Mutiara Kasih Carolus: Menawarkan Perubahan, Menjawab Kebutuhan

17
Peserta pelatihan sedang mempraktikkan pelayanan kepada bayi yang baru lahir. (Foto: Dok MKC)

HIDUPKATOLIK.COM – Bingkai Visi Misi MKC dari hari ke hari terus diasah, asih, dan asuh. Benih kepedulian kepada sesama ini ditujukan untuk membantu para perempuan dan laki-laki yang tidak dapat melanjutkan kuliah atau drop out SLTA. Hal ini dilakukan melalui pendidikan dan pelatihan untuk menjadi pengasuh bayi/anak, pendamping orang sakit dan lansia yang profesional selama ± 2 bulan. Para peserta didik ini datang dari berbagai tempat. Mereka awalnya tidak punya harapan, namun dalam proses pelatihan ini ditumbuhkan kembali mutiara harapan yang sempat terkubur bahkan hilang itu. Melaluinya, para orang muda ini kembali memiliki mimpi hingga akhirnya berhasil meraih impian, mempunyai penghasilan, melanjutkan pendidikan, membantu orangtua, terlebih menjadi pribadi yang mandiri.

Peserta pelatihan sedang praktik laboratorium. (Foto: Dok MKC)

Memilih PT

Dalam perjalanan MKC menebar kebaikan, penghargaan dan pengakuan turut datang menghampiri. Juara dalam berbagai lomba dan dipercaya sebagai tempat uji kompetensi (TUK) serta mendapat nilai Akreditasi A sudah mereka kantongi. Ini merupakan wujud pengakuan bahwa keberadaan MKC mulai diperhitungkan. Pada Tahun 2019, dimulailah penjajakan untuk perubahan bentuk Kerja Sama Operasional (KSO) menjadi bentuk Perseroan Terbatas (PT). KSO sendiri merupakan kerja sama antardua pihak atau lebih untuk bersama-sama melakukan suatu kegiatan usaha guna mencapai suatu tujuan tertentu.

Dua anggota Badan Pengarah, Roy Tjiong Tat Tjioe dan Yudan Yehezkiel Gaing menuturkan KSO ini dilaksanakan bersama oleh Yayasan Pengembangan Manajemen Kesehatan Perdhaki (YPMK Perdhaki) dan Yayasan Pendidikan Kesehatan Carolus (YPKC) dalam rangka pemenuhan kebutuhan tenaga pegasuhan kesehatan profesional. Melihat perkembangan MKC yang kian dipercaya oleh masyarakat serta didukung oleh banyaknya prestasi, maka MKC semakin mantap untuk menjadikannya sebagai badan usaha yang lebih resmi. Agar gerak MKC semakin mantap melaju ditandatanganilah akta notaris pembentukan PT Mutiara Kasih Carolus pada 1 Juli 2020.

“Penempatan nama Carolus ini juga sebagai hasil kajian bahwa visi misi Mutiara Kasih betul-betul menjawab apa yang menjadi target yayasan untuk menolong orang kecil di mana Carolus juga bergerak dalam karya yang sama,” Jelas Yudan pada Selasa, 15/6/2021 “Tentu saja pemakaian nama ini harus kita jaga dengan baik kepercayaanya,” tegasnya lagi.

Adapun alasan pemilihan bentuk PT ini dituliskan dalam Buku Mutiara Kasih Memanen (2021) agar (1) bebas dalam melakukan aktivitas bisnis termasuk mengikuti tender maupun mendapatkan bantuan Pemerintah karena sudah memiliki dokumen legal seperti NIB; (2) Pemisahan harta pribadi dengan harta perusahaan; (3) Mudah mengalihkan kepemilikan yaitu berupa saham; (4)Tidak ada batas jangka waktu hidupnya sebagai PT; (5) Dapat bersekutu dengan pihak asing; (6) Dilindungi Undang-undang; (7) dapat legitimasi dari pemerintah; dan (8) Lebih profesional pengelolaannya. Oleh karenanya setelah resmi mendapat nama baru dan setelah 15 tahun, maka Mutiara Kasih menambahkan nilai-nilai misi mulianya dengan nilai-nilai dari Perhimpunan Carolus yang menjiwai I-Care (Jujur, sepenuh hati, melayani dengan tulus, beretika, menghormati, menghargai, dan keinginan belajar untuk membuat perubahan serta beradaptasi dengan perubahan teknologi).

Atmosfir profesionalitas dalam pengelolaan diakui Roy semakin kuat dalam MKC setelah berbadan hukum. Ketua YPMK Perdhaki yang dihubungi secara daring pada Sabtu, 14/8/2021, ini mengungkapkan dengan ditunjuknya Simon Subrata, Komisaris Utusan dari Perhimpunan Carolus sebagai Komisaris Utama dalam PT Mutiara Kasih Carolus menjadikan dinamikanya menjadi lebih profesional. Di kesempatan ini, Roy juga mengingatkan agar MKC jangan sampai melupakan jati diri. “MKC berangkat dari kepedulian untuk mendorong anak-anak dari keluarga tak mampu yang berpotensi, bertalenta untuk berkarya dalam bidang kesehatan, semangat ini janganlah sampai terkikis,” harapnya.

Menurut Roy dalam perjalanan MKC menebar benih kebaikan, secara tidak langsung karya MKC memiliki efek pengentasan kemiskinan. “Tujuan utamanya mengangkat martabat manusia diikuti dengan pengentasan kemiskinan walaupun tidak dirancang seperti itu tapi punya efek,” ungkapnya.  Ini dilihatnya dari para lulusan yang kehidupannya terangkat. Efek dominonya terlihat pada kehidupan keluarga yang turut terangkat. Apalagi dengan sebagian besar walaupun belum banyak, para lulusan melanjutkan ke pendidikan tinggi. “Jadi perubahan ini membuka cakrawala baru dalam diri mereka. Tidak hanya terampil dan handal dalam bidang kesehatan, tetapi juga terampil dalam menata hidup secara keseluruhan. Belum lagi ada interaksi baik antara caregiver/baby sitter dengan user sehingga membuka relasi baru yang lebih di mana sebelumnya tidak ada. Tak jarang user yang jatuh cinta dengan jasa mereka mau untuk membiayai kuliah,” imbuhnya lagi.

 Literasi Keuangan

Guna mendukung kesuksesan dalam mendidik peserta, MKC juga memberikan pendidikan literasi keuangan. Oleh Yudan, literasi ini diajarkan. Setelah menempuh pelatihan selama dua bulan, peserta akan mendapatkan kesempatan untuk terjun langsung ke keluarga yang membutuhkan jasa mereka. Memperoleh gaji secara profesional akhirnya dicecap mereka. Cara mengelola gaji inilah yang menjadi sasaran Yudan agar mereka bisa memiliki arsitektur keuangan yang baik seperti menyisihkan untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi. Sarana pengelolaan uang itu juga difasilitasi melalui keanggotaan Credit Union (CU). “Kita mengarahkan mereka supaya masuk CU karena CU itu intinya memberdayakan orang kecil bagaimana bisa keluar dari kesulitan keuangan,” terangnya.

Dalam mengajarkan literasi ini, Yudan memberikan contoh mereka yang berhasil mengelola keuangan. Bersama-sama mereka kaji mengapa pribadi tersebut bisa berhasil. Kemudian ia pun meminta para peserta untuk merancang pemasukan dan pengeluaran selama sebulan. Pemasangan target juga dilaksanakan untuk mengukur perubahan dengan yang lain. Yudan mengakui pengalaman yang begitu membekas dalam hatinya selama berkarya di MKC adalah melihat para peserta bisa merubah pola pikirnya untuk bisa menata gaji kemudian digunakan untuk mengejar cita-cita mereka. “Saya sangat bangga ketika melihat mereka bisa nabung dan kuliah. Artinya, ada perubahan cara berpikir bagaimana mereka mau dan mampu menolong diri sendiri,” sebutnya riang.

Peserta pelatihan mendapat arahan dari instruktur. (Foto: Dok MKC)

Terus Berinovasi

Perjalanan MKC memberikan warna kepada masyarakat Indonesia masih sangat panjang. Dengan hadirnya perubahan interaksi masyarakat akibat globalisasi dan percepatan teknologi membuatnya harus terus beradaptasi dan berinovasi. Yudan sendiri

menekankan MKC harus memperhatikan perubahan di masyarakat sebab sasaran yang dibantu nanti dengan semakin banyak yang mengikuti, semakin banyak yang terangkat pula derajatnya untuk mandiri. Dengan level kesejahteraan yang naik maka intelektualnya akan berubah, untuk itu MKC harus mempersiapkan perubahan itu.

Roy juga sepakat bahwa peserta juga harus melek digital agar bisa mengikuti dinamika pasar nasional dan internasional. Kemudian menegaskan untuk terus menciptakan dan mengukuhkan brand image bahwa tenaga pengasuh kesehatan profesional alumni MKC tidak boleh disamakan dengan pengasuh kesehatan yang tidak handal, tidak terampil, dan tidak profesional yang hanya bermodalkan baju putih bak perawat. Ini semua untuk memantik minat orang muda bahwa pekerjaan ini tak kalah menjanjikan apalagi mengingat pergeseran demografi yang akan memasuki periode banyak lansia sehingga kebutuhan akan caregiver nasional semakin dibutuhkan.

 Felicia Permata Hanggu/Karina Chrisyantia

HIDUP, Edisi No. 35, Tahun ke-75, Minggu, 29 Agustus 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here