TOLERANSI HARUS DIPERJUANGKAN

84
Ignatius Kardinal Suharyo
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – USKUP Agung Jakarta/Ketua Konferensi Waligereja Indonesia, Ignatius Kardinal Suharyo mengemukakan pentingnya memahami dokumen-dokumen Gereja. Beberapa dari dokumen-dokumen tersebut menunjukkan betapa Gereja sangat mendukung gerakan-gerakan berdasarkan toleransi. Gereja menjunjung martabat manusia dan kebebasan beragama. Penandatanganan dokumen tentang persaudaraan manusia untuk perdamaian dunia oleh Paus Fransiskus dan Imam besar Al Azhar, Ahmed Al-Tayep menunjukkan upaya membangun persaudaraan dari dua tokoh dunia ini. Hal ini ditindaklanjuti oleh para tokoh agama di Indonesia dengan menulis buku penjelasan terhadap dokumen Abu Dhabi tersebut.

Di samping itu, Ensklik Paus Fransiskus berjudul Frateli Tuti juga berbicara tentang  kemanusiaan dan persaudaraan sosial. “Dokumen-dokumen tersebut perlu dibaca dan dipahami jika kita ingin belajar watak toleransi khususnya dalam praktik,” jelas Kardinal saat memberi pengantar dalam acara Talkshow Alumni Katolik Universitas Indonesia (Alumnika UI), Sabtu, 22/1/2022 secara daring.

Kardinal menyinggung pula beberapa hal yang masih sering menghambat toleransi dalam masyarakat. Di antaranya agama seringkali dipolitisasi untuk tujuan-tujuan tertentu, sementara pemikiran bahwa agama Katolik adalah minoritas masih juga menjadi kendala.

“Namun demikian semua itu harus kita atasi bersama dengan rajin berbuat baik,” tegasnya. Sebagai salah satu tindakan nyata yakni ‘berkunjung’. Dalam membangun toleransi di sekitar kita adalah berani berkunjung ke pimpinan masyarakat, menghadiri peristiwa-peristiwa keagamaan, atau bahkan pernikahan.

Salah seorang imam di KAJ, Paroki St. Odilia Citra Raya Tangerang yakni Pastor Felix Supranto telah melakukan hal ini lebih sepuluh tahun. Melalui aktivitas itu Pastor Felix terlibat dalam kegiatan dan keprihatinan masyarakat.

“Saya berharap acara talkshow ini tak berhenti di sini sekadar yang satu mengemukakan materi dan yang lain mendengarkan, tetapi harus menjadi gerakan-gerakan yang menggerakan persaudaraan,” seru Kardinal.

Talkshow yang digelar dalam rangka mensyukuri satu tahun usia Alumnika UI dilangsungkan secara virtual mendukung tahun Toleransi dan Perdamaian Dunia. Tema yang diusung XYZ Toleransi dalam Praktik.

Miniatur Indonesia

Menyambung materi yang disampaikan Kardinal, Mikael Gorbachev, Ketua Pepulih yang saat ini sedang menjalani pendidikan S3 Lingkungan Hidup di UI, selaku moderator mengemukakan bahwa Indonesia merupakan negara dengan keanekaragamanhayati terbesar di dunia. Kepulauan Indonesia terbentuk karena tumbukan lempeng benua dan samudera, sehingga memiliki banyak ekosistem. Di atas keberagaman itu tumbuh juga keanekaragaman budaya, suku dan bahasa sehingga Indonesia merupakan negara yang multikultur. “Maka toleransi sesungguhnya adalah cara adaptasi kita dalam bernegara di tengah keberagaman tersebut,” jelasnya mengantar paparan materi dari empat pembicara yang mewakili tiga generasi X, Y, Z.

Pembicara pertama, Adrianus Eliasta Sembiring Meliala, Kriminolog, Guru Besar FISIP UI  mengusung topik Kebersamaan Mewujudkan Pembangunan Rumah Ibadah        Seluruh Agama di UI. Ia mengatakan, kerinduan sivitas akademika Katolik UI untuk memiliki Gereja di dalam kampus adalah karena kebutuhan akan tempat berkumpul dosen dan mahasiswa yang semakin tahun semakin bertumbuh dari segi jumlah. Selain itu, keinginan ini juga tak bertentangan dengan hakikat UI yang merupakan miniatur dari Indonesia.

Prof. Adri, panggilannya, menyatakan toleransi juga bukan sesuatu yang akan terjadi dengan sendirinya, namun sesuatu yang perlu diperjuangkan. Salah satunya dengan simbolisasi UI membangun enam rumah ibadah di dalam kampus. Cita-cita akan menjadi rumah ibadah bersama ini sedang berjalan, memang ada lika-liku di dalam kampus, namun itu lebih bersifat teknis penempatan dan pembiayaan pembangunan bukan berarti UI saat ini sudah merupakan universitas yang intoleran.

Eduardo Erlangga Drestanta Moerdopo, Kandidat Doktor Geografi, Sorbonne University, Perancis mengulas topik Persaudaraan Pemuda dengan Berbagai Bangsa. Pengalaman hidup tinggal di luar negeri membuatnya menjadi lebih terbuka pada keberagaman global, bagaimana bergaul melewati sekat-sekat agama, sukubangsa dan bahasa. Kehidupan di Perancis yang memisahkan secara tegas antara agama dan kehidupan bernegara, menjadikannya juga belajar untuk dapat memahami bahkan mereka yang mengaku tidak beragama.

Salah satu yang dapat menumbuhkan toleransi global ini adalah kemajuan teknologi komunikasi melalui sosial media. Edo panggilannya, yang gemar membuat vlog ini mengakui, kemampuan dalam menggunakan media komunikasi digital akan sangat membantu dalam mempromosikan keberagaman dari bermacam aspek. “Sebelumnya sebagai yang disebut migran, saya beranggapan untuk dapat diterima oleh warga setempat saya perlu mampu berbicara Bahasa setempat lengkap dengan aksennya. Ternyata tidak sepenuhnya benar, bahkan seorang teman asli Perancis mengatakan bahwa mereka sangat menghargai jika kita tetap beraksen dari asal bahasa kita walau sedang berbicara Bahasa setempat.”

Hal-hal seperti ini perlu terus disosialisasikan terutama kepada teman-teman sebangsa agar persepsi yang keliru terhadap orang asing dan budaya mereka dapat lebih diperkecil karena hal ini sering menjadi kendala dalam bergaul secara internasional.

Rumah Toleransi

Veronica Irawati Soebarto, Dosen di School of Architecture and Built Environment The University of Adelaide, Australia sebagai pembicara ketiga berbicara tentang Keluarga sebagai Rumah Toleransi. Keluarga yang merupakan unit terkecil dalam masyarakat namun sangat penting mengajarkan toleransi sejak dini kepada anak-anak. Pembentukan karakter anak dimulai dari dalam rumah yaitu pengasuhan orangtua termasuk disini mulainya mereka mengenal tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan sebagai ayah dan ibu. “Kondisi saya dan suami yang berbeda budaya ini, ternyata membantu kedua puteri kami mengenal perbedaan sejak kecil. Karena mereka melihat ibunya memiliki kulit berbeda dengan ayahnya, hidung saya pesek, rambut hitam, pendek dibanding ayahnya yang bule berhidung mancung dan sebagainya,” jelas Ira.

Toleransi diajarkan kepada anak-anak melalui teladan perilaku orangtua, jika orangtua memegang teguh toleransi, maka anak-anak akan mempraktikan toleransi dalam kehidupannya. Bahkan hal yang lebih jauh lagi adalah mereka dapat menerima orang-orang yang berbeda dalam arti kaum LGBT. “Anak-anak mengatakan bahwa mereka melihat orangtuanya dalam hal ini saya sebagai ibunya yang dapat ramah kepada siapapun tanpa membeda-bedakan dan itu yang menurut mereka menjadi panutan dalam bergaul dan bermasyarakat,” ujarnya.

Daffa Agradhyasto , Mahasiswa Teknik UI yang baru saja dilantik menjadi Kordinator Presidium Keluarga Mahasiswa Katolik (KMK UI) membahas tentang Kepemimpinan Inklusif dalam Organisasi. Mendukung apa yang dikemukakan Prof. Adri tentang suasana di kampus UI, Daffa mengatakan tak ada persoalan dalam berelasi atau bergabung dalam organisasi-organisasi lain di kampus seperti BEM atau Senat Mahasiswa.

“Bahkan pada saat-saat tertentu di hari Jumat jika kami sedang beracara bersama, teman-teman yang umumnya melakukan sholat Jumat menyilakan kami untuk juga melakukan ibadah dengan sesama mahasiswa Kristiani,” jelasnya.

Toleransi antara mahasiswa UI melalui Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sangat baik, misalnya saat Pandemi Covid 19, para UKM keagamaan lewat Keluarga Mahasiswa Buddhis (KMB) sebagai inisator melakukan kegiatan bersama untuk membantu warga.

Laporan Mathilda AMW Birowo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here