Kreasi Virtual yang Menggerakkan Optimisme Menuju Pesparani Kupang

20
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – Tak hanya panitia yang tunggang-langgang mempersiapkan dan menghelat Kreasi Virtual Katolik Indonesia (KVKI). Peserta di daerah, apalagi!

Cecilia Hesti Prayoganingsih (kiri belakang) bersama Tim CCR Remaja Banten; Peserta (depan ki-ka) Marvel, Keanu, Igo; belakang kanan: Alex Rialdi (ayah Marvel). Foto: LP3KD Banten

“Saya mendapat info tentang KVKI 2021 dari pengurus Lembaga Pembinaan, Pengembangan Pesparani Katolik Daerah (LP3KD) Banten bulan Juli 2021. Seperti yang disepakati saat pelaksanaan Pesparani Provinsi Banten 2019, yang akan mewakili lomba tingkat nasional adalah pemenang 1,2,3 Lomba Cerdas Cermat Roani (CCR) Remaja tingkat Provinsi,” ujar Cecilia Hesti Prayoganingsih, pembina Tim CCR Remaja, LP3KD Banten.

“Tantangan awal yang kami hadapi adalah saat itu penyebaran Covid-19 sangat tinggi, masuk zona merah bahkan hitam.  Saya dan salah satu peserta termasuk harus isoman karena ada anggota keluarga terpapar.  Tentu secara psikis ini mempengaruhi kami, namun tugas harus dilaksanakan,” tutur Hesti.

Tantangan kedua, masih Hesti, mencari waktu yang tepat untuk belajar bersama secara daring. Ketiga remaja duduk di kelas 9,10,11 dari sekolah yang berbeda. Akhirnya disepakati belajar melalui media zoom tiap hari Sabtu pukul 16.00-18.00 WIB. Sebulan sebelum hari-H ditambah waktu tiap Jumat pukul 18.00-20.00 WIB.

Tantangan berikutnya, papar Hesti, ada 1040 soal harus dipelajari. “Sungguh bukan hal mudah bagi ketiga remaja (Marvel, Igo, Keanu) ini.  Sering wajah mereka di zoom  tampak sangat lelah dan ngantuk karena banyaknya tugas sekolah dan kegiatan lain harus diselesaikan.  Menjelang hari-H lomba, mereka pun harus menghadapi UTS.   Mereka memang remaja-remaja tangguh, tak pernah mereka mengeluh. Tentunya ini tak lepas dari peran orangtua yang terus mendampingi. Termasuk saat Tim KVKI Banten mengadakan Novena secara online menjelang lomba, ketiga remaja ini bersama orangtuanya tak pernah sekalipun absen,” papar Hesti.

Setelah semua usaha yang dilakukan dengan penuh perjuangan dan disiplin, Tim CCR Remaja Banten harus ‘legowo’ karena hanya sampai pada babak penyisihan di hari Jumat, 8/10/2021. Ada satu jawaban salah.  Kecewa? Pasti. “Namun kami bangga melihat ketiga remaja ini. Di usia sangat muda mereka sudah menunjukkan kedewasaan.  Di grup 3, tim kami mendapat nomor 9 atau terakhir, mereka tetap sportif menyemangati remaja provinsi lain yang lebih dahulu tampil. Mereka tampak suka cita dan bertepuk tangan.  Walaupun sudah ada satu jawaban salah dan pasti tak akan masuk semifinal karena sudah ada 2 provinsi lain mendapat skor 1000, mereka tetap fokus dan percaya diri menjawab sisa pertanyaan sampai akhir yang ternyata bisa dijawab semua dengan sempurna.  Tak ada satu pun kata bernada negatif keluar dari mulut mereka karena tak bisa lanjut ke tahap berikutnya.  Usai lomba Marvel tak pulang ke rumah namun mengikuti pembelajaran daring dari sekolah. Keanu mempersiapkan ujian susulan,” tutur Hesti.

Tetangga Banten, Tim DKI Jakarta juga tak kalah ‘serunya’’ bagaimana mereka mempersiapkan diri. “Mereka sampai menempel soal-soal itu di dinding-dinding kamar mereka karena begitu banyak soal yang harus mereka kuasai. Ada latihan tiga sampai empat kali di rumah masing-masing,” ujar Ketua Umum LP3KD DKI Jakarta, Romo Antonius Suyadi.

Tim Lomba DKI Jakarta, dari keri ke kanan, Priscila Angelica Cathterine Tulis, Jonathan Ernest Poniran, Kimberly Adi Putri saat menunggu Quiz Master menampilkan jawaban yang memastikan DKI Jakarta merebut gelar juara pertama dalam babak final Lomba Cerdas Cermat Rohani Katolik Indonesia, Minggu (10/10/2021). (Foto: Ist.)

Tim DKI intensif mempersiakan diri sejak Juli hingga September 2021. Tim CCR Anak DKI adalah pemenang lomba yang sama pada Pesparani I di Ambon, 2018. Sebagai juara bertahan, tim ini bertekad memperolah hasil terbaik kendati bukan pertama-tama ingin mempertahankannya. “Kebersamaan jauh lebih bernilai daripada menang dan kalah. Apalagi jadual anak-anak sekolah yang begitu padat,” ujar Pastor Suyadi. “Bahwa tim kami keluar sebagai yang terbaik, ya kami syukuri, tetapi sekali lagi saya perlu tegaskan, bukan soal menang dan kalah. Ada nilai-nilai yang lebih berharga seperti kebersamaan, nasionalisme dan lain-lain. Saat berlangsung, saya, orangtua dan pendamping lain yang hadir juga ikut tegang. Kami hanya memotivasi mereka supaya mereka memberikan yang terbaik karena anak-anak juga kami liat tegang,” kata Romo Suyadi.

“Anak-anak tentu gembira. Mereka tidak menyangka bisa menang. Tidak ada euforia belebihan saat mereka meraih juara pertama. Anak-anak hanya makan-makan bersama. Kemudian kami buat refleksi bersama untuk melihat nilai-nilai apa yang kami peroleh dari KVKI ini,” imbuh Romo Suyadi.

Lomba Cerdas Cermat Rohani (CCR) adalah salah satu mata lomba gelaran KVKI tanggal 2-8 Oktober 2021. CCR dibagi dalam dua kategori, yakni Anak dan Remaja. Dua lomba yang lain, Tutur Kitab Suci kategori Anak dan Mazmur Tanggapan kategori Anak, Remaja, Orang Muda, dan Dewasa.

Persiapan yang tak kalah serunya juga dilakukan peserta dari provinsi lain di luar Pulau Jawa yang relatif ditunjang sarana yang baik. Delegasi LP3KD Maluku tak hanya melakukan di 11 kabupaten dan kota. Panitia setempat juga meminta dukungan dari pihak-pihak terkait seperti PLN dan Telkomsel. Kepada PLN, mereka minta jangan sampai tiba-tiba listrik mati saat lomba, dan dari pihak Telkomsel diminta menaikkan jaringan internet dari 100 mbps menjadi 220 mbps. Terkait dengan lisrik misalnya, saat lomba berlangsung, tiba-tiba listrik mati di Papua.

Tim CCR Remaja dari Maluku akhirnya berhasil memenangkan lomba kategori ini. Persiapan menuju ke tangga puncak ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Provinsi ini adalah salah satu wilayah terluas dengan ‘seribu pulau’. LP3KD melakukan tahap seleksi di 11 kebupaten dan kota untuk mendapakan tiga remaja untuk level nasional.

Ina Elsoin, pendamping tim CCR Maluku, mengatakan, para remaja mengikuti masa karantina selama tiga minggu supaya mereka lebih fokus. Mereka harus meninggalkan meja sekolah sebentar untuk melahap 1040 soal. “Mereka harus membaca, menghafal, dan tentu mengayatinya,” ujar Ina. Kerja keras selama tiga minggu terakhir menjelang KVKI, terbayar lunas. “Hadiahnya mau dipakai untuk beli sepatu, perlengkapan sekolah, dan ditabung,” ujar Heppy dan Krisna.

Lomba CCR Kategori Anak Provinsi Kelimantan Utara untuk seleksi menuju KVKI 201. Foto: Ist.

Bagaimana dengan Kalimantan Utara sebagai salah satu provinsi baru. “Kami mempersiapkan para peserta dari berbagai daerah di Keuskupan Tanjung Selor. Sangat sulit mengumpulkan peserta di tengah pandemi yang melanda provinsi kami. Ditambah lagi, tidak adanya anggaran atau dana sebagai menunjang terlaksananya kegiatan. Sehingga pihak pemerintah provinsi membantu memfasilitasi kegiatan dalam bentuk penyediaan internet melalui Diskominfo dan konsumsi melalui Bidang Kesra Pemprov Kaltara,” ujar Yoseph Ambuk, Ketua Panitia Pelaksana KVKI Provinsi Kaltara. “Terdapat pula kendala berkaitan dengan jaringan/signal internet sehingga peserta dari daerah terpencil sangat susah mengandalkan internet,” imbuh Yoseph Ambuk.

Iman dan Nasionalisme

Terlepas dari beragam kendala yang sebetulnya sudah diantipasi panitia, KVKI toh mendapat apresiasi dari Presiden Joko Widodo. “Saya sangat mengapresiasi acara yang diselenggarakan secara virtual ini, membuktikan bahwa umat Katolik mampu beradaptasi dengan cepat memberi contoh adaptasi kebiasaan baru menyiapkan untuk transisi dari pandemi ke endemi. Saya berharap acara sosial keagamaan yang bernuansa kebangsaan ini dapat memperkokoh iman umat Katolik, memupuk rasa nasionalisme, menguatkan moderasi kehidupan beragama melalui kecintaan terhadap seni budaya Gerejani,” tutur Presiden saat membuka KVKI.

 

Presiden RI, Joko Widodo membuka KVKI 2021 secara daring, Sabtu, 2 Oktober 2021 (Dok. Youtube Pesparani Katolik)

Apresiasi juga disampaikan Wakil Presiden Ma’ruf Amin. “Kegiatan seperti ini sangat penting dalam rangka membina iman masyarakat Katolik khususnya memupuk rasa nasionalisme antarsesama anak bangsa melalui kecintaan terhadap seni budaya Gerejani. Kegiatan ini menjadi wahana saling menguatkan dan menyemangati di tengah pandemi,” kata Wapres.

Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas mengatakan, KVKI ini dapat melahirkan energi yang berlimpah untuk saling menguatkan keharmonisan baik intern umat Katolik maupun antarumat beragama lainnya. “Saya mengapresiasi LP3KN yang ikut tergerak menjaga solidaritas sosial sehingga KVKI ini akan dapat menjadi cahaya yang menerangi hati dan pikiran serta menjadikan kita semua sebagai insan yang mampu mensyukuri segala karunia Tuhan,” tuturnya.

Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas (Foto: Ist.)

Ketua KWI/Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kartinal Suharyo mengatakan, “KVKI sebagai sarana menanamkan semangat nasionalisme dengan mewarisi rasa semangat cinta tanah air yang diwariskan para pendiri bangsa dan perintis Gereja Katolik di Indonesia.”

Kardinal mengatakan, di dalam hal solidaritas sosial Indonesia menempati nomor keenam dari 167 negara. “Ini adalah watak bangsa yang mesti dirawat dan dikembangkan. Kalau tidak, ada kemungkinan akan menjadi luntur. Salah satu cara mengembangkan dan merawat watak ini adalah mencari inspirasi,” tuturnya.

 

Dirjen Bimas Katolik, Yohanes Bayu Samodro juga mengungkapkan tanggapan positif. “KVKI adalah ajang kreatifitas masyarakat Katolik dalam mewujudkan imannya melalui rangkaian kegiatan yang berbalut seni budaya. Kami melihat watak bangsa kita yang amat lekat dengan budaya ini ternyata menjadikan KVKI sebagai sarana untuk lebih mendalami dan memantapkan iman mereka.  Iman terserap melalui budaya yang kontekstual.”

Hasiholan Siagian/Laporan Angela Merici

HIDUP, Edisi No. 44, Tahun ke-75, Minggu, 31 Oktober 2021

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here