel. Saat itu bukan jam sibuk, jadi sangat lenggang. Agar tidak salah naik kereta, saya bertanya pada seorang bapa tua. Dengan gerak tangan, ia memberitahu, kami harus naik jembatan penyeberangan pindah platform. Tak dinyana, beberapa saat setelah kami menyeberang menunggu di platform yang benar, bapa ini malah ikut menyeberang. Ia menemani kami. Ketika satu kereta datang, ia memberi kode inilah kereta yang harus kami naiki. Ia tetap menunggu hingga kami naik kereta lalu  membalas ucapan terima kasih kami, dengan membungkukkan badannya beberapa kali sampai kereta sudah mulai jalan. Hati kami terasa sangat sejuk menerima pengalaman kebaikan bapa ini. Ia malaikat yang dikirim Tuhan untuk menolong kami.

Suasana di Ueno Park (Foto: Dokpri)

Ueno Park, kawasan terkenal sejak 1873 menjadi tujuan pertama kami. Di sini ada stasiun Ueno, ada Ueno Zoo kebun binatang tertua di Tokyo, ada beberapa Museum National, dan juga kuil Toshogu.  Ruang terbukanya sangat luas hampir 54 ha lengkap dengan danau. Kiri kanan jalan  menyusur sisi danau dihiasi jejeran pohon sakura. Beryukur bunga yang mekar berwarna putih jambon, masih dominan, sungguh indah menyejukkan hati dan mata yang memandang. Pengunjung  berjejal, saling tunggu lokasi terbaik untuk foto selfi atau saling minta tolong dengan sesama pengunjung. Banyak juga keluarga yang duduk-duduk atas tikar di rerumputan hijau bawah pohon sakura. Atau bermain perahu angsa genjot di danau.

Saat lapar, pada sisi lain taman tersedia kios-kios musiman yang menjajakan berbagai jajanan khas Jepang. Suasana di sini sama ramainya, bahkan pada beberapa kios nampak antrian.

Setelah mata puas dan perut kenyang, kami menyebrang menuju pusat belanja Ameyoko. Di sini sepanjang jalan, mereka menjual berbagai macam barang untuk buah tangan para turis. Hari itu saya membeli jeruk di pedagang kaki lima, momen yang masih tersimpan dalam kenangan karena jeruk ini banyak airnya dan manis sekali. Belum pernah saya makan jeruk semanis dan  sesegar ini.

Drama muncul saat kembali di hostel, saya tidak dapat menemukan kunci kamar. Barulah sadar, ternyata dompet pinggang berisi paspor, kartu kredit, uang, kartu kunci, tertinggal di Kitasenju. Stasiun transit di mana kami harus tukar kereta. Stasiun ini besar, lengkap dengan area pembelajaan mirip mal. Tadi sebelum naik kereta berikutnya, kami sempat jalan-jalan dalam stasiun. Dan saya mampir ke toilet. Saya ingat telah melepas tas pinggang dan meletakkan di rak.

Kami langsung panik, terbayang betapa repotnya mengurus paspor. Acara liburan pun pasti  berantakan. Sendiri saya balik ke Kitasenju, bolak balik menyusuri dua lantai pertokoan dalam stasiun, mencari lokasi toilet. Tapi tidak ketemu. Mencoba bertanya kepada petugas stasiun, juga gagal terhambat bahasa. Putus asa, dengan kaki sangat lelah saya kembali ke hostel.

Esok pagi, setelah sarapan, berbekal sepotong surat keterangan mengenai kondisi saya, yang ditulis oleh resepsionis, saya kembali ke Kitasenju. Surat berhuruf kanji ini sangat ampuh. Seorang petugas memberi petunjuk, bahwa lokasi toilet ada di lantai paling bawah. Saya baru sadar, ternyata stasiun ini terdiri dari 4 lapis. Lapis ketiga adalah platform kereta, dan masih ada lapis 4 di bawahnya dimana tidak saya susuri malam kemarin.

Indahnya Bunga Sakura (Foto: Dokpri)

Ternyata tas pinggang saya sudah raib. Masih berharap dan dengan terus berdoa, kami mencari tahu di mana letak kantor Lost and Found. Lalu muncullah malaikat penolong. Seorang ibu muda, sedang berjalan-jalan dengan putri kecilnya, melihat kami kesulitan berkomunikasi dengan penjaga toko, menghampiri kami. Setelah memahami masalah, ibu muda yang sangat ramah ini meminta kami mengikuti dia. Ia berjalan sambil menuntun putri kecilnya. Jalan kaki yang cukup jauh, karena kantor Lost and Found ternyata ada di lantai paling atas dari stasiun. Di kantor ini, ia menjelaskan kepada petugas akan permasalahan kami. Setelah menunggu beberapa menit, saya mendapatkan kembali tas pinggang, dengan isi yang tak berkurang. Puji Tuhan. Kepada ibu muda ini, dengan penuh rasa syukur kami mengucap Arigatoo sambil membungkuk dalam. Dan luar biasanya ibu muda dan putrinya juga membalas membungkuk. Nampak sekali ibu ini bergembira dapat menolong kami.

Dalam hati, kami juga ucapkan terima kasih kepada orang yang menemukan tas pinggang ini dan mau menyusahkan diri menyerahkannya ke kantor Lost and Found.

Betapa indahnya dunia bila berisi orang-orang yang siap menolong orang lain dengan begitu ramah tanpa pamrih.

Penulis di Kuil Toshogu (Foto: Dokpri)

Fidensius Gunawan, Kontributor, Alumni KPKS Tangerang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here