BERIKAN KESEMPATAN PADA GENERASI MUDA

27
Peserta pelatihan mendapat arahan dari instruktur (Foto: Dok MKC)

Sr.  Christina Sri Murni, FMM, Ketua Yayasan Regina Pacis Bogor, Jawa Barat merasakan pelayanan dari tenaga-tenaga terampil lulusan Mutiara Kasih Carolus (MKC). MKC adalah lembaga yang memberikan pelatihan keterampilan bagi generasi muda yang ingin menjadi baby sitter atau caregiver. Awal September lalu, MKC merayakan hari jadi ke-15. Berikut ini petikan kesaksian Sr. Christina:

“Saya mengenal Mutiara Kasih Carolus (MKC) sekitar enam tahun yang lalu. Awalnya, kakak saya, Yohanes Rasul Subagyo, sakit dan dirawat di RS Sint Carolus, Jakarta.  Lalu ia membutuhkan teman, karena keluarga nda bisa 24 jam menemani. Kami mendapatkan kontak Mutiara Kasih dari pihak rumah sakit. Semenjak saya kenal Pimpinan Mutiara Kasih yakni Ibu Agustin

Setelah kontak, kami mendapatkan seorang caregiver (pengasuh) namanya Ajay. Ia mendampingi kakak saya selama dua tahun sampai kakak saya meninggal. Di mata kami sekeluarga, Ajay adalah anak yang baik. Ia tekun berdoa dan mengajak kaka saya berdoa setiap malam. Doa Angelus tidak pernah absen. Setiap pukul 20.00 WIB, ia mengajak kakak saya doa Rosario.

Tahun 2016 kaka saya meninggal. Kebetulan kakak saya yang satu lagi, yang tinggal di Bandung, Petrus Canisius Suroso, membutuhkan teman ketika itu. Ia tinggal sendirian sejak istrinya meninggal. Sehingga Ajay pergi ke Bandung untuk merawatnya. Kami percaya kepada Ajay dan sudah kami anggap sebagai bagian dari keluarga. Tahun 2018 Mas Suroso meninggal. Setelah itu, Ajay sempat beberapa bulan masih tinggal di Bandung. Sebetulnya kami hendak menyekolahkan di Universitas Katolik Parahyangan namun ia memilih pulang kampung. Sekarang di tempat saya berkarya juga ada satu suster yang didampingi oleh caregiver dari Mutiara Kasih.

Mutiara Kasih memberikan kesempatan untuk orang muda yang sungguh mau mempersiapkan masa depan dengan baik. Mereka sangat membantu, khususnya bagi keluarga-keluarga yang mengalami kesulitan membiayai anaknya sekolah. Di Mutiara Kasih ini, saya lihat peserta pelatihan kebanyakan berasal dari luar Jawa. Mereka dilatih dari segi ketrampilan juga pribadi ya. Walapun masa pelatihan singkat, peluangnya besar loh. Banyak orang yang membutuhkan tenaga atau jasa seperti caregiver maupun baby sitter. Mutiara Kasih juga tidak sembarangan melepas pesertanya kepada user (pengguna jasa). User itu harus datang langsung, melampirkan KTP dan sebagainya. Menurut saya ini aman. Mengenai honor, Mutiara Kasih mengaturnya dengan sangat baik. Dalam arti, peserta pelatihan diajari mengelola keuangan. Misalkan, punya gaji sekian, dipegang sendiri sekian, dikembalikan untuk biaya di Mutiara Kasih sekian, tabungannya sekian.

Bagi saya, Ibu Agustin dan para pengurus Mutiara Kasih sudah menjalankan sistem pendampingan yang baik. Beberapa kali Ibu Agustin cerita kepada saya bagaimana usaha untuk mengajari orang-orang muda dari luar daerah ini. Memang tidak mudah karena setiap pribadi mempunyai latar belakang yang berbeda-beda. Namun, siapapun yang mau bersungguh-sungguh menyiapkan masa depannya, pasti bisa menjalani pelatihan ini.

Mutiara Kasih mempunyai gerakan sosial yang luar biasa, berperan di dalam Gereja Katolik tidak hanya di Gereja Keuskupan Agung Jakarta, tapi Gereja yang ada di luar Pulau Jawa. Di usianya yang bertambah pada tahun ini, saya berharap Mutiara Kasih tetap melanjutkan misinya, namun perlu juga evaluasi. Apa yang selama ini sudah baik diteruskan, yang selama ini kurang diperbaiki. Perlu semacam analisa sosial karena situasi yang terus berubah.

Nah, bagaimana Mutiara Kasih bisa merangkul orang muda di zaman milenial ini?  Saya rasa pengembangan dalam segi pendampingan, kreativitas dan inovasi itu perlu agar orang muda itu tertarik, senang dan serius untuk mempersiapkan masa depan. Contoh, sekali waktu dari pengurus Mutiara Kasih bisa berdiskusi dengan para peserta pelatihan. Apa kira-kita yang mereka butuhkan untuk berkembang, dan sebagainya. Masukan dari para orang muda ini saya kira akan bermanfaat untuk Mutiara Kasih ke depannya dan agar selalu tetap relevan.

Karina Chrisyantia

HIDUP, Edisi No. 35, Tahun ke-75, Minggu, 29 Agustus 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here