Gereja Amboina: Dari Baptisan Pertama Hingga Uskup Baru Mgr. Inno Ngutra

712
Mgr Inno Ngutra/Dok. Pribadi
5/5 - (2 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – BUKAN proses yang mudah menjadi sebuah Gereja yang mandiri. Sejarah mencatat Keuskupan Amboina menjadi Gereja yang mandiri lewat perjuangan para misionaris dan darah martir umat beriman.

Baptisan Pertama

Tahun1534, bangsa Portugis dan Spanyol memulai karya misi di Maluku. Pembaptisan pertama terjadi di tahun yang sama di Ternate, Maluku Utara, ketika beberapa masyarakat dari Desa Mamuia, Kepulauan Halmahera dibimbing ke pangkuan Katolik oleh seorang pedagang Portugis bernama Gonzalo Veloso. Gereja Katolik Indonesia mengakui baptisan ini sebagai baptisan pertama dan diperingati sebagai awal lahirnya Gereja di Indonesia.

Misi di Ambon

Pada  tahun  1546,  St. Fransiskus  Xaverius, misionaris  Portugis, mendarat  di Maluku. Sekitar tahun 1558, di Pulau Ambon dan Pulau-pulau Lease sudah ada sekitar 10 ribu orang beragama Katolik. Demikian pula di Maluku Utara, katolisisme menyebar begitu cepat.

Misi Protestan

Misi ini mengalami hambatan di abad 17, saat Protestan yang dikuasai Belanda mengambil alih kekuasaan atas seluruh karya misi Gereja Katolik Indonesia.

Awal Misi di Langgur

Misi ini mulai dibuka lagi pada 1 Juli 1888, ketika dua misionaris Yesuit Pastor Johannes Kusters, SJ dan Pastor Johannes Booms, SJ tiba di Tual, Maluku Tenggara. Pastor Kuster diizinkan berkarya di Desa Langgur yang tak jauh dari Tual. Tanggal 13 Juli 1889, ia membaptis seorang gadis kecil yang sakit parah bernama Sakbau (nama baptis Maria Sakbau). Setelah dibaptis, Maria lantas sembuh. Hal ini membuat masyarakat Langgur makin percaya kepada Pastor Kusters. Sejak itu, agama Katolik merebak di Kepulauan Kei.

Prefektur Apostolik

Tanggal 22 Desember 1902, Propaganda Fide (Kongregasi Ajaran Iman) di Roma memutuskan wilayah Maluku menjadi prefektur dengan nama Prefektur Apostolik Belanda New Guinea. Dalam pembagiannya Kepulauan Kei dan Papua dijadikan bagian dari New Guinea, dan Langgur sebagai pusat misi. Prefektur ini adalah provinsi gerejawi pertama yang otonom di luar Vikariat Batavia (Jakarta).

 Kehadiran Tarekat MSC

Setelah kehadiran dua imam Jesuit dan Langgur menjadi Prefektur Apostolik, misi ini menjadi semakin efektif dengan kedatangan misionaris MSC (Misionaris Hati Kudus) pada 28 November 1903. Misionaris MSC pertama yang ditunjuk sebagai Prefek Apostolik pertama adalah Pastor Dr. Mathias Neyens MSC. Ia mengembangkan misi ke Kei Besar (1906) dan Kepulauan Tanimbar (1910). Pastor Neyens beberapa kali mengunjungi Pulau Ambon dan beberapa tempat, seperti Ternate. Hal ini karena tidak mendapat izin dari pemerintahan kolonial Belanda kepada Gereja Katolik untuk bermisi.

Vikaris Apostolik

Pada 14 Juli 1921, Vikaris Apostolik pertama Mgr. Johannes Aerts MSC tiba di Langgur. Sejak tahun 1924, pembinaan kaum pribadi menjadi fokus perhatian dan di tahun yang sama pula seorang putra pribumi asal Kei ditahbiskan yaitu Pastor Eusebius Jamco, Pr tanggal 30 Juli 1942.

Tragedi Berdarah

Di Langgur Jepang mengeksekusi Mgr. Aerts bersama 5 imam MSC dan 8 Bruder MSC di pantai Langgur. Semua misionaris yang lain, termasuk para suster Belanda dari Kongregasi PBHK (Putri Bunda Hati Kudus), disekap di kamp-kamp konsentasi. Akibatnya, beberapa dari mereka meninggal dunia. Pada tahun 1947, Pastor Jacobus Grent MSC ditunjuk sebagai pengganti Mgr. Johannis Aerts MSC. Selama masa awal kepemimpinannya, karya misi yang secara keseluruhan dihancurkan dibangun kembali, baik secara fisik maupun secara spiritual. Sejak tahun 1948 dan 1950 New Guinea memperoleh status otonomi gerejani: Prefektur Apostolik Hollandia (sekarang Jayapura) dan Vikariat Apostolik Merauke. Sementara itu Vikariat yang dipimpin oleh Mgr. Jacobus Grent MSC dinamakan Vikariat Apostolik Amboina. Pada tahun 1960 tahta Vikariat dipindahkan dari Langgur ke Ambon.

Keuskupan Amboina

Pada 3 Januari 1961, ditetepkan pendirian hierarki Gereja Katolik seluruh Indonesia. Hierarki ini sebagai penanda kemandirian Gereja Katolik. Maluku juga dianggap sebagai Gereja yang mandiri maka Mgr. Andreas P.C.Sol, MSC diangkat sebagai uskup pertama menggantikan ordinaris wilayah pertama Mgr. Grent, MSC. Tahun 1981, Mgr. Sol memimpin Sinode I Keuskupan Amboina. Sinode ini menghasilkan dua keputusan penting yaitu mendukung kehadiran komunitas basis dan mendirikan sebuah pusat pastoral dan sejumlah komisi yang mengkoordinir pelbagai kegiatan pastoral. Pada tahun 1983 Pastor  Joseph Tethool, MSC, imam pribumi dari Kei ditahbiskan menjadi Uskup Auxilier Keuskupan Amboina.

Pengganti Mgr. Sol

Pada 1994, Mgr. Sol digantikan Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC. Di bawah penggembalaan uskup Mandagi, sejumlah imam diosesan bertambah. Mgr. Mandagi menjadi tokoh agama yang sangat berperan penting dalam konflik horizontal di Maluku dan Maluku Utara pada 19 Januari 1999. Menurut data Gereja Katolik Keuskupan Amboina, sebanyak 80 Gereja, 5 biara, selain sekolah, rumah sakit dan rumah umat Katolik yang hancur, dengan korban jiwa sekitar 12 ribu, tidak termasuk kehancuran fisik. Mgr. Mandagi memainkan peranan penting dalam menciptakan rekonsiliasi di Maluku dengan dibantu Crisis Centre Keuskupan Amboina.

Sinode II
Di bawah kepemimpinan Mgr. P.C. Mandagi MSC pula, Gereja Keuskupan Amboina berhasil melaksanakan Sinode II Keuskupan Amboina di Ambon pada tanggal 7-18 September 2004.Sinode ini berhasil merumuskan visi, misi, strategi dan  program prioritas (umum dan khusus) Keuskupan Amboina.

Uskup Pertama Projo

Pada tanggal 8 Desember 2021, tepat Hara Raya Santa Maria Dikandung Tanpa Noda Asal, Paus Fransiskus memilih Pastor Inno Ngutra sebagai uskup Amboina. Mgr. Inno, sapaannya menjadi uskup pertama dari kalangan imam diosesan. Sementara Mgr. Mandagi ditetapkan sebagai Uskup Keuskupan Agung Merauke (KAMe) sejak November 2020 setelah sebelumnya menjadi administrator apostolik KAMe menggantikan Uskup Emeritus KAMe Mgr. Nicolaus Adi Seputra, MSC yang pensiun.

 Yusti H. Wuarmanuk

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here