Momen Merajut Semangat Kebersamaan

11
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – PERAYAAN Hari Raya Idul Fitri selalu menyita perhatian kita. Bukan terutama karena hiruk pikuk yang menyertainya seperti mudik tapi lebih pada esensi perayaan ini. Perayaan ini tak lagi hanya milik umat Muslim tapi juga menjadi ‘milik’ kita yang non-Muslim. Saling mengunjungi, mengucapkan salam sudah merupakan tradisi yang berlangsung lama. Bahkan tak jarang kita mendengar buka bersama yang diikuti oleh non-Muslim di pelbagai tempat. Orang-orang non-Muslim malah menyediakan makanan untuk berbuka puasa. Pemandangan dan suasana yang begitu kental dengan semangat kebersamaan sebagai sesama anak bangsa yang dibalut oleh warna keberagaman alias kebhinnekaan.

Momen Idul Fitri tahun ini akan berbeda dari dua momen Idul Fitri sebelumnya. Saat kita masih dibekap oleh Covid-19. Kini situasinya sudah jauh berbeda. Kendati belum pulih secara tuntas, namun pemerintah telah memberikan izin untuk melakukan mudik atau perayaan kebersamaan. Tentu saja, syarat dan ketentuan prokes tetap beralaku. Tujuannya adalah agar kita semua, tanpa kecuali, terlindungi dari penyebaran Covid-19 yang masih mungkin terjadi. Jangan sampai terjadi lagi kenaikan.

Di level global, perayaan Idul Fitri juga menjadi perhatian Paus. Paus selalu mengirim pesannya melalui Dewan Kapausan untuk Dialog Antarumat Beragama. Pesan itu mengandung makna yang mendalam. Sebuah pesan yang mengisyaratkan bahwasanya perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk menjalin persaudaraan sejati. Sebaliknya, setiap momen besar keagamaan harus dijadikan menjadi jembatan untuk seling menyapa dan meningkatkan semangat kebersamaan.

Selain merajut semangat kebersamaan, momen ini juga mengandung pesan yang kuat, yaitu semangat solidaritas dengan orang-orang yang kurang diperhatikan, disingkirkan, atau berpotensi untuk dipinggirkan, kaum disabilitas, pengungsi, dan lain-lain. Mengingat situasi saat ini, karena pandemi, keadaan secara ekonomi juga memprihatinkan bagi banyak orang. Sementara di sejumlah wilayah juga masih diwarnai konflik atau peperangan seperti Rusia versus Ukraina. Jutaan warga Ukraina terpaksa harus meninggalkan negaranya untuk menyelamatkan diri dari ancaman perang. Anak-anak, perempuan, dan lansia menjadi korban. Hal ini pun tak bisa kita lupakan sebagai ungkapan solidaritas kita sebagai sesama manusia.

Kembali ke dalam negeri, pesan kuat yang dapat kita tangkap dari perayaan Idul Fitri ini adalah meningkatkan tali silaturhami atarumat beragama. Kembali kepada kesucian hati kita. Benih-benih intoleransi, radikalisme, dan terorisme harus dikubur dalam-dalam. Sebaliknya kita perlu menumbuhsuburkan semangat toleransi. Tindak kekerasan yang dilakukan pihak-pihak tertentu pada kelompok-kelompok minoritas harus menjadi keprihatinan kita bersama. Para pendiri bangsa telah memberi kita titik temu untuk mempersatukan kita, yaitu konstitusi. Konstitusi yang dengan jelas memberikan kita panduan ke arah mana bangsa dan negara ini akan berjalan.

Saling mengulurkan tangan dan menikmati suasana kebersamaan momen Idul Fitri ini kita jadikan momen untuk merayakan bersama semangat keindonesiaan kita.

HIDUP, Edisi No.19, Tahun ke-76, Minggu, 8 Mei 2022  

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here