KOTAK ABU

41
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – WAKTU baru beberapa menit lepas dari pukul 06.00. Sepagi ini sepasang lelaki dan perempuan tampak duduk di depan kotak abu di koridor II. Hem, aku mengenali sosok lelaki itu.

Lelaki itu adalah Chandra, suami Lilin. Lilin Alfadita adalah perempuan yang pernah bersemayam di hatiku.

Lima tahun lalu, aku datang ke resepsi pernikahan Lilin dan Chandra. Aku menyalami sepasang pengantin itu. “Selamat ya Chandra. Selamat ya Lin,” itu saja yang sanggup kuucapkan.

Setelah itu perempuan ayu yang kupacari hampir satu Pelita itu berangsur-angsur mengelupas dari ingatanku.

Namun pagi ini, begitu aku melihat Chandra, sosok Lilin kembali hadir.

Di kamar kos, aku bersiap lelap. Waktu sudah melewati pukul 22. Tiba-tiba ponselku bergetar. Walau terang biji mataku tersisa lima watt saja, kubuka layar ponselku. Ada pesan WA dari nomor tak kukenal. Kulihat PP-nya. Oh, si Lilin. “Met malam,” itu saja pesannya. Aku biarkan. Dan aku pun terlelap hingga pagi.

“Pagiiiii…” itu pesan WA dari Lilin pagi ini. Hanya kubaca, lalu aku mandi, dan berangkat ke tempat kerja.

Dari ujung koridor II aku menatap sepasang lelaki dan perempuan itu lagi. Tiba-tiba lelaki itu menoleh ke arahku. Oh, syukur Puji Tuhan, dia tidak kaget. Dia tidak mengenaliku. Atau pura-pura tidak mengenaliku ya?

Aku melangkah pergi dari kolumbarium. Kutapaki jalan yang menghubungkan gedung-gedung jangkung bercat putih. Sebentar aku berhenti di jembatan kecil yang melengkung di atas kolam. Melihat ke bawah, tampak ikan-ikan nila berkecipak ria.

Dari gazebo di tengah kolam, aku memandang gedung-gedung bercat putih. Walau semua bergaya Eropa, tampak masing-masing berbeda arsitekturnya. Ada Griya Oase, Krematorium, Kolumbarium, dan Mortuarium.

“Santo…,” aku menoleh. Lelaki itu memanggilku. Kutinggalkan gazebo menuju ke arahnya.

“Kamu Santo kan?” dia menyebut namaku.

“Benar. Kamu Chandra?” balik aku bertanya.

“Apa kabar, Santo?” tanyanya lagi.

“Kabar baik. Bagaimana kabarmu?” jawabku. Dia tersenyum.

“Kabarku baik. Lilin juga baik,” tuturnya, sambil terus memandangiku.

Dia sebut nama Lilin. Sempat aku mau bertanya tentangnya, namun kutahan. Ada perempuan itu di sebelahnya.

“Kamu masih mengenaliku, padahal aku pakai masker?” tanyaku.

“Ah gak mungkin aku lupa kamu,” jawabnya singkat. “Seperti juga Lilin yang gak mungkin melupakanmu,” lanjutnya terkekeh.

“Ah, sudahlah,” jawabku pelan. Mengapa dia mesti sebut nama Lilin sih.

“Kenalkan, ini Rima,” tutur Chandra. Chandra mengangkat tangan kanannya,  mempersilakan aku untuk menyalami Rima. Aku ulas senyum. “Santo,” ucapku. “Rima,” ucapnya.

“Baik Santo, aku pamit. Kita jumpa lagi nanti. Maaf nih, keburu siang. Aku jalan dulu ya,” ujar Chandra. Tangannya memegang lengan Rima, lalu menariknya.

“Oke, makasih. Sampai jumpa lagi,” jawabku, mengiringi kepergian mereka.

***

Pagi-pagi pesan Lilin masuk ke ponselku. Aku langsung mengenalinya karena nama itu sudah kusimpan lagi di phonebook. “Pagi…,” itu saja pesannya.

Sapaanmu hari-hari ini benar-benar tak kuharapkan. Tapi mengapa sapaan itu hadir lagi dan lagi. Ada apa denganmu? Tidak bahagiakah kamu bersama Chandra?

Ponselku bergetar, Lilin lagi.

“Hai, Santo!” suara Lilin dari seberang meninggi. Aku kaget.

“Iya ada apa, Lin?” Jawabku.

“Terkesimakah kamu dengar suaraku?”

“Eh, apa pedulimu?” jawabku ketus.

“Pedulilah. Aku prihatin loh. Mengapa dirimu keterusan menyendiri?” tanya Lilin lagi. Asem, dia tahu aku tetap single.

“Bukan urusanmu!” sahutku ketus.

“Yaelaaah, mau masuk tarekat lagi?”

“Sepertinya begitu,” jawabku sekenanya.

“Profisiat deh. Sudah mantapkah, tarekat mana?”

“OCSO..”

“Oh, masuklah. Kayaknya cocok jadi pertapa,” lanjut Llilin.

“Eh gaksah sok ikut campur ya, Nyonya Chandra !” sergahku.

“Baik, boleh aku tanya. Minggu lalu bertemu Chandra gak?”

“Oh, Chandramu lepas ya. Kenapa gak kamu ikat erat-erat di tiang rumahmu?” hi hi sadis juga nih pertanyaanku. Lilin malah tertawa lepas. “Dia bukan domba yang harus kukandangi. Chandra itu suami yang sangat setia,” ucap Lilin, ringan. (Preeet, batinku)

“Eh, kamu ketemu Chandra gak?”

“Iya, aku bertemu suamimu. Dia sendirian ke sini,” ah, mengapa aku berbohong.

“Hei, kamu pasti bohong. Chandra pasti tidak sendirian. Tapi bersama perempuan kan?” Oh, Lilin tahu. Ya buat apa berbohong kalau begitu. Tak perlu aku menjaga hatinya.

“Iya, dia bersama perempuan. Perempuan itu bukan kamu. Namanya Rima,” akhirnya aku bilang apa adanya. Tak terdengar ada nada kaget atau marah dari Lilin. Dia malah tertawa. Edan.

“Baiklah. Terima kasih infonya. Sampai jumpa ya.” Klek. Lilin menutup teleponnya.

Percakapan dengan Lilin membuatku tak segera lelap malam ini. Lilin yang sudah ‘terkubur’, seolah-olah bangkit lagi. Hiii, menakutkan.

***

Paginya Chandra datang lagi. Masih bersama Rima.

“Teganya kamu khianati Lilin. Berlipat penyesalanku merelakan Lilin bersamamu!”

“Hem…” Chandra malah mengulas senyum. Dia melirik Rima. Rima mengangguk.

“Eh, begini Santo. Boleh ya aku titip Rima. Aku ada urusan sebentar. Nanti aku kembali jemput Rima. Oke, makasih Santo, aku pergi dulu,” ucap Chandra, langsung ngeloyor ke mobil. Brengsek.

“Mas Santo, yuuk antar aku ke kotak abu!” ajak Rima.

“Oh, silakan!”

Kuiringi Rima berjalan menuju kotak abu di koridor II. Melewati kantor admin aku meminta petugas kolumbarium untuk menyiapkan lilin dan tempat membakar dupa.

Di depan kotak abu, Rima khusuk berdoa. Di dalam kotak abu ada sebuah guci berwarna pink, berdampingan dengan foto lelaki berbingkai 10 R. Mungkin almarhum ini adalah suami Rima. Rima selesai berdoa. Dia membalikkan badan, lalu tersenyum  untukku.

“Beliau suamiku. Bulan lalu dipanggil Bapa karena Covid-19. Aku titip setahun dulu di sini,” tutur Rima menjelaskan, walau tak kuminta.

“Oh, terus kapan dilarung?” tanyaku.

“Belum Mas. Aku belum mau jauh dari dia,” jawabnya.

“Oh baik,” kataku singkat.

Rima kuajak ke kantin di gedung krematorium menunggu Chandra datang.

Belum mengobrolkan banyak hal, ketika Chandra menghentikan mobilnya di depan lobi. Dia dada-dada dari belakang kemudi.

“Yuuuk!” Aku ajak Rima mendekat. Rima langsung membuka pintu dan duduk di samping Chandra.

“Terima kasih Santo sudah mau menemani Rima. Sampai jumpa ya,” ujarnya.

Aku merebahkan tubuh dengan keras ke tempat tidur. Rasanya gak terima Chandra mempermainkan aku seperti ini. Dia mempertontonkan pengkhianatannya kepada Lilin di depan mataku. Apa maksud Chandra meminta aku menemani si janda itu? Mana Lilin malah cengengesan. Mengapa ia tidak nangis-nangis di depanku?

Ponselku bergetar. Pesan WA masuk. Walah dari Lilin.

“Malam. Boleh telep?” Itu pesannya. Aku diamkan.

Tut..tut..tut, eh dia ngebel.

“Hallo, ya!” ucapku.

“Nih, ada yang mau bicara,” ucapnya.

“Hallo, maaf malam-malam kuganggu. Terima kasih tadi sudah temenin Rima,” ini suara Chandra. Edan, dia menyebut nama Rima di samping istrinya. Siapa sih Rima?

“Ini Chandra mau minta tolong,” ujar Lilin menimpali. Rupanya mereka open mike.

“Oya, apa yang bisa kubantu?” sahutku.

“Rima pengin bikin Misa 40 hari meninggalnya si Kokoh, mendiang suaminya. Bisakah memakai ruang doa di tempatmu itu?”

“Oya, bisa…bisa. Nanti kuatur deh. Dengan romo siapa?”

“Yaaa sekalian dicariin romo ya!” pintanya.

“Siap. Pasti kucariin. Ada beberapa romo yang biasa melayani di tempat kami,” jawabku.

Sip deh, terima kasih banyak Santo. Met malam, met tidur ya,” yang ini suara Lilin. Pengin kujawab, terima kasih sayang, met tidur juga. Ha ha edan.

Misa peringatan 40 hari mendiang suami Rima berlangsung di ruang doa Griya Oase. Chandra hadir bersama Lilin dan anaknya. Rima sendirian.

Ayah dan ibu Lilin turut hadir. Calon mertuaku yang gagal itu kaget melihatku.

Usai Misa, Lilin mendekati. Ia bercerita, “Waktu Kokoh meninggal karena covid, aku dan Chandra sedang di Amerika. Begitu dapat kabar kami langsung pulang, tapi kena karantina seminggu. Jadi tidak datang waktu Kokoh dikremasi,” jelas Lilin

“Oh, Rima itu siapanya Chandra?” tanyaku.

“Rima itu adik iparku. Berarti adik kandung Chandra. Mereka dua bersaudara,” jelasnya.

“Oh, oke,” sahutku. Aku mengangguk-angguk sambil tersenyum.

“Titip Rima ya!” ujarnya, sambil mengerlingkan mata padaku.

Oleh Anton Sumarjana

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here