Direktur Utama Penerbit – Percetakan Kanisius: Romo Eustachius Azismardopo Subroto, SJ: Mengembangkan Karya Allah

131
Romo E. Azismardopo Subroto, SJ
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Istilah literasi tidak terbatas kegiatan mengajari membaca dan mencintai buku semata, namun upaya keterlibatan langsung dalam rangka ikut serta mencerdaskan dan membangun peradaban dan martabat manusia secara utuh.

FENOMENAL sekaligus monumental. Hal ini yang dituturkan oleh Direktur Utama Penerbit – Percetakan Kanisius Romo Eustachius Azismardopo Subroto, SJ ketika menuturkan kesannya. Imam Jesuit yang akrab disapa Romo Azis ini bertugas di Kanisius sejak tahun 2012 hingga sekarang. Baginya, Penerbit – Percetakan Kanisius (Pen-Per Kanisius) yang digagas oleh Pater J. Hoeberechts, SJ pada tahun 1919, sampai sekarang disadari tetap mengemban misi untuk Gereja Katolik di Indonesia dan dunia kependidikan. Misi itu, tulisnya kepada HIDUP, 6/1/2022. Pen-Per Kanisius warisi dan kembangkan tentunya dengan mengadaptasikan diri melalui perubahan zaman, bahkan kami memaknai bahwa Kanisius tidak dilahirkan semata-mata dari peluang bisnis belaka, namun bagi pengembangan karya Gereja  dan bangsa. Bagaimana karya ini terus dihidupkan ? berikut nukilannya.

Bagaimana Romo memaknai kehadiran Pen-Per Kanisius yang kini berusia 1 abad?

Tentu saja kami sangat bersyukur, bersama para manajemen di era sekarang, boleh mengalami saat penuh rahmat ini. Usia satu Abad bagi kami selain memberikan kebanggaan tapi sekaligus juga tantangan.

Bangga bahwa kami masih diberi kesempatan menjaga keberadaan Pen-Per ini sampai pada usia 100 tahun. Masih mengalami menjadi generasi penerusnya. Melihat dokumen dan sarana kerja yang telah lebih lama hadir daripada kami yang muda ini. Ini menjadi saksi mata dan Roh yang telah menghidupinya.

Tim Manajemen Penerbit-Percetakan Kanisius berserta seluruh karyawan tahun 2022.

Tantangannya bahwa selain tetap harus memelihara bahkan mempertahankan Roh yang telah ada, juga harus melihat “peluang” ke depan untuk mengembangkannya bahkan harus beradaptasi dengan situasi zaman yang terus berubah semakin cepat, dengan cara pandang Roh Allah yang sama, yang telah menghidupi kami sampai sekarang ini.

Usia 100 tahun sudah barang tentu mengandung persepsi tua, konvensional, tradisional, lambat, jargon ‘alon-alon waton kelakon’ dan sebagainya. Ini bisa jadi akan melekat menjadi identitas bawah sadar. Namun kalau melihat komposisi rekan-rekan kerja kami, ternyata kaum mudanya cukup banyak bahkan sektar 60%. Inilah kekuatan, inilah peluangnya.

Nama Pen-Per Kanisius boleh “tua” karena itu memang sejarah, namun dinamika yang terjadi di kalangan rekan-rekan kerja yang muda ini menjadi faktor untuk melangkah menuju kebaharuan. Muncul ide-ide segar dan kreatif dari mereka. Maka ruang kreatifitas bagi rekan-rekan muda diperluas tanpa menanggalkan tradisi dan nilai-nilai yang telah tertanam secara historis. Inilah optimisme kami.

Mengapa Pen-Per Kanisius terus berkomitmen mewujudkan dan menyemarakan literasi sejak dini? 

Berawal dari penelusuran sejarah berdirinya Pen-Per Kanisius yang berkomitmen untuk melayani Gereja dan pendidikan, maka dimensi literasi menjadi sangat nyata. Seakan-akan literasi itu sudah menjadi komitmen Gereja sejak dulu, karena dengan literasi ini berdampak untuk semakin mencerdaskan manusia, tidak hanya intelektualitasnya, namun juga sisi kemanusiaan secara keseluruhan (akal budi, pikiran, rasa dan kehendak). Kita diajak terlibat secara langsung maupun tidak langsung untuk ikut serta terlibat dalam pembangunan martabat manusia secara keseluruhan, siapapun mereka tanpa memandang suku, agama, ras.

Nah ini yang kami rumuskan sebagai Providentia Dei yang harus diwujudkan dalam pelayanan kerasulan Per-Pen Kanisius sampai sekarang dan akan datang. Sehingga istilah literasi bagi kami tidak terbatas kegiatan mengajari membaca dan mencintai buku semata, namun dibalik itu adalah upaya keterlibatan langsung dalam rangka ikut serta mencerdaskan dan membangun peradaban dan martabat manusia secara utuh. Bidang yang kami geluti adalah menyelenggarakan penerbitan dan percetakan buku dan sarana lain sebagai penunjang literasi pada umumnya.

Ada unsur bisnisnya? Tentu saja ada, karena kami harus tetap hidup dan perusahaan ini harus tetap sustain. Manajemen juga harus kami selenggarakan secara akuntabel dan rekan-rekan kerja juga harus tetap bisa sejahtera.

Bagaimana peran Penerbitan – Percetakan ini di masyarakat umum?

Pen-Per Kanisius merupakan anggota IKAPI (Asosiasi Penerbit di Indonesia), dan Ikatan Grafika Indonesia, juga asosiasi yang lain di tingkat daerah maupun nasional. Maka selain kewajiban kami untuk memberikan laporan perkembangan penerbitan maupun percetakan kepada asosiasi, kami juga selalu mendapat informasi tentang perkembangan dunia penerbitan maupun percetakan di Indonesia, termasuk informasi tentang bahan baku misalnya kertas dan tinta, termasuk lem dan lainnya.

Seringkali kami menerima permohonan dari sekolah atau kelurahan (RW/RT) untuk bantuan buku-buku untuk mengisi perpustakaan mereka. Kanisius memang banyak dikenal dalam dunia perbukuan baik pelajaran maupun non pelajaran. Misalnya Buku Pelajaran Agama Katolik mendapatkan rekomendasi dari DikNas. Kanisius juga kerjasama dengan Perpustakaan Daerah untuk menyuplai buku.

Indikasi yang paling obyektif adalah Toko-toko Buku Kanisius yang kerap dikenal dengan Taman Komunikasi Kanisius, cukup banyak dikunjungi tamu untuk mencari buku-buku umum non pelajaran dan non Gereja. Buku-buku referensi yang banyak dicari. Buku untuk anak termasuk yang banyak diminati, selain cerita anak-anak juga buku kegiatan misalnya Mewarnai dan Pernik-pernik yang lain sebagai alat bantu pendidikan.

Peluang dan tantangan apa yang Kanisius hadapi di masa pandemi ini? Bagaimana strateginya menghadapi peluang dan tantangan yang ada?

Selama dua tahun ini kami memang dikejutkan dengan Pandemi Covid 19. Hampir semua lini bisnis apapun dan dimana pun terdampak. Banyaknya karyawan yang harus di PHK, banyak perusahaan yang terpaksa tutup dan sebagainya. Per-pen Kanisius juga mengalami dampak ekonomi maupun bisnisnya.

Kendati demikian, kami tidak mengira bahwa pandemi ini memungkinkan banyak lompatan teknologi dan kreativitas yang baru. Lompatan teknologi ini justru membuka peluang yang sangat luas akan adanya pelayanan dan bisnis baru. Kegiatan-kegiatan yang semula berbiaya tinggi menjadi tidak berbiaya seperti webinar, bahkan bisa menjangkau wilayah yang lebih luas. Transaksi bisnis bisa dilayani melalui daring, begitu juga dengan pertemuan-pertemuan rutin.

Dalam refleksi kami, selama tahun 2020 -2021 kegiatan manajemen dan kegiatan bisnis bisa kami lalui dengan baik. Perusahaan memenuhi tanggung jawabnya kepada rekan kerja, demikian juga rekan kerja memenuhi hak dan tanggung jawabnya kepada perusahaan, sehingga baik di tahun 2020 maupun tahun 2021 ini kami tutup tahun dengan kondisi yang baik dan sehat.

Nah itulah yang selalu kami kaitkan semuanya ini sebagai campur tangan Allah, karena ini semua adalah Providentia Dei. Allah akan selalu menyertai dan ikut serta bekerja bila kita juga bekerja dengan tulus dan baik dan melibatkan Allah dalam karya yang kita kerjakan. Allah akan membiarkan kita bila kita tidak optimal dan tulus dalam bekerja.

Bagaimana Kanisius mengevaluasi dirinya untuk masuk ke wilayah digital? Adakah rencana-rencana yang dibuat setelah menginjak usia 100 tahun ini?

Kanisius mau tidak mau harus masuk dalam arus teknologi, dan mulai berkalkulasi dengan mesin-mesin yang baru. Selain sudah banyaknya mesin cetak digital dengan segala variasi dan hasilnya, namun daya awetnya sebuah produk dengan mesin baru masih belum tertandingi dengan mesin lama. Alih teknologi digital printing menolong banyak customer menikmati hasil produk karena percepatan pelayanan dan teknologi digital print semakin lama semakin disempurnakan. Maka yang diunggulkan dalam perkembangan digital printing ini adalah performance produk dan percepatan pelayanan.

Pen-Per Kanisius juga secara bertahap mengevaluasi mesin percetakannya untuk mendukung proses produksi menuju ke era digital. Pen-Per Kanisius telah memiliki beberapa mesin digital meskipun sebagian masih belum sangat modern, bahkan masih ada mesin manual. Maka yang kami ingin terus layani adalah menjaga mutu atau kualitas penerbitan termasuk isi buku yang diterbitkan oleh Pen-Per Kanisius. Bukan semata-mata kuantitasnya dengan mencetak banyak tapi tidak laku, lebih baik mencetak barang yang berkualitas tapi bisa berdaya tahan lama dengan permintaan cetak ulang. “Make to order” bukan “Make to stock”.

Kawasan pengolahan limbah PT Kanisius

Di samping itu daya baca masyarakat Indonesia belumlah tinggi. Buku yang diminati masyarakat sekarang umumnya format tipis dan banyak gambarnya. Pasarnya juga customized (terbatas). Maka pilihan tim penerbitan juga semakin jeli bekerja sama dengan team pemasaran utk menimbang pasar.

Tantangan lain adalah buku digital. Pen-Per Kanisius sudah mendigitalkan sekitar seribu duaratusan lebih judul buku dan sudah kerjasama dengan beberapa marketplace dan e-book store, namun kalau dilihat dari sisi perkembangan bisnisnya, model marketplace maupun e-book belum sangat menjanjikan. Orang menggunakan gadget lebih banyak untuk hal lain dan belum banyak untuk simpan atau baca buku.

Harapannya?

Per-Pen Kanisius berkembang mengikuti arah zamannya, tetap berpegang pada spiritualitas karya, bahwa ini adalah Providentia Dei, Allah berkarya di dunia penerbitan dan percetakan ini, dan kami adalah alat-Nya. Instrumentum cum Deo Conjunctum dan bekerja bersama Allah untuk melaksanakan tugas perutusan-Nya.

Karina Chrisyantia/Felicia Permata Hanggu

HIDUP, Edisi No. 03, Tahun ke-76, Minggu, 16 Januari 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here