Respon Cepat Gereja di Semeru

55
Proses distribusi bantuan bagi warga terdampak erupsi Gunung Semeru. (Dok. TSKKM)
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM –  Bencana alam yang muncul akibat awan panas guguran Gunung Semeru direspon dengan cepat oleh berbagai pihak, baik pemerintah maupun berbagai organisasi non-pemerintah (NGO).

Gereja Katolik Indonesia, dalam hal ini, Tim Solidaritas Kemanusiaan Keuskupan Malang (TSKKM) pun telah berkoordinasi dengan Caritas Indonesia (KARINA) dan merespon bencana tersebut dengan cepat. TSKKM segera membuka dapur umum untuk para korban yang mengungsi dan menyalurkan bantuan berupa bahan-bahan makanan.

Salah satu Staf TSKKM,  Benny, menceritakan, bahwa para pengungsi merasa sangat terbantu dengan adanya bantuan berupa bahan makanan yang disalurkan oleh Gereja.

“Kita mensuplai bahan makanan, mendirikan dapur umum, dan menyalurkan obat obatan. Kita pun memberikan sumbangan, mereka bersyukur kedatangan kita yang tanggap terhadap pengungsi,” ujar Benny.

Menurutnya, ada perbedaan respon bencana yang dilakukan oleh Gereja dan kelompok NGO lain. Saat terjadi bencana, Gereja lokal langsung menyiapkan relawan dan menyediakan sembako. Benny mengatakan, bahwa masyarakat menyambut baik bantuan yang diberikan oleh Gereja karena sangat meringankan beban mereka. “Bantuan ini dilihat masyarakat dan dapat diterima dengan baik,” ujarnya.

Respon Lanjutan

Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), hingga 21 Desember 2021, korban meninggal tercatat 51 jiwa dan 10.395 jiwa mengungsi di titik-titik pengungsian yang tersebar di Kabupaten Lumajang, Kabupaten Malang, Kabupaten Blitar dan Kabupaten Probolinggo.

Dalam respon bencana ini, TSKKM telah membuka dua posko, yakni di Paroki Lumajang dan Paroki Tumpang. Posko yang terakhir ini berada dekat dengan Kecamatan Pronojiwo, daerah terparah oleh bencana awan panas guguran Gunung Semeru.

Saat ini, banyak pengungsi sudah berangsur kembali ke rumahnya masing-masing dan mencoba untuk melanjutkan aktifitas harian mereka. Bantuan pangan dari dapur umum pun dengan demikian dihentikan karena kebutuhan makanan harian dapat mereka penuhi sendiri.

Dalam respon cepat di Gunung Semeru ini, TSKKM juga berkoordinasi dan menyalurkan bantuan dari Keuskupan Surabaya dan KARINA Keuskupan Agung Semarang (KAS)

TSKKM yang berkoordinasi dengan KARINA telah menjalankan kajian untuk menentukan langkah lanjutan respon di Semeru. Dari kajian ini diketahui bahwa sebagian besar masyarakat adalah petani di mana beberapa memiliki juga ternak seperti kambing atau sapi. Dari pengamatan sebagian masyarakat sudah mulai mengalami keluhan kesehatan yang diidentifikasi sebagai ISPA.

Ada potensi erupsi susulan, terutama karena potensi curah hujan yang diprediksi masih tinggi hingga Februari tahun depan.

Masyarakat menyadari potensi bencana ini dan tetap waspada akan adanya bencana susulan meski begitu mereka sudah berangsur menjalani aktivitas harian seperti biasa. Dari pengakuan masyarakat saat ini belum ada mitigasi bencana terkait resiko bencana Semeru.

Sebagai respon lanjutan, saat ini TSKKM dan KARINA  sedang menyiapkan tas siaga bencana yang di dalamnya terdapat: toa, HT, P3K, rompi, senter, kaca mata, peluit. Tas ini akan diberikan kepada koordinator yang ditunjuk di kalangan masyarakat. Tas ini dapat menjadi instrument darurat untuk evakuasi masyarakat seandainya terjadi bencana erupsi lagi. Arah dan lokasi evakuasi sudah mulai dibuat serta dibuat perencanaan evakuasi.

Pilihan untuk memberikan tas siaga ini  agar bersama masyarakat dapat mengurangi risiko, menghindari hilangnya nyawa sambil merancang strategi pemulihan.

Humas Caritas Indonesia 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here