Uskup Samarinda, Mgr. Yustinus Harjosusanto, MSF: Kesaksian Hidup

208
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Renungan Minggu, 15 Mei 2022 Minggu Paskah V, Kis.14:21b-27; Mzm.145:8-9, 10-11, 12-13ab; Why.21:1-5a; Yoh.13:31-33a, 34-35

DALAM Injil hari ini Yesus memberi perintah baru, yang juga adalah perintah utama, yaitu supaya murid-murid-Nya saling mengasihi, sama seperti Ia telah mengasihi mereka. Dalam perintah itu terdapat catatan yang menegaskan bahwa semua orang akan tahu bahwa mereka adalah murid-murid Yesus, jikalau  mereka saling mengasihi.

Benarlah bahwa identitas seseorang atau kelompok akan dikenal sungguh-sungguh dari tindakan, bukan dari perkataan atau pernyataan. Hidup saling mengasihi akan menampakkan identitas murid Yesus yang sesungguhnya. Kepada murid-murid-Nya Yesus pun menegaskan bahwa mereka adalah terang dunia dan meminta agar terang mereka bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatan baik para murid dan memuliakan Bapa di surga (Bdk. Mat. 5:16).

Paulus dan Barnabas berkeliling mewartakan Injil, terutama tentang Kristus yang adalah Juru Selamat bagi semua bangsa. Di mana pun datang dan tinggal, selain mengajar dan memberi nasihat atau peneguhan, mereka memberi kesaksian sebagai bagian dari pewartaan.

Berkunjung ke pelbagai tempat tanpa kenal lelah.  Kesaksiannya tidak  dimaksudkan untuk menyombongkan diri, melainkan membuktikan bahwa tugas pertusannya dilakukan dengan sebaik-baiknya dan di situlah letak kekuatan dan kewibawaan pewartaannya.

Cara  hidup jemaat perdana seperti digambarkan dalam Kis. 2: 41-47 sangat mengesan dan menarik banyak orang. Pada akhir perikop itu disampaikan bahwa mereka disukai semua orang dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan (Kis. 2:47).

Paus Paulus VI melalui Anjuran Apostolik Evangelii Nuntiandi (EN) menegaskan bahwa Injil lebih-lebih harus diwartakan melalui kesaksian. Melalui kesaksian hidup, seperti saling memahami dan menerima, berbagi, setia kawan dengan sesama, melakukan hal-hal yang baik dan luhur akan dilihat orang dan memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang menggelitik setiap hati, tanpa bisa dihalangi seperti, apa yang menyebabkan mereka seperti itu, mengapa mereka hidup secara itu, apa atau siapa yang mengilhami, dan lain-lain.

Kesaksian hidup itu sudah merupakan suatu pewartaan Kabar Baik secara diam-diam, sangat berpengaruh dan efektif. Semua orang Kristen dipanggil untuk memberi kesaksian itu, dan dengan cara demikian menjadi penginjil-penginjil sejati. (Lih. EN No. 21).

Tanda-tanda zaman yang menunjukkan bahwa banyak orang telah jenuh dengan kata-kata dan lebih tertarik pada kesaksian telah dibaca oleh Paulus VI 47 tahun yang lalu dengan mengingatkan: “Manusia modern lebih senang mendengarkan kesaksian daripada para pengajar. Dan bila mereka mendengarkan para pengajar, hal itu disebabkan karena para pengajar itu adalah saksi-saksi.” (EN no. 41).

Perlu diingat bahwa pewartaan secara lisan atau tulisan tetap penting sebagai cara menyampaikan isi iman kepada yang belum mengenal dan menambah pemahaman bagi mereka yang telah mengenal iman Kristen, namun kesaksian hidup tetap diperlukan bahkan menjadi pewartaan yang amat efektif.

Peringatan itu masih relevan dan bahkan semakin perlu mendapat perhatian serius dalam pewartaan kita. Hidup saling mengasihi tidak hanya sebatas cita-cita dan dipegang sebagai keyakinan, melainkan mesti diwujudkan dalam kehidupan. Di tengah zaman yang ditandai dengan semangat balas dendam, mesti ditampilkan kesaksian hidup yang menujukkan sikap dan tindakan memaafkan.

Makin maraknya hidup dalam kelompok eksklusif, mesti makin digelorakan semangat dan praktik hidup inklusif yang terbuka dan merangkul siapapun.  Di tengah gencarnya promosi hidup primordialistis yang mengotak-ngotakkan diri harus dikembangkan hidup bersama secara terbuka dan bersaudara dengan siapapun, tanpa pandang latar belakang suku, ras, golongan dan agama.

Makin gaduhnya aneka informasi yang banyak berisi hoaks, bahkan ujaran kebencian, perlu ditingkatkan kemampuan untuk mengekang diri, berlaku bijak dan tidak terpancing untuk ikut arus yang merugikan itu. Ketika bisa tetap mengasihi, meskipun dimusuhi, memaafkan orang yang jelas bersalah, bahkan telah terbukti di pengadilan. Kita justru berharap pertanyaan-pertanyaan muncul ketika kita hidup di luar arus besar zaman ini.

Untuk mengembangkan semangat dan praktik hidup semacam itu, diperlukan inisiatif dan tidak menunggu datangnya ajakan pihak lain. Awal bulan Mei yang lalu, ada kelompok-kelompok yang berinisiatif menunjukkan sikap bersaudara dengan saudara-saudari yang sedang merayakan Idul Fitri dengan menyalami, mengunjungi dan bersilahturahim.

Berkenaan dengan sikap itu sepuluh tahun sebelum Paus Paulus VI menyampaikan Anjuran Apostolik EN, KonsiliVatikan II melalui dekrit Ad Gentes telah menyampaikan “Supaya kesaksian mereka akan Kristus dapat membuahkan hasil, hendaklah mereka dengan penghargaan dan cinta kasih menggabungkan diri dengan sesama, menyadari diri sebagai warga masyarakat di lingkungan mereka, dan ikut dalam kehidupan budaya dan sosial melalui aneka cara pergaulan hidup manusiawi dan pelbagai kegiatan (AG 11).

Pasti ada sebagian warga masyarakat yang mempertanyakan tindakan itu, dan berprasangka kurang baik. Menghadapi tantangan itu, usaha baik itu mesti terus dilakukan sampai muncul kepercayaan bahwa semua tindakan baik kita itu dilakukan dengan tulus.

“Kesaksian hidup itu sudah merupakan suatu pewartaan …”

HIDUP, Edisi No.20, Tahun ke-76, Minggu, 14/5/2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here