Telor yang Memeriahkan Paskah dan Legenda Maria Magdalena

87
4.9/5 - (7 votes)

HIDUPKATOLIK.COM – HARI sudah sore, hampir pukul empat. Jalanan komplek sepi, maklum hari Minggu. Kami menggandeng dua putri kami yang masih TK, berjalan menuju rumah seorang warga sepuh di lingkungan kami.

Di jalan kami berjumpa dengan beberapa saudara seiman yang tujuannya sama. Kami saling mengucapkan Selamat Paskah. Hari itu memang Minggu Paskah dan kami sama-sama mendapat undangan acara perayaan Paskah wilayah.

Rumah yang kami tuju, tergolong besar. Terletak di huk, sehingga halamannya juga besar. Untuk acara-acara spesial, seperti Paskah, Natal, atau Misa peringatan santa pelindung lingkungan/wilayah, tuan rumah sering mengizinkan rumahnya dipakai.

Umat yang hadir ketika acara-acara ini, umumnya lebih dari seratus orang.  Jadi memang butuh tempat yang besar. Tentu ada juga rumah lain dan bahkan gedung sekolah yang pernah ketempatan. Kekompakan kami sebagai warga satu wilayah sangat kental. Hal yang harus disyukuri.

Seperti sore itu, saat acara dimulai, sudah banyak warga baik dewasa maupun anak-anak yang hadir. Suasana riuh tak terhindar. Anak-anak kami sudah tak sabar dengan acara permainan mencari telor Paskah.

Puluhan telor ayam rebus yang dihiasi berbagai aneka warna dan gambar, telah disebar tersembunyi di seantero rumah dan seputar halaman.

Setelah ibadat singkat, maka dimulailah keseruan acara mencari telor Paskah. Puluhan anak-anak mulai dari yang masih terhuyung saat berlari sampai mereka yang sudah usia SMP.

Mereka berlarian ke sana ke sini, berusaha menemukan telor Paskah.

Dalam waktu singkat, terdengar dari berbagai sudut, seperti saling bersahutan, teriakan girang anak-anak karena menemukan telor.

Anak kecil, setelah menemukan satu telor, lari kembali ke orang tuanya, tersenyum bangga sambil menunjukkan telor berhias di tangannya.

Sedangkan anak-anak yang lebih besar, setelah menemukan satu telor akan lanjut mencari telor-telor lainnya, berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin.

Kami orang dewasa tersenyum kadang tertawa lepas melihat tingkah anak-anak yang lucu dan penuh gembira. Momen-momen yang terjadi dua puluhan tahun lalu, sungguh tak terlupakan.

Kisah Maria Magdalena

Terkait telor Paskah, belum lama ini saya membaca satu tulisan yang menarik. Konon telor Paskah berawal dari kisah Maria Magdalena yang mengajukan protes ke Roma mengenai pengadilan tak adil yang diterapkan kepada Yesus. Karena protes ini, Pontius Pilatus dipanggil ke Roma untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Maria Magdalena bukanlah wanita kebanyakan. Dia adalah wanita berada dan terhormat, dikenal baik oleh kalangan elite Roma.

Maria dari Magdalena ini awalnya berprofesi sebagai dukun, namun kebablasan sampai dikuasai oleh tujuh roh jahat. Yesus menolong Maria (bdk Luk. 8:2).

Setelah itu Maria memutuskan menjadi pengikut Yesus. Ia benar-benar ikut kemana pun Yesus pergi, bahkan menjadi salah satu penyandang dana bagi kebutuhan Yesus dan para murid. Maria menjadi saksi mata proses pengadilan, kematian di atas salib,  bahkan hingga kebangkitan Yesus.

Tak lama setelah menjadi saksi kebangkitan, Maria berangkat ke Roma. Di hadapan pejabat istana yang memeriksa laporannya, Maria menceritakan semua kejadian tak adil yang dialami Yesus.

Ketika itu, Maria membawa sebuah telor. Di akhir kesaksian, Maria berkata, bila kesaksianku benar, biarlah telor ini menjadi merah, bagai disiram darah Yesus yang tercurah dari luka-luka-Nya. Benar saja, telor perlahan berubah menjadi merah.

Kisah Maria Magdalena ini mungkin hanya legenda, sulit dibuktikan kebenarannya. Namun ada kisah yang lebih dapat dipercaya, karena diperkuat penelitian para ahli. Beberapa ahli sejarah memperkirakan tradisi terkait telor ini bermula dari bangsa Anglo-saxon.

Mereka selalu mengadakan festival untuk menyambut musim semi. Merayakan alam yang mulai hidup kembali setelah tidur selama musim dingin, maka telor sebagai lambang kelahiran baru dibagikan dan dimakan bersama.

Gereja mengadopsi tradisi ini, karena Paskah selalu hampir bersamaan dengan awal musim semi.  Telor  dimaknai  sebagai Kristus yang bangkit dan hidup baru. Kulit telor yang keras melambangkan kubur Yesus. Ketika kulit telor dipecah, laksana batu pintu kubur yang terbuka.

Ada hal lain yang memperkuat mengapa telor menjadi bagian tak terpisah dari Paskah.

Gereja Eropa pada abad pertengahan melaksanakan pantang daging secara ketat selama masa pra-paskah. Termasuk tidak boleh makan telor.

Maka selama Prapaskah, telor-telor yang dihasilkan hanya bisa disimpan. Baru pada saat Paskah, telor-telor ini dimakan bersama dan dibagikan.

Untuk memberi kemeriahan Paskah, telor dihias warna-warni dan dijadikan hadiah untuk anak-anak. Tradisi menghias telor lebih kuat ditemui di Gereja Ortodoks dan Gereja Katolik Timur, hingga hari ini. Hiasan mereka begitu indah.

Selain dihias, juga dijadikan permainan berburu telor dan menggulingkan telor. Tradisi menggulingkan telor, sebagai kiasan batu kubur Yesus yang terguling, masih dilakukan hingga saat ini.

Yang terkenal adalah tradisi menggulingkan telor pada Senin setelah Paskah di halaman Gedung Putih. Ini sudah berlangsung sejak 1878. Siapa yang berhasil menggulingkan telor paling jauh sebelum pecah, dia yang menang.

Tradisi telor Paskah ini ikut diperkenalkan oleh para misionaris dari Eropa ke berbagai bangsa, termasuk Indonesia.

Maka hingga sekarang, acara keseruan ini dapat terus kita nikmati. Biasanya di gereja-gereja setelah misa Minggu Paskah, umat tidak langsung pulang.

Mereka beracara untuk kegembiraan anak-anak. Sayangnya selama dua tahun masa pandemi, tradisi ini terpaksa tidak dijalankan. Semoga Paskah tahun ini, sudah ada gereja-gereja atau komunitas yang mengadakan. Sudah selayaknya kita merayakan Paskah secara lebih meriah sehingga menjadi sukacita tak terlupakan.

Fidensius Gunawan, Kontributor, Alumni KPKS Tangerang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here