Sinergi Kreatif Menangkap Tanda Zaman, 100 Tahun Pernebit-Percetakan Kanisius

72
Tim Manajemen Penerbit-Percetakan Kanisius berserta seluruh karyawan tahun 2022.
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM – DI usia 100 tahun, harapannya, percetakan-penerbitan terkemuka bernafaskan kekatolikan ini kian mampu menjawab berbagai peluang dan tantangan.

MENJAWAB tantangan era digital, PT Kanisius menghadirkan sebuah Web Series berjudul “Cinta dalam Seutas Tali Sepatu” dalam rangka 100 tahun usia Penerbit-Percetakan Kanisius. Film pendek yang disutradarai oleh Romo Murti Hadi Wijayanto, SJ (Xavier Murti) ini telah ditonton sebanyak 4.102 kali di Youtube PT Kanisius sejak tayang pada 5 Januari 2022. Hingga Senin, 10/1/22, serial web ini telah menerima sebanyak 683 like dengan 81 komentar.

Suasana, etos kerja, visi, dan misi Kanisius dibalut indah dalam alur film yang mengisahkan pergulatan seorang perempuan muda yang ingin meniti kariernya di bidang penerbitan buku, jatuh dalam cinta yang rumit di antara dua lelaki yang mengisi kerinduannya akan figur seorang ayah. Di dalamnya tersirat betapa Kanisius siap berlayar menjadi perusahaan yang inspiratif dan berdaya ubah. Memberi ruang kepada orang muda untuk berkarya.

Direktur Eksekutif, Margaretha Sulistyorini menekankan, dorongan membuat film ini bukan sekadar ikut tren tetapi terkandung aspek pengolahan batin. “Film ini tidak menayangkan sebuah cerita atau gambar semata tapi proses itu sendiri menjadi sebuah kesempatan pengolahan diri, menjadi lebih bermakna,” ungkapnya.

Margaretha Sulistyorini

Untuk itu dalam melakukan terobosan menjawab kebutuhan zaman, Kanisius senantiasa didorong motivasi yang mengandung nilai spiritualitas. Gerak nadinya adalah mewartakan Kabar Baik. Berperan aktif mengemban karya perutusan Gereja dan pendidikan masyarakat. Saling bersinergi.

Terobosan

Secara umum Sulistyorini memaparkan, Kanisius merumuskan Road Map lima tahunan untuk memprediksikan peluang dan tantangan yang akan dihadapi. Di dalam Road Map yang sedang berjalan hingga tahun 2025, PT Kanisius merencanakan akan mengoptimasikan pemanfaatan lahan hijau karena area kantor Kanisius berada di lokasi banyak ruang hijau sementara disekeliling padat.

Ruang hijau menjadi potensi untuk bisa dikembangkan dan digunakan semakin banyak orang. Sebelum pandemi, ruang hijau ini telah digunakan untuk kegiatan sekular seperti resepsi pernikahan dan pesta ulang tahun. Untuk sementara, penggunaannya terhenti sampai situasi pandemi mulai dinyatakan longgar dan aman bertemu secara fisik.

Selain itu, pengembangan Taman Komunikasi (Takom) Kanisius pusat akan dioptimalkan. Show room akan ditambah dengan kafe. Sekali lagi tujuannya bukan sekadar tren, melainkan untuk menjadikan ruang publik, ruang perjumpaan yang memungkinkan orang saling mengenal, bertukar gagasan, dan bersinergi.

Dengan demikian, Kanisius hendak mewujudkan setiap orang akan semakin inklusif, terbuka terhadap segala kemungkinan di luar dirinya. Inklusifitas ini juga secara fisik akan divisualisasikan dengan membongkar pagar yang tinggi menjadi lebih rendah.

Dalam kesempatan yang sama, Manajer Percetakan, Maria Assumpta Budiastuti mengutarakan mengenai terobosan yang selama ini selalu diusahakan.

Maria Assumpta Budiastuti

Pertama, Kanisius tetap mengupayakan digital printing dengan menjawab kebutuhan short run many titles dalam bentuk apapun, entah itu buku (publishing), packaging (dus kemasan, paper bag) dan commercial (kalender, brosur dan lainnya).

“Misalkan, ada pelanggan  mau mencetak dus kemasan, lalu menggunakan desain atau foto. Mau cetak berapa pun dengan personalisasi itu yang kami garap. Permintaan pasar adalah mereka semakin personal, desain yang inovatif dan  enggak perlu nunggu lama kalau mau cetak,” jelas Budiastuti.

Kuncinya, inovasi, kreatifitas, kesetiaan, juga dengan promosi di berbagai media sosial. Dalam melakukan terobosan atau strategi ini Budiastuti tidak berjalan sendiri, semua bagian saling terkait semua saling bersinergi.

Kedua, semakin mendalami atau memperluas pasar packaging. Kanisius gencar untuk menyuarkan melayani jasa cetak.

Rencananya, menurut Budiastuti, di tahun 2022, akan nada perubahan bentuk fisik dari bagian percetakan. “Selain ada rencana membuat museum, kami akan membongkar beberap tempat dan nantinya orang melewati Jalan Cempaka melihat kalau Kanisius juga melayani digital printing. Semakin nampak,” tegas umat Paroki Hati Kudus Tuhan Yesus Pugeran, Yogyakarta ini.

Bagian digital printing ini mempunyai slogan Better, Faster, Cheaper. Better artinya pelanggan melihat kualitas dari Kanisius sudah tidak mempertanyakan lagi.

Faster artinya kami mengupayakan semakin cepat dalam pelayanan tanpa mengurangi kualitas. Cheaper artinya harga terjangkau bukan murahan. Relasi kami dengan pelanggan tidak berhenti di daerah Jogyakarta saja. Jarak enggak jadi masalah. Jasa cetak ini bisa dikomunikasi menggunakan email dan sebagainya. Kami mengupayakan semakin dekat dengan pelanggan,” tambah Budiastuti

Menurut Budiastuti, sasaran layanan kemasan dengan produk-produk selektif akan digarap semakin serius. Pengembangan layanan ini didukung pula dengan pengembangan layanan yang sifatnya personal. Maksudnya, terbuka terhadap keinginan pelanggan, melayani dengan hati. Ini berarti dalam setiap layanan, setiap perjumpaan dengan pelanggan akan menjadi sebuah pertemuan bermakna bukan sekadar memenuhi permintaan kebutuhan pelanggan semata.

Sedangkan di bidang penerbitan, sedang digarap format audio book untuk terbitan digital. Manajer Penerbitan, Rosalia Emmy Lestari membeberkan bahwa sudah ada satu judul buku yakni “Doa Sang Katak Jilid 1” karya Anthony de Mello yang telah selesai menjadi audio book. Penggarapan ini dilakukan bersama SAV Puskat.

Diakui proses rekaman memakan waktu yang cukup lama. “Kami akan lihat seberapa besar animo pasar, kemudian evaluasi kembali sebab dari sisi produksi biayanya cukup besar,” terang Emmy yang berkarya sejak tahun 1999.

Umat Paroki St. Yohanes Rasul Pringwulung, Yogyakarta ini turut memaparkan perkembangan buku digital (e-book) yang telah hadir sejak 2011. Hingga saat ini, e-book sekitar 1000an judul sudah disiapkan.  Diakui memang belum semua pengarang berkenan bukunya dibuat e-booknya.

Rosalia Emmy Lestari

Dari sisi penjualan Emmy menyoroti meskipun tren e-book naik tetapi masih jauh dibawah penjualan buku cetak. Dalam soal harga, selisih e-book dan buku cetak tidak jauh berbeda. Ini semua dikarenakan Kanisius bekerja sama dengan distributor buku digital yang memiliki sistem proteksi tinggi agar pembajakan buku tidak terjadi.

Tidak hanya itu, guna mengakomodir variasi permintaan pasar, ditawarkan juga mekanisme penerbitan ekslusif, disebut Kanisius Exclusive Publishing. Emmy menjelaskan, di satu sisi,hal ini ditempuh untuk menjembatani buku-buku berkualitas secara kepenulisan, penulis kredibel, tetapi segmen pasarnya terbatas seperti buku hasil penelitian.

Di sisi lain, penerbit juga menawarkan program Foreign Rights. Ini berkaitan dengan penjualan hak cipta ke penerbit asing.  Sejak tahun 2015, Emmy menuturkan, Kanisius terpilih sebagai salah satu co-exhibitor di Frankfurt Book Fair, Jerman bersama IKAPI.

Dari sana Kanisius tekun mempelajari hak cipta buku-bukunya. Ada sekitar 28 judul buku yang diterbitkam ke bahasa asing seperti Pakistan, Turki, dan Melayu.

Dalam pertukaran hak cipta, ada yang diterjemahkan ke Bahasa Mongolia, Taiwan (Mandarin), Myanmmar, Vietnam. “Hampir semuanya kami tawarkan hak cipta buku anak kepada penerbit asing,” sebutnya.

Permintaan buku anak tinggi sebab ada nilai universal yang ditawarkan dalam buku terbitan Kanisius tersebut. Dengan demikian anak mudah memahami sebuah nilai melalui cerita.

Bidang pemasaran juga tak kalah aksi. Manajer Pemasaran, R.P. Satriyo Sinubyo optimis dengan jumlah SDM muda yang banyak. Orang muda, menurut Sulistyorini, jika diberi kesempatan, akan dapat merespons tantangan zamannya sejauh perusahaan memberikan kesempatan dan kepercayaan kepada mereka. “Masa depan kami akan tetap ada karena masa depan itu akan dijawab anak-anak zamannya sendiri,” tuturnya mantap.

R.P. Satriyo Sinubyo

Satriyo melanjutkan, pemasaran tengah menjajaki dua platform e-commerce seperti Tokopedia dan Shopee sejak 2021. Rencananya, Bukalapak dan JD.ID akan dijajal juga. “Kami tengah genjot dan belajar mengenal karakter platform ini agar dapat menyesuaikan perhitungan dan administrasinya,” aku umat Paroki Administratif Mater Dei Bonoharjo, Yogyakarta yang telah berkarya sejak 2007 ini.

Dari evaluasi, hasil yang didapatkan dari e-commerce lumayan baik meskipun jauh dari penjualan secara langsung ke sekolah dan Takom. Lanjutnya, “Ke depan pasti penjualan online akan makin marak dan kami akan terus berupaya memaksimalkannya.”

Gebrakan kedua, bagian pemasaran juga memberikan seluruh karwayan kesempatan membuka toko online sendiri untuk menjual produk Kanisius. Ada hal menarik yang Satriyo perhatikan dari program ini.

Seorang supir di salah satu kota di Jawa bisa menjual buku Kanisius. Tokohnya pun cukup hidup dengan hasil yang lumayan baik. “Program ini lumayan membantu perusahaan dan karyawan karena mendapat tambahan penjualan tadi,” sebutnya riang.

Menghidupi UAP

Kanisius sebagai karya milik Serikat Jesus (SJ) yang mempunyai tuntutan moral untuk menerapkan Universal Apostolic Preferences (UAP)/Preferensi Kerasulan Universal di dalam visi dan misinya.

Sulistyorini menjelaskan, dalam buku refleksi 100 tahun Kanisius, tertera tiga lingkaran yang saling berhubungan yakni lingkaran visi-misi, lingkaran UAP, dan lingkaran kinerja untuk menjadi perusahaan terpercaya. “Di tengahnya, ada logo Kanisius, artinya di dalam operasional harian, kami harus mengingat akan visi misi yang terintegrasi dengan UAP. Itu cara kami membuat jembatan dengan UAP dalam pelaksanaan harian,” terangnya.

Contohnya, dalam berelasi antarkolega ataupun relasi dengan customer, mereka menghidupkan unsur UAP Pertama: Menunjukkan Jalan Menuju Allah. Serta memperhatikan sesama mereka yang berkekurangan.

Produk–produk Kanisius juga hadir bagi kaum muda. Menurut Sulistyorini, Kanisius memberi ruang bagi karyawan muda lebih berkreasi untuk kemajuan perusahaan. Kemudian pemeliharaan lingkungan juga mereka lakukan terkait dengan UAP yang keempat yakni Merawat Rumah Kita Bersama. “Kami tidak sekadar mengolah limbah, tapi kami mengusahakan bagaimana lembaga kami juga menjadi inspirasi untuk orang lain agar mereka melakukan hal yang sama,” tambahnya.

Menghidupi UAP, Sulistyorini mengatakan, bukan pilihan namun menjadi bagian dari hal yang harus dilakukan. UAP juga menjadi dasar rangkaian acara menyongsong 100 tahun diawali dengan peluncuran logo 100 tahun serta tema Cita dan Karya Warnai Indonesia.

Menyongsong 100 Tahun

Ketua Panitia 100 Tahun Kanisius, Gregorius Putut Puji Utomo membeberkan persiapan–persiapan yang dilakukan menuju acara puncak yakni 27 Januari 2022. Panitia dibentuk tahun 2019.

Putut menjelaskan bahwa pada tahun 2021, Kanisius merumuskan visi–misi baru. Direktur Utama, Romo Eustachius Azismardopo Subroto, SJ mempunyai impian bahwa 100 tahun bukan menjadi tua, tapi titik awal perubahan. Perubahannya mau seperti apa?

Romo E. Azismardopo Subroto, SJ

“Hasil dari refleksi munculah kalimat yang disampaikan oleh teman-teman, yakni Cita dan Karya Warnai Indonesia. Maka di 100 tahun ini semangat perubahan yang dikobarkan dari 2021, direfleksikan lagi ada cita-cita yang akan kami raih, karya yang sungguh kami syukuri.  Warna Indonesia sebetulnya arti dari Indonesia  yang memiliki ragam suku, budaya dan agama, berwarna. Kami pun punya mimpi di setiap kota, Kanisius memiliki kantor pemasaran cabang. Tema ini selalu serukan dalam briefing pagi. Kami jadikan yel-yel begitu,” tutur Putut antusias.

Gregorius Putut Puji Utomo

Kendati demikian, UAP tetap sebagai landasan dasar dalam beberapa rangkaian acara menyosong 100 tahun Pen-Per Kanisius. Di antaranya, dalam implementasi UAP kedua, panitia merencanakan  kegiatan pembagian sembako, pengobatan gratis, pendampingan ekonomi dan pemberian bantuan perpustakaan.

Kanisius juga mengadakan beberapa kelas online seperti  Kelas Filsafat Edisi Spesial Satu Abad Kanisius dan juga kolaborasi dengan Pusat Musik Liturgi (PML) Yogyakarta membuat Kelas Musik Liturgi dalam rangka Pesta Emas PML. Mereka juga membuat Web Series yang berjudul Cinta dalam Seutas Tali Sepatu, yang sudah rilis tanggal 5 Januari 2022. “Selain itu, kami juga melakukan refleksi karya dan gathering untuk seluruh karyawan. Kami rencanakan ada perjalanan dan kemah bersama,” tutur Putut

Menurut Umat Paroki Santa Maria Assumpta Gamping, Sleman, Yogyakarta ini, acara puncak akan dibagi menjadi dua yakni acara internal dan eksternal. Dalam acara internal akan ada kegiatan Misa Syukur dan perlombaan. Sedangkan dalam acara eksternal akan dibuat slametan dengan warga sekitar. Kemudian ada ramah tamah di sebuah hotel di Yogyakarta dengan mengundang pejabat pemerintah setempat,  Gereja dan rekanan Kanisius.

Putut mengakui pandemi memang sempat menjadi kendala dan membuat dirinya hampir patah semangat. “Puji Tuhan, lambat laun angka kasus melandai, kami bersemangat kembali di akhir-akhir tahun kemarin. Semoga Kanisius semakin mewarnai Indonesia apapun bentuk dan wujudnya di masa depan,” harap Putut.

Felicia Permata Hanggu/Karina Chrysantia
HIDUP, Edisi No. 03, Tahun ke-76, Minggu, 16 Januari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here