Ketum MTQ Provinsi Maluku 2022, Romo Simon Petrus Matruty: Kita Semua Bersaudara

46
Rate this post

HIDUPKATOLIK.COM– ROMO Simon Petrus Matruty (48 tahun) tak pernah menyangka akan diberi kepercayaan untuk menjadi ketua umum (Ketum) perhelatan sebesar Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Provinsi Maluku. Wakil Uskup Amboina untuk Kabupaten Kepulauan Tanimbar (KKT) dan Maluku Barat Daya (MBD) ini pun tak bisa mengelak saat namanya disodorkan untuk menjadi Ketum Panitia Pelaksana MTQ ke-29 Tingkat Provinsi Maluku 2022 Maret di Saumlaki, KKT, 17-24 Maret 2022.

“Proses saya menjadi Ketum dimulai dari undangan bupati KKT kepada para tokoh agama Islam, Katolik, dan Protestan yang menyampaikan bahwa KKT akan jadi tuan rumah MTQ ke-29. Bupati beharap agar salah satu tokoh agama menjadi Ketum. Kami bermusyawarah saat itu. Saya didaulat sebagai Ketum, Ketua Klasis GPM Tanimbar Selatan sebagai Ketua Harian, dan Ketua MUI Tanimbar Selatan sebagai wakil.  Hasil musyawarah itu dijadikan dasar Pemda memfasilitasi penyusunan panitia. Susunan panitia direkomendasikan dan diusulkan ke Gubernur Maluku,” ujar Romo Simon, sapaannya, kepada HIDUP.

Walau tak punya pengalaman sama sekali, Romo Simon tak bisa berkelit lagi. “Karena ini atas permintaan Pemda dan didaulat oleh para pemimpin agama dalam musyawarah, saya tidak bisa mengelak lagi.  Selain itu, ini kesempatan strategis bagi saya membangun persatuan antartokoh agama.  Kesempatan juga bagi kami sebagai mayoritas warga KKT menunjukkan komitmen toleransi dan kebangsaan kepada Maluku dan Indonesia secara umum bahwa tidak ada halangan untuk hidup bersaudara, membangun toleransi dan menunjukkan komitmen kebangsaan. Kesempatan juga memberi warna kepada dunia akan hakikat jati diri imam dan umat sebagai terang dan garam dunia,” paparnya.

Romo Simon berharap MTQ ini dapat menjadi role model untuk MTQ ataupun event keagamaan lain di seluruh Indonesia tentang toleransi dan rasa persaudaraan sebagai sesama anak bangsa jauh lebih penting daripada perbedaan-perbedaan yang ada. Perbedaan jangan menjadi penghalang hidup dalam persaudaraan.

“Semoga bangsa Indonesia menjadi bangsa yang kian menjunjung tinggi persaudaraan. Kita semua manusia yang bersaudara, walupun berbeda-beda tetapi kita tetap satu. Pancasila sudah menjadi dasar negara yg mempersatukan semua perbedaan itu,” ujar Romo Simon dari Tanimbar.

Awalnya Romo Simon memang mengaku merasa gugup karena tidak  pernah mengikuti event MTQ namun merasa dikuatkan karena didukung oleh semua elemen masyarakat Maluku. “Saat itu saya berjanji untuk berbuat yang terbaik bagi saudara-saudari saya yang Muslim,” timpalnya.

Romo Simon juga mengucap syukur atas kepercayaan tersebut. “Kesempatan itu menjadi momen penting! Saya telah tunjukkan kepada saudara-saudari Muslim bahwa saya dan semua umat agama Katolik, Protestan dan agama lain bukan musuh umat Muslim melainkan saudara yang harus saling melindungi dan membantu. Muslim bukan ancaman bagi kami. Kami bukan ancaman bagi Muslim,” pungkasnya.

FHS

HIDUP, Edisi No. 15, Tahun ke-76, Minggu, 10 April 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here