Suster Romeka Situmorang, SS.CC: Ke Mana Saja, Kami Siap untuk Melangkah

48
5/5 - (1 vote)

HIDUPKATOLIK.COM – Dengan semangat  “Bersyukur, Berakar, dan Berbuah”, perayaan 25 tahun hadir di Indonesia menjadi momentum bagi Suster SS.CC.

KONGREGASI SS.CC didirikan di Perancis pada malam Natal tahun 1800 oleh Pierre Coudrin dan Henriette Aymer de la Chevalerie. Kongregasi SS.CC terdiri dari cabang: biarawan, biarawati, dan awam. Para suster dari Hawaii, Spanyol dan Perancis tiba di Bandung, Indonesia pada tanggal 15 Mei tahun 1997 sebagai tanggapan atas undangan para pastor SS.CC yang lebih dahulu berkarya di Indonesia.

Suster SS.CC memilih untuk berpakaian sederhana dan tanpa jubah karena kebutuhan misi. Selain menanggapi kebutuhan gereja setempat, Suster SS.CC  juga mewartakan kasih Allah kepada semua orang yang kurang mampu, tanpa terkecuali, dan tidak memandang latar belakang. Selain itu, para calon anggota diharapkan mempunyai pengalaman bekerja paling sedikit selama setahun.

Sejak tahun 2000, setelah menempati rumah pertama Biara Suster SS.CC, para suster mulai berkarya untuk warga kawawan Blok Beas, Bandung, bernama  Komunitas Pondok Aymer. Kemudian pada tahun 2008, komunitas baru kedua dibuka di Yogyakarta  bernama Komunitas Maria Ratu Damai dan pada tahun 2011 Suster SS.CC memulai komunitas baru ketiga di Batam, bernama Komunitas Henriette. Seperti apa perkembangannya di Indonesia? Berikut nulikan wawancara dengan  Koordinator Suster SS.CC Asia, Suster Romeka Situmorang, SS.CC, Kamis, 2/6/2022.

Seperti apa pengalaman Suster Romeka berkarya bersama Suster SS.CC?

Tahun 2000 saya bergabung di Kongregasi ini. Sebelumnya saya kerja di Batam dan bertemu dengan seorang imam SS.CC yakni Pastor Rolf Friedrich Joseph Reichenbach, SS.CC, akrab dikenal dengan Pastor Rolf dan kemudian menjadi pembimbing rohani saya. Beliau memang tidak pernah mempromosikan Suster SS.CC tapi lebih bercerita. Saya tertarik dengan Devosi kepada Hati Kudus Yesus dan Maria.

Saya rutin bimbingan rohani, sebulan sekali. Lalu ikut retret panggilan. Saat itu menuliskan intensi: saya ingin menjadi suster. Pastor Rolf pernah bilang, jangan malu-malu kalau Tuhan sudah memanggilmu. Ketika itu, hati saya berkobar-kobar dan memantapkan keputusan saya untuk bergabung dengan Suster SS.CC.

Selama hidup membiara, ada kalanya jatuh bangun dan di situ saya merenungkan masa ketika Yesus berada di dunia, dari lahir hingga wafat kemudian bangkit.

Bagaimana perkembangan Suster SS.CC di Indonesia?

Sepengalaman saya sebagai yang pernah dibimbing oleh lebih dahulu berkarya di Indonesia, khususnya, Pastor Rolf berperan besar dalam panggilan para Suster.  Bagi saya, Pastor Rolf sangat religius, yang diungkapkan itu dari Roh Kudus. Beliau meninggal di tahun 2014. Tidak sedikit anggota Suster SS.CC yang sebelum bergabung dibimbing oleh Pastor Rolf. Setelah Pastor Rolf meninggal, kami sadar panggilan berkurang. Mungkin butuh figur juga.

Anggota kami terbilang sangat kecil, dari 1997 sampai saat ini, kami ber-18 orang.
Di satu sisi saya bangga, Suster SS.CC hadir di Indonesia menjadi yang termuda. Anggota sedikit but counted by the Lord.

Karya kami di Indonesia itu turun ke “pasar”, bersatu dengan masyarakat. Paus Fransiskus meminta kita untuk melayani tanpa batas. Salah satunya di Bandung, kami punya PAUD Hati Kudus yang dipimpin oleh Sr. Kristina. PAUD ini diprioritaskan bagi mereka yang berkekurangan.  Kami mengembangkan pelayanan kami lebih luas di Dusun Gantang, Magelang, Jawa Tengah. Pelayanan ini sudah berjalan sejak tahun 2012.
Di Batam,  kami berkolaborasi dalam pelayanan pastoral maupun menanggapi kebutuhan Gereja setempat. Seperti bekerja sama dnegan Cabang SS.CC Putra di rumah retret, pemdampingan orang muda, mengajar agama dan sebagainya. Kami juga mendampingi kaum perempuan. Melayani lewat panggilan hati, di mana Gereja membutuhkan, kami siap.

Apa pemaknaan tema yang diambil untuk 25 Tahun Suster SS.CC ini?

Kami mengambil tema “Dengan hati berlimpah syukur, kami semakin berakar dan berbuah dalam Kristus” (Bdk. Kol. 2 : 7)

Berlimpah syukur artinya adar akan cinta dan belas kasih Tuhanlah yang memampukan Suster SS.CC hidup dan berkarya sampai hari ini, terwujud lewat orang-orang yang mendukung dan ikut ambil bagian dalam karya Suster SS.CC.

Kemudian, semakin berakar. Pada logo terdapat gambar akar juga, yang artinya fondasi kedalaman iman dan dedikasi kita berakar pada Kristus. Kami terbilang masih muda, masih banyak ruang dan waktu untuk terus bertumbuh dan memperbaiki diri, terus memperdalam iman dan dedikasi bagi Tuhan dan sesama.

Serta, semakin berbuah, harapannya semakin banyak karya yang bisa dilakukan juga dengan cinta yang semakin besar, membawa cinta Allah kepada masyarakat.

Ada tiga daun berwarna hijau yang dimaksudkan adalah tiga Komunitas Suster SS.CC yang selalu penuh harapan untuk bertumbuh. 25 tahun adalah waktu yang wajib disyukuri. 25 tahun walaupun mungkin belum berbuah banyak. Jadi harapannya ada ranting-ranting yang belum berdaun itu diharapkan bertumbuh lagi. Kami ada harapan ada komunitas lain atau karya lain yang kami bisa kembangkan di mana semuanya berakar dalam Kristus.

Pelayanan seperti apa yang diberikan untuk para perempuan?

Kami mengawalinya di Bandung. Ada beberapa ibu-ibu yang datang ke susteran untuk pinjam uang karena harus bayar kontrakan atau menyekolahkan anaknya.  Maka, kami mulai dengan karya karitatif dan terbuka juga untuk pendampingan konseling  karena beberapa ada yang korban KDRT. Selain itu kami berikan pelatihan menjahit, membuat tas dan berbagai macam keterampilan.
Apakah dari Generalat ada masukan mengenai Suster SS.CC di Indonesia?

Sebetulnya komunitas di Indonesia bisa diandalkan dan Generalat melihat kami sudah bisa untuk menghidupi para anggota di Indonesia.  Kami dari Indonesia sangat proaktif untuk mencari jalan di mana kami bisa mandiri.

Untuk karya-karya, jika kami membutuhkan dana, selain mencari donatur kami juga meminta izin serta mengirimkan proposal kepada Generalat.   Kami aktif dan tidak hanya menunggu. Sebisa mungkin memgembangkan karya di Indonesia dan didukung oleh Genderalat.

Memasuki usia ke-25 tahuh,  Suster  SS.CC di Indonesia mempunyai inovasi atau karya yang akan dikembangkan?

Masih banyak pelayanan yang harus dijalankan walaupun melihat anggota kami hanya sedikit. Selalu mengawali dengan melayani orang miskin, option for the poor. Tawaran memang banyak, tapi kembali lagi tenaganya minim. Ada baiknya,  mengimbangi karya kami dengan suatu kerohanian dan juga menarik dengan rumah doa. Selain itu kami juga ingin mempunyai panti asuhan. Suster kami juga butuh pendampingan di era digital ini agar bisa mengikuti perkembangan zaman.

Pada tanggal 9 Juli 2022, bertepatan dengan perayaan Pesta Maria Ratu Damai, Pelindung Kongregasi SS.CC, akan diakan perayaan syukur bersama Bapak Uskup.

Usia 25 tahun adalah usia yang dewasa. Saya berharap siap untuk melangkah. Semakin siap menghadapi tantangan hidup dan apa yang menjadi panggilan sebagai Gereja. Lebih terbuka, tidak terkungkung dalam dirinya sendiri.

Karina Chrisyantia/Felicia Permata Hanggu
HIDUP, Edisi No. 25, Tahun ke-75, Minggu, 19 Juni 2022

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here